Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Warisan Radiesthesi Romo Loogman - Hidup Katolik

Warisan Radiesthesi Romo Loogman

Minggu, 2 Mei 2010 09:42 WIB
Warisan Radiesthesi Romo Loogman
[HIDUP/Angela Rianti]
Para pasien tengah menanti giliran pengobatan radiesthesi medik di Aula MSC, Jakarta Pusat, medio Maret 2010.

HIDUPKATOLIK.com - Yohanes Sudarno dan keluarganya terbenam dalam antrean panjang pengobatan radiesthesi medik di Aula Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC), Jl Kemakmuran, Jakarta Pusat, Jumat, 19 Maret 2010.

Hingga paruh hari tatkala hujan tercurah, gilirannya belum tiba. Sementara cucunya, Michael Mario, yang menyandang down syndrome mulai meronta. Serta-merta Sudarno mendekap bocah berusia tiga tahun itu dengan penuh kasih. Hari itu, ia menemani putri dan menantunya mengonsultasikan kondisi Mario kepada Romo Tarcisius Wignyosoemarto MSC.

Baru pertama kali itu mereka datang langsung ke pengobatan yang diselenggarakan oleh para ‘ahli waris’ mendiang Romo Handoyo Loogman MSC. Pengobatan ini disebut radiesthesi medik, yakni kepekaan menerima radiasi atau gelombang elektromagnetik guna mendiagnosis dan menentukan obat. Pengobatan berlangsung dengan memakai pendulum atau bandul.

Biasanya orangtua Mario berkonsultasi lewat dunia maya. Lalu, obat dikirim. “Kami membayar belakangan,” ungkap warga Paroki Kalvari, Bekasi ini. Hal itu mereka lakukan secara berkala sejak Mario berumur dua pekan.

Sudarno hanyalah satu dari sekian banyak orang yang telah mencecap manfaat pengobatan radiesthesi medik. Metode pengobatan yang dicanangkan oleh Romo Loogman ini berlangsung di Aula MSC Kemakmuran, Jakarta Pusat, setiap empat bulan sekali. Pengobatan serupa secara rutin berlangsung di Bogor, Bekasi, Tangerang, Cisarua, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, dan tentu saja di Purworejo, tempat Romo Loogman berkarya hingga akhir hayatnya.

Semasa hidupnya, Romo Loogman kerap mengemukakan bahwa ia tidak punya pretensi menyembuhkan penyakit. “Yang kami lakukan adalah membantu para pasien untuk perbaikan sejauh kami bisa,” tandasnya. Ia sungguh yakin, sepanjang Tuhan menghendaki seorang pasien sembuh, dia akan sembuh. “Kami hanya membantunya,” ungkap Romo Loogman dalam buku “Romo H. Loogman MSC, Dialog Penyembuhan dan Cuplikan Pengalaman” karya Pelibertus Jehani.

Menyalurkan sinyal
Romo Loogman baru menyadari talenta tersebut ketika ia berkarya di Paroki Hati Kudus Tegal, tahun 1972. Suatu hari ia bertemu Romo Cahyo Pr dari Muntilan yang dikenal sebagai penyembuh. Imam Praja Keuskupan Agung Semarang itu langsung berkomentar, “Pastor juga bisa, ayo mulai saja!”

Romo Loogman terhenyak mendengar pernyataan itu. Mungkin inilah jalan untuk mengulurkan pertolongan kepada umat yang sedang dililit penyakit. Seiring waktu, kemampuan Romo Loogman terus berkembang. Ia tidak saja menyalurkan sinyal-sinyal prana ke tubuh pasien, tetapi ia juga menelusuri sarana-sarana yang bisa dipakai untuk penyembuhan. Lalu, ia memberikan ramuan dari alam.

Imam kelahiran Haarlem, Belanda, 8 Januari 1937 ini sungguh yakin, alam memiliki kekuatan luar biasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Ia pun mencoba menyingkapnya dengan mendalami radiesthesi medik. “Saya belajar dan terus belajar pada alam untuk menguak rahasia dan kekuatannya,” ungkap Romo Loogman.

Misionaris yang tiba di Indonesia pada 1965 ini mengemukakan, ada banyak sarana yang digunakannya untuk mendeteksi penyakit. “Saya menangkap sinyal dari tubuh pasien. Lalu, saya mencari sarana penyembuhannya, bisa berupa jamu, alat netralisator, atau garam berkat,” paparnya. Ia memberikan obat sesuai sinyal tubuh pasien. Setiap resep bersifat individual dan situasional. “Meski penyakitnya sama, obat yang diberikan berbeda,” paparnya.

Sejak semula, Romo Loogman senantiasa bermurah hati membagikan keahliannya kepada puluhan orang yang berbakat: 23 di antaranya dokter, dua dokter gigi, satu dokter hewan, dan beberapa imam. Bahkan, mantan Uskup Denpasar Almarhum Mgr Vitalis Djebarus SVD juga serius mempelajari ilmu ini pada Romo Loogman.

Punya keprihatinan
Romo Tarcisius Wignyosoemarto MSC merupakan salah satu imam yang menjadi ahli waris keahlian Romo Loogman. Ketika bertugas di Paroki St Perawan Maria Purworejo pada pertengahan 2001, Romo Loogman memotivasinya untuk mempelajari radiesthesi medik. “Apalagi, Romo punya keprihatinan terhadap orang-orang kecil, susah, dan menderita,” tandas Romo Loogman mengingatkan.

Lantas, Romo Loogman memberikan pendulum dan buku Pedoman Dasar-Dasar Penggunaan Pendulum untuk dipelajari. Karena saat itu tugas-tugas sebagai pastor paroki menumpuk, Romo Wignyo belum fokus mendalaminya. Apalagi, Mei 2003 hingga Februari 2006, ia menjadi Pemimpin Skolastikat MSC di Fiji.

Sekembalinya dari Fiji, Romo Wignyo berhimpun dalam Pengobatan Alternatif Radiesthesi Medik Romo Loogman di Purworejo. “Saya belajar langsung pada Romo Loogman serta rekan-rekan imam dan pengusada lainnya,” ujarnya. Seiring waktu, keahliannya terasah. “Saya bersyukur boleh membaktikan diri dalam pelayanan ini,” ucap imam kelahiran Wonosobo, 10 Mei 1949 ini.

Melihat bakat
Imam MSC lain yang mendulang kemampuan radiesthesi medik adalah Romo Yohanes Purwo Dwiatmodjo. Tahun 1985, Romo Loogman melihat bakat imam kelahiran Purworejo, 10 April 1949 ini dari sorotan matanya yang tajam. “Ini sungguh anugerah Tuhan,” tandasnya.

Sesungguhnya minat Romo Purwo terhadap dunia medik mulai menyeruak saat ia berkarya di Mindiptana, pedalaman Papua. Keprihatinannya terusik melihat kondisi kesehatan masyarakat setempat. “Masyarakat di sana tidak mau berobat ke puskesmas karena harga obat kerap tak terjangkau,” kenangnya.

Kecenderungan masyarakat Mindiptana menggunakan ramuan herbal, membuatnya ingin mempelajari lebih dalam. Ia mulai memadukan pengobatan medis dan herbal. “Saya mengambil obat dari RS Bethesda Jayapura, lalu saya padukan dengan temulawak, jahe merah, dsb,” tuturnya.

Sekembali dari Papua, Romo Purwo berguru pada Romo Loogman. “Menurut Romo Loogman, sebelum pengobatan kami perlu berdoa terlebih dahulu untuk membawa pasien ke hadirat Tuhan,” tegasnya.

Satu rumah
Selain Romo Wignyo dan Romo Purwo, Romo Fransiscus Xaverius Swibaktata MSC juga memperoleh warisan radiesthesi medik dari Romo Loogman. Tahun 1981, mereka tinggal satu rumah di Purworejo. Karena kerap jatuh sakit, ia memperoleh jamu dari Romo Loogman. Pengalaman ini menorehkan ketertarikan di hatinya untuk mempelajari pengobatan ala Romo Loogman. Tahun 1985, ia mulai tertantang menyembuhkan dirinya sendiri.

Ternyata, keinginannya mendalami radiesthesi medik tercegat oleh penugasan Kongregasi MSC. Tahun 1996, ia studi Kitab Suci di Filipina. Selanjutnya, tahun 1999-2004, ia bertugas di Darwin dan Sydney, Australia. Tahun 2002, Romo Loogman menyambanginya di Negeri Kanguru. “Romo Loogman sudah ingin beristirahat. Beliau menawari saya kembali ke Tanah Air,” kenangnya.

Namun, tawaran itu tak membebani benaknya hingga Provinsial MSC mendedasnya. Di penghujung 2004, setelah berpikir panjang, Romo Swi menerima tawaran berharga itu. Setibanya di Tanah Air, ia mulai serius menggali radiesthesi medik. Sejak itu pula, imam kelahiran Klaten 16 Juli 1954 ini intensif melakukan pengobatan bersama Romo Wignyo dan Romo Purwo, serta beberapa awam.

Menurut Romo Swi, metode ini tergantung pada kekuatan radiesthesi masing-masing individu. “Karena kemampuan magnetik setiap orang berbeda,” jelasnya. Ia yakin, alam telah menyediakan semua sarana penyembuhan. “Pada umumnya pengobatan herbal tidak mempunyai efek samping,” lanjutnya. Dalam pengobatan, Romo Swi menggunakan campuran jamu, obat China, obat generik, urut, senam, dan prana. Kendatipun Romo Loogman telah tiada, pasien radiesthesi medik tak beringsut. Keberadaan Romo Wignyo, Romo Purwo, Romo Swi, dkk tampaknya bisa mengurangi rasa kehilangan pasien akan kepergian “guru besar” radiesthesi medik itu untuk selamanya.

Maria Etty,
Peliput: Angela Rianti, Maria Etty





Kunjungan: 5753
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com