Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Seminari Tinggi St Petrus Ritapiret: Seminari di Bukit Angker - Hidup Katolik

Seminari Tinggi St Petrus Ritapiret: Seminari di Bukit Angker

Rabu, 22 Agustus 2012 11:46 WIB
Seminari Tinggi St Petrus Ritapiret: Seminari di Bukit Angker
[HIDUP/RB Yoga Kuswandono]
Seminari Tinggi St Petrus Ritapiret, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur.

HIDUPKATOLIK.com - Jika Tuhan berkehendak, tempat yang paling angker pun dapat berubah menjadi tempat yang suci dan semarak dengan lagu-lagu pujian kepada-Nya. Inilah yang terjadi di Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Bulan lalu, saya sempat berkunjung ke tempat pendidikan para frater diosesan dari tiga keuskupan di Flores ini. Ketika saya bertanya pada penduduk setempat, di mana letak Seminari St Petrus mereka terlihat kebingungan. Namun, begitu saya menanyakan Seminari Ritapiret, mereka langsung tahu. Ternyata, orang biasa menyebut sekolah ini dengan nama Seminari Ritapiret ketimbang Seminari St Petrus.

Saat saya mendatangi tempat ini, Sabtu, 3/4, para frater seminari tinggi sedang merayakan Misa Sabtu Suci bersama umat. Mereka bersemangat mengalunkan nada-nada doa yang terangkai dalam lagu-lagu pengiring Misa saat itu. Suara mereka ditingkahi tetabuhan perkusi khas Flores, riangnya bunyi tuts organ, dan petikan gitar. Ini semua membuat Perayaan Ekaristi lebih meriah dan umat pun terhanyut dalam kegembiraan Malam Paskah.

Saat itu, saya juga ikut terbawa suasana hingga tak menyangka dulunya tempat ini punya sejarah unik. Ritapiret diambil dari nama Rita, pohon besar yang tumbuh di bukit tempat seminari ini berdiri. Daerah ini kemudian dikenal dengan nama Bukit Rita yang angker. Dalam bahasa setempat, masyarakat menyebutnya Bukit Rita yang Piret (angker).

Justru di tempat angker inilah, dibangun tempat pendidikan calon imam. Seminari yang berdiri tanggal 8 September 1955 ini dibangun sebagai tanggapan atas meluasnya wilayah misi Gereja Katolik di Flores dan banyaknya penduduk setempat yang tertarik memeluk iman Katolik. Pohon Rita yang dulu tumbuh menjulang tinggi di bukit itu telah tiada. Sekarang, tepat di tempat Pohon Rita berdiri, dibangun sakristi dan salib besar sebagai pusat seluruh Perayaan Ekaristi.

Perlu proses
Seperti umumnya seminari-seminari lain, tantangan yang terus-menerus dihadapi Seminari Ritapiret adalah soal peminat. Jumlah imam yang masuk tidak pasti. Selalu berfluktuasi. Pastor Praeses (pemimpin) Seminari Ripiret Ewaldus Sedu Pr mengatakan, kadang jumlah siswa yang masuk sekitar 30. “Namun, sekarang bisa sampai 40. Kadang banyak kadang sedikit,” jelasnya.

Proses pembinaan para frater juga merupakan hal yang tak bisa dianggap remeh. Membina berbagai karakter siswa dari latar belakang berbeda membutuhkan perhatian sendiri. Gaya mendidik di rumah berbeda dengan gaya mendidik di seminari.

Menanamkan semangat hidup sederhana, saling melayani, dan kebersamaan dengan sesama teman menjadi satu tahap pembentukan tersendiri yang memerlukan waktu lama. Hal ini terjadi karena kebanyakan calon imam berasal dari keluarga kecil bahkan ada yang jadi anak tunggal. “Sehingga, latihan hidup bersama dalam satu komunitas besar menjadi kesulitan tersendiri yang harus dapat dihadapi setiap siswa,” ujarnya.

Untuk menghadapi hal ini, para pembina seminari merancang satu kegiatan bersama yang melibatkan para siswa.” Dalam membentuk karakter pribadi per pribadi, kami tidak mau terjebak kembali pada masa lalu yaitu pendampingan masal yang kurang menekankan perhatian pada pendampingan personal di seminari ini,” ujarnya.

Karena itulah, para pastor pendidik di seminari ini membagi-bagi jenjang pendidikan. Jenjang pertama yaitu Tahun Orientasi Rohani (TOR). Tahap ini diperuntukkan bagi para siswa yang baru saja masuk seminari. “Rumah tempat TOR terpisah dari seminari yaitu di Lela, Maumere,” timpalnya. Kemudian, ada tahap pendidikan filsafat. Di sini, para siswa bersekolah di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero yang jaraknya kira-
kira 500 meter dari Seminari Ritapiret.

Setelah berhasil menempuh pendidikan filsafat, para siswa diharuskan menjalani semacam kerja praktik di paroki maupun di seminari-seminari menengah sekitar Flores. Lalu, mereka kembali menjalani pendidikan lanjut yaitu pendidikan teologi di Ledalero. Setelah lulus, mereka diperkenankan menjadi diakon sebagai jenjang akhir menjadi seorang imam.

Kesulitan biaya
Kesulitan lain yang juga terus dihadapi seminari ini adalah masalah pembiayaan. “Kami hidup lebih banyak bergantung dari subsidi Propaganda Fide di Vatikan, Roma, yang dari tahun ke tahun jumlahnya semakin menurun,” ungkapnya. Para uskup dari tiga keuskupan di Flores – Larantuka, Maumere, dan Ruteng - juga memperhatikan hal ini. Tiap tahun, masing-masing keuskupan memberikan bantuan.

Pastor Ewal – sapaannya – mengatakan, sebenarnya dahulu ada donatur dari luar negeri yang rutin mengirim bantuan. “Tetapi, sekarang banyak yang sudah tidak bisa lagi melakukan hal tersebut,” imbuhnya. Selain jumlah kebutuhan biaya hidup harian asrama yang besar, biaya pendidikan di STFK Ledalero juga tak kalah besarnya.

Menghadapi hal ini, pihak keuskupan mengambil kebijakan, orangtua harus berperan aktif dalam proses pendidikan anaknya di seminari. Mereka diharapkan membiayai sendiri biaya kuliah anaknya di seminari. Sementara, biaya asrama tetap digratiskan.

Menangani para calon imam yang datang dari berbagai keuskupan dengan ciri khas budaya yang berbeda-beda menjadi perhatian tersendiri. Pastor Ewal berkata,” Kami berusaha mendidik siswa di sini agar selalu memperhatikan kondisi aktual umat Katolik di keuskupan asalnya.”

Oleh karena itu, para pastor pendidik yang berasal dari tiga keuskupan mempunyai jadwal sendiri untuk bertemu dengan para siswa membahas situasi di masing-masing keuskupannya. “Hal ini juga didukung situasi pendidikan di Ledalero yang sangat memperhatikan konteks umat di masing-masing keuskupan dengan permasalahan-permasalahan yang muncul. Diharapkan, setelah menjadi imam, mereka dapat bekerja dengan satu sikap menghadapi umat di keuskupannya,” jelasnya.

Ternyata, bagaimanapun sulitnya tantangan yang dihadapi, seminari ini tetap bertahan. Terbukti, pada 8 September 2005, di tengah berbagai keterbatasan yang ada, seminari ini tetap dapat merayakan pesta emasnya. Seminari Ritapiret sendiri telah melahirkan beberapa uskup yang dulu pernah menjadi praeses seminari dan seminaris. Beberapa di antara mereka adalah Uskup Bali Mgr Silvester San Pr, Uskup Ruteng Mgr Hubertus Leteng Pr, dan Uskup Maliana Timor Leste Mgr Norberto do Amaral Pr.

RB Yoga Kuswandono




Kunjungan: 2398
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com