Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Meski Muslim, Dalami Musik Liturgi - Hidup Katolik

Meski Muslim, Dalami Musik Liturgi

Jumat, 24 Agustus 2012 14:39 WIB
Meski Muslim, Dalami Musik Liturgi
[HIDUP/A.Nendro Saputro]
Avip Priatna

HIDUPKATOLIK.com - Siapa yang tak kenal Avip Priatna, konduktor kampiun Indonesia? Hidupnya dicurahkan untuk kemajuan dunia paduan suara di negeri ini. Meski Muslim, ia sangat menyukai musik liturgi Gereja Katolik.

Bahkan, ketika bersekolah di sebuah sekolah Katolik di Bogor, ia mendapat nilai tertinggi untuk pelajaran Agama Katolik.

Jumat, 14/5 pagi, saya menyambangi tempat kerjanya, Studio Resonanz di Jalan Daksa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Studio ini biasa ia gunakan melatih paduan suara, mengajar anak-anak hingga orang dewasa bernyanyi tunggal dan bermain musik.

Teduh dan nyaman. Itulah kesan pertama, ketika saya memasuki tempat ini. Halaman depannya dipenuhi rerimbunan pohon dan riuhnya kicauan burung. Sangat jauh dari bising dan polusi kendaraan bermotor yang biasa menyesaki Kota Jakarta.

Saya memasuki ruangan yang cukup luas dengan sebuah piano besar di sudut kirinya. Di kanan dan kiri ruangan itu tersebar beberapa kertas reportoar lagu paduan suara yang ditulis dalam not balok. Pria kelahiran Bogor, Jawa Barat, 29 Desember 1964 ini berkenalan dengan dunia paduan suara sejak kanak-kanak.

Avip mengatakan, ”Saya tertarik dengan dunia paduan suara sejak masih anak-anak. Ibu saya juga aktif ikut paduan suara di Departemen Pertanian. Kebetulan ayah saya menjadi pegawai negeri di sana, sehingga ibu bisa ikut jadi anggota paduan suaranya.”

Kentalnya nuansa paduan suara makin memberi warna hidupnya karena ia bersekolah di sekolah swasta Katolik. Ia kerap melihat beberapa paduan suara mengiringi Misa dan ikut bernyanyi bersama mereka. ”Saya tumbuh di sekolah yang kultur imannya berbeda dengan yang saya anut,” ujarnya.

Terkait dengan pengalamannya bersekolah di sekolah Katolik, ia menceritakan satu hal yang sampai sekarang masih berkesan dalam hidupnya. ”Waktu saya kelas tiga, saya mendapat nilai tertinggi untuk pelajaran Agama Katolik. Kepala sekolah heran, mengapa saya bisa mendapatkannya, padahal saya ini Muslim,” kisahnya sembari tersenyum.

Ketika menginjak remaja dan harus melanjutkan pendidikan, Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan Bandung, menjadi pilihannya. Di sini, ketertarikannya pada dunia paduan suara makin tajam. Ia menjadi anggota Paduan Suara Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan.

Hatinya tergugah mencurahkan hidup demi perkembangan paduan suara, karena ia melihat kenyataan, waktu itu paduan suara masih dipandang sebelah mata. “Saat itu, masyarakat masih menganggap, paduan suara baru bisa dipakai untuk acara tujuh belasan dan acara Gereja saja,” ungkapnya.

Di sisi lain, Indonesia punya banyak sekali materi lagu yang bagus untuk dibuat aransemen paduan suara. Namun, belum banyak orang yang mengetahuinya. “Waktu itu, lagu-lagu rakyat yang sekarang sudah diaransemen begitu bagus juga diperdengarkan. Namun, pengolahan lagunya belum digarap serius. Umumnya masih diiringi piano saja dan materi musiknya belum kaya seperti sekarang,” jelasnya.

Akhirnya, ia memutuskan mendalami musik dan dunia paduan suara lewat jalur pendidikan formal. ”Saya ingin mendapat dasar pengetahuan yang pasti tentang segala hal yang menyangkut dunia paduan suara. Walau suara saya kurang bagus, tetapi saya ingin mendalaminya,” tukasnya.

Dalam benaknya, potensi Indonesia yang cukup bagus di bidang paduan suara sangat sayang untuk dibiarkan begitu saja. “Suara orang Indonesia itu khas, indah, dan merdu,” ujarnya.

Avip berkenalan dengan seorang teman yang menuntunnya bertemu dengan Duta Besar Austria. “Saya merasa keinginan saya ini direstui dan ada yang menunjukkan jalan menuju ke sana,” imbuhnya.

Tak diduga, keinginannya mendalami paduan suara mendapat tanggapan positif. Ia diminta melamar ke sebuah Universitas di Austria dan akhirnya ia diterima di tempat itu sekaligus mendapat beasiswa belajar. ”Saya senang, banyak orang membantu saya. Jika saya sendirian yang berusaha mewujudkan cita-cita ini, tentu jalannya tidak semudah ini,” kisahnya.

Avip belajar ilmu paduan suara dan musik pada Profesor Gunther Theuring dan Leopold Hager di Hochschule fur Muzick und Darstellende Kunst Vienna, Austria. Ia lulus pada tahun 1998 dengan predikat memuaskan. Selama di Austria, ia bergabung dengan banyak kelompok kor prestisius dan pernah menjadi asisten konduktor di Wiener Jeunesse Choir.

Di Austria, ia berkenalan dengan musikus-musikus internasional dan kelompok paduan suara dari berbagai negara di belahan Eropa. “Di sana, saya mendapat segalanya yang terbaik. Semua pengetahuan terbaik tentang dunia musik dan paduan suara saya dapatkan di situ. Pada event musik tertentu yang diselenggarakan di Vienna, musisi terbaik Eropa selalu ikut berpartisipasi memberikan karya terbaiknya. Demikian juga dengan kelompok-kelompok paduan suara. Jadi, tidak hanya paduan suara dan musikus lokal yang tampil tapi juga internasional,” ungkapnya.

Di universitas ini, materi musik yang ia dapatkan makin kaya dan beragam. Di situ, ia mulai berkenalan dan memahami musik liturgi Gereja. Ia bercerita, ”Saya dapat bermacam-macam reportoar lagu. Saya juga sering tampil di gereja membawakan lagu-lagu Misa sebagai praktik tugas kuliah. Saya semakin mengakrabi dan mendalami musik Gereja. Ada gregorian, ordinarium, dan sebagainya. Akhirnya, saya melihat reportoar musik Gereja itu sangat kaya dan enak didengar.”

Avip menyenangi musik liturgi karena tertarik dengan maksud si pencipta mengarang lagu tersebut. “Mengapa lagu ‘Lux Aeterna’ diciptakan dan digubah dengan nada yang begitu sulit? Mengapa lagu liturgi yang lain bisa semegah itu? Mengapa penciptanya bisa mengarang syair dalam lagunya seperti itu? Nah, pertanyaan-pertanyaan ini menarik buat saya,” ujarnya.

Ia melihat, musik liturgi Gereja sebagai sebuah mahakarya komponis luar negeri dan ekspresi seni yang sangat indah dan bagus. “Lagunya keren banget,” celetuknya. Hal ini membuatnya tertarik menggeluti reportoar lagu-lagu klasik yang bernuansa rohani ini. Ketika pulang ke Indonesia, ia membaktikan diri di almamaternya menjadi pelatih Paduan Suara Mahasiswa Universitas Parahyangan.

Kebiasaannya mendalami lagu-lagu Gereja tidak ia tinggalkan. Justru makin ia dalami. Bahkan, ia sempat membawa kelompok paduan suaranya yang notabene terdiri dari beragama suku dan latar belakang agama bernyanyi keliling Eropa. Reportoar lagu yang mereka nyanyikan antara lain lagu-lagu liturgi Gereja.

Terkait hal ini, ada pengalaman unik yang sempat ia alami. “Waktu itu, kami sempat bernyanyi untuk Misa di Gereja Milan Italia. Semua orang terkejut karena paduan suara yang saya pimpin tidak semuanya Katolik. Ada yang Kristen, Buddha, bahkan Muslim. Mereka tidak habis pikir mengapa kami bisa mempelajari lagu ini dan menyanyikannya dengan baik. Banyak media Italia memuat profil kami dan berita tentang kelompok kami tersebar luas di Italia,” kisahnya.

Baginya, latar belakang agama yang berbeda bukan jadi alasan seseorang tidak bisa menyanyikan lagu rohani dari agama yang berbeda. “Musik bisa mempersatukan semua dan mengatasi sekat-sekat perbedaan yang ada. Entah itu agama, usia, pekerjaan, jenis kelamin. Musik itu universal dan dapat dinikmati semua orang tanpa harus memikirkan identitas yang ia punyai,” tegasnya.

Bahkan, ia tidak keberatan jika diminta melatih paduan suara Gereja Katolik. Avip pernah didapuk melatih beberapa kelompok paduan suara Gereja. “Semuanya saya lakukan dengan profesional. Niat saya satu, memajukan dan mengembangkan dunia paduan suara di Indonesia,” tambahnya.

Lahir :
Bogor, Jawa Barat, 29 Desember 1964

Pendidikan :
• Teknik Arsitektur Universitas Parahyangan
• Choir conduction dan Orchestral
• Conducting di Hochschule fur Muzick und Darstellende Kunst di Vienna, Austria

Penghargaan :
Bersama Paduan Suara Mahasiswa Universitas Parahiyangan :
• Juara pertama dan juara interpretasi terbaik lagu wajib pada The Dutch International Choir Festival di Arnheim, Belanda (1995)
• Juara pertama kategori Lagu rakyat pada lomba kor Guido d’Arezzo di Arezzo, Italia (1997)
• Memperoleh tiga medali emas pada Olimpiade Kor di Linz, Austria (2000)
• Juara pertama dan juara interpretasi lagu sakral terbaik pada Kompetisi Paduan Suara Kamar di Marktoberdorf, Jerman (2003)

Bersama Batavia Madrigal Singers :
• Juara pertama dan juara interpretasi lagu Perancis terbaik pada Kompetisi Paduan Suara di Tours, Perancis (2001)
• World Choral Symposium di Kyoto, Jepang (2005)
• Taipei International Choir Festival di Taipei, Taiwan (2005)
• Festival Paduan Suara La Fabrica del Canto di Legnano, Italia (2006)

Penampilan Intenasional
Bersama Batavia Madrigal Singers :
• Polyfollia Choral Festival di Normandy, Perancis (2002)
• Taipei International Choir Festival di Taipei, Taiwan (2004)
• Polyfollia Choral Festival di Normandy, Perancis (2006)
• Macau International Music Festival di Makau (2006)

RB Yoga Kuswandono




Kunjungan: 2388
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com