Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Tantangan Pendidikan Moral Sekolah Katolik - Hidup Katolik

Tantangan Pendidikan Moral Sekolah Katolik

Minggu, 6 Juni 2010 11:26 WIB
Tantangan Pendidikan Moral Sekolah Katolik
[NN]
Pendidikan moral sekolah dan universitas Katolik benar-benar gagal total, jika lulusannya justru menjadi penjaga sistem yang tidak adil dan koruptif.

HIDUPKATOLIK.com - Tanggal 1 Juni 2010, genap 50 tahun Universitas Katolik Atma Jaya bertahan di jantung Kota Jakarta dengan reputasi yang amat membanggakan umat Katolik Indonesia.

Bagi umat Katolik Indonesia, Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta merupakan sebuah produk zamannya. Universitas ini didirikan dengan sebuah optimisme besar. Dia, juga beberapa universitas Katolik lain, bisa dilihat sebagai puncak karier kerasulan umat Katolik di bidang pendidikan.

Di sisi lain, umat Katolik juga membangun organisasi-organisasi sosial, seperti Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia (PMKRI), Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), Pemuda Katolik (PK), Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), lembaga-lembaga profesi seperti Kompas, Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (LPPM), Bina Swadaya, dan rumah sakit. Mereka tersebar di seluruh pelosok Tanah Air.

Melalui lembaga dan organisasi tersebut, umat Katolik Indonesia dapat mengambil bagian dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Generasi muda umat Katolik dewasa ini boleh berbangga bahwa mereka adalah keturunan generasi yang percaya diri.

***

Melihat perkembangan sosial dan politik lima puluh tahun lalu, pendirian Universitas Katolik Atma Jaya tidak lepas dari persoalan eksistensi orang Katolik di tengah pergulatan bangsa ketika itu. Kondisi tersebut menuntut para tokoh Katolik mulai dari Pastor Van Lith, Mgr A. Soegijapranata SJ, I.J. Kasimo hingga Frans Seda untuk semakin yakin bahwa kegiatan umat Katolik dalam bidang apa pun harus berfokus pada persoalan-persoalan bangsa.

Dalam bidang pendidikan, para tokoh Katolik berkeyakinan bahwa tugas Gereja memiliki napas yang sama dengan tugas negara untuk mencerdaskan bangsa. Dengan visi seperti itu, pendidikan Katolik Indonesia ini menjadi daya tarik bagi setiap anak bangsa.

Berbekalkan Ajaran Sosial Gereja, para tokoh Katolik semakin yakin bahwa hanya dengan keterlibatan dalam masyarakat mereka dapat diterima sebagai warga negara Indonesia karena peranannya yang besar dalam banyak bidang. Mereka tidak lagi dilihat sebagai orang asing karena agama yang dianutnya.

Pendirian sekolah-sekolah Katolik merupakan sebuah bentuk penegasan bahwa orang Katolik ada di bumi pertiwi dan dapat memberikan peranan besar pada kepentingan Tanah Air. Tekad untuk Gereja dan Tanah Air merupakan semangat zaman yang tidak ada duanya.

Sekurang-kurangnya ada tiga agenda yang mendapat perhatian para pengelola pendidikan Katolik. Pertama, sudah dari awal sekolah Katolik dibangun dengan orientasi pada pengetahuan dan kebenaran. Para pendiri sekolah Katolik yakin bahwa ilmu pengetahuan merupakan pintu masuk ke dunia objektif, pintu masuk untuk melihat kebenaran.

Pendekatan ini memiliki efek kultural yang besar. Sekolah Katolik dilihat sebagai agen modernisasi. Kepercayaan masyarakat pada sekolah Katolik berangkat dari keyakinan ini. Dengan membuka cakrawala masyarakat Indonesia pada dunia dan masyarakat, pendidikan Katolik mendorong anak bangsa untuk mendalami realitas alam dan masyarakat demi kesejahteraannya. Pengetahuan tentang alam memungkinkan anak bangsa dapat mengolah alamnya secara bertanggung jawab.

Agenda kedua adalah pendidikan nilai. Sekolah-sekolah Katolik memahami bahwa realitas sosial bukanlah kenyataan objektif yang statis, melainkan selalu berubah-ubah, bergantung pada nilai dan kepentingan. Karena itu, pendidikan Katolik mengajak setiap orang untuk jujur terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam relasi sosial. Setiap orang yang dididik di sekolah Katolik sadar bahwa kepentingan dapat menghancurkan relasi sosial.

Kita tentu tidak dapat menggambarkan di sini pengaruh pendidikan nilai pada kehidupan masyarakat dewasa ini. Namun, jika kita membayangkan bahwa tokoh-tokoh Katolik dengan mudah dapat dipercaya di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, hal tersebut tentu karena sekolah-sekolah Katolik memiliki fokus pada pendidikan nilai dan kejujuran.

Agenda ketiga adalah pembentukan kepribadian. Pendidikan memiliki jangkauan kultural, yang mengantar setiap orang untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa harus menjiplak kepribadian lain. Dalam pendidikan Katolik, orang Jawa menjadi Jawa, Ambon menjadi Ambon, dan Batak menjadi Batak.

Setiap orang diajak untuk menjadi dirinya sendiri yang personal dalam relasinya dengan masyarakatnya. Penekanan pada disiplin didasarĀ­kan pada keyakinan filosofis bahwa anak bangsa harus dibentuk untuk menjadi dirinya sendiri dalam relasi kepercayaan dengan warga masyarakat lain.

Dengan tiga agenda ini, sekolah dan perguruan tinggi Katolik menjalankan tugas pendidikan dengan visi moral yang besar, yaitu agar setiap anak bangsa dapat menjadi dirinya sendiri, hidup dalam dunianya sendiri sambil menata kehidupan sosial yang terbuka. Disiplin ditegakkan agar setiap orang menjadi dirinya sendiri, kejujuran ditanamkan agar dapat dipercaya orang lain, dan pengetahuan atas fakta didalami terus-menerus agar dapat menjadi agen perubahan bagi masyarakatnya.

***

Setelah wafatnya Frans Seda, kepemimpinan Universitas Katolik Atma Jaya bakal dikendalikan generasi baru dengan orientasi yang bisa amat berbeda dengan para pendirinya. Waktu lima puluh tahun sudah lewat bersama para pendukungnya.

Tetapi, jejak semangat yang mereka tinggalkan tidak mudah dibaca dengan baik pada generasi baru yang memiliki konteks persoalan yang berbeda. Tekad untuk Gereja dan Tanah Air yang merasuk di bidang pendidikan, politik, bisnis, rumah sakit, dan komunikasi tidak banyak diterjemahkan dengan baik oleh generasi-generasi setelahnya.

Diskontinuitas ideologis tersebut amat terasa dalam dunia pendidikan Katolik. Pendidikan Katolik seakan-akan menghadapi krisis identitas. Bahkan, kita tidak lagi melihat ke mana dan di mana fokus keberpihakannya.

Jika Mgr Soegijapranata merumuskan dengan singkat fokus keberpihakan pada Indonesia yang terjajah, angkatan Katolik dewasa ini bahkan tidak tahu lagi apa inti persoalan bangsa kita dewasa ini. Dalam situasi seperti ini, para pengelola pendidikan Katolik lebih mudah nyontek apa yang dilakukan pihak-pihak lain daripada memikirkan sendiri fokus pendidikan Katolik.

Masa emas pendidikan Katolik seakan sudah berlalu. Sekolah Katolik tidak lagi menjadi sekolah unggulan. Sekolah dasar dan menengah di daerah yang sebelumnya dipandang sebagai pintu masuk ke masyarakat modern, sekarang barangkali harus menelan pil pahit kegagalan. Selain karena tidak mampu menjanjikan lulus ujian negara seratus persen, pendidikan sebagai dasar pengembangan kepribadian pun tidak lagi mendapat tempat dalam seluruh pengelolaan pendidikan.

Tuntutan perubahan tetap menjadi persoalan besar yang bisa memicu ketegangan yang luar biasa. Sayang, dalam menghadapinya, terkadang sekolah Katolik sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan teknis sederhana berkaitan kekurangan tenaga pengajar yang berkualitas serta ketidakmampuan dalam mengembangkan prasarana pendidikan yang memadai. Akibatnya, muncul sebuah ironi: semakin canggih prasarana pendidikan kita miliki dan semakin hebat kita memiliki keahlian, semakin tak berdaya kita mendidik anak-anak bangsa.

***
Sekitar 40 tahun lalu Romo Driyarkara SJ sudah berbicara tentang masalah pendidikan moral. Menjawab ironi tersebut di atas, ia mengusulkan agar sekolah Katolik, termasuk di sini universitas Katolik, membangun visi baru pendidikan Katolik. Visi baru yang dimaksud adalah menempatkan kembali pendidikan dalam konteks kebudayaan.

Gerakan globalisasi dewasa ini mendesak kita untuk melihat relevansi pemikiran Driyarkara ini. Dalam proses kebudayaan, demikian Driyarkara, pendidikan tidak lain dari sebuah usaha untuk menemukan, menginterpretasikan, dan bahkan membentuk diri manusia sebagai pencipta kebudayaan. Mengurusi pendidikan pertama-tama bukanlah mengurusi hal-hal teknis manajemen, tetapi memberikan seseorang orientasi konkret pada dunia kehidupan, membuat ia mampu mengintegrasikan dunia ke dalam dirinya dan sekaligus mengungkapkan dunia itu sendiri.

Saya sendiri melihat sudah saatnya sekolah dan universitas Katolik Indonesia menata kembali agenda pendidikannya berdasarkan visi ini. Selain meningkatkan keunggulan dalam ilmu dan teknologi, sekolah Katolik perlu memperhatikan dua hal. Pertama, menjadikan diri sebagai pusat bagi kebenaran-kebenaran penting, seperti hormat pada alam, kebebasan berpikir. Kedua, solidaritas dan kepemimpinan yang memiliki semangat preĀ­ferential option for the poor.

Dengan agenda ini, saya kira kita boleh berharap bahwa tamatan sekolah dan universitas Katolik yang terjun di dunia bisnis dan politik, dapat menjadi pelayan bagi banyak orang, terutama masyarakat miskin.

Sudah amat sering kita dengar bahwa tamatan sekolah dan universitas Katolik justru menjadi penjaga sistem yang tidak adil dan koruptif. Jika ini yang terjadi, maka pendidikan moral sekolah dan universitas Katolik benar-benar gagal total.

Mikhael Dua
Ketua Pusat Pengembangan Etika Unika Atma Jaya, Jakarta





Kunjungan: 728
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com