Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Pembela Orang Miskin dari Barabai - Hidup Katolik

Pembela Orang Miskin dari Barabai

Minggu, 27 Juni 2010 15:37 WIB
Pembela Orang Miskin dari Barabai
[Emanuel Dapa Loka]
Habib S. Ali Al Habsy

HIDUPKATOLIK.com - Pastor Vincentius Kirjito Pr tidak sendirian saat menerima MAARIF Award 2010. Ia bersama Habib Ali Al Habsy dari Martapura, Kalimantan Selatan. Siapakah dia?

Nama lengkapnya, Habib S. Ali Al Habsy. Ia adalah ulama. Sebagai pemuka agama Islam, ia sadar betul bahwa ia harus menunaikan ritual-ritual keagamaan yang diwajibkan. Bagi sosok kelahiran Barabai 15 September 1966 ini, menunaikan ibadat saja tidak cukup. Spirit keislaman harus diwujudkan juga dalam hidup sehari-hari. Ulama harus memerangi kemiskinan, memperjuangkan keberlanjutan lingkungan hidup dan masa depan bumi. Ulama harus membaca tanda-tanda zaman dan peka terhadap semua perubahan yang terjadi di negeri ini.

Perwujudan spirit keislaman pun harus jelas, yakni pembelaan dan pemberdayaan orang-orang miskin. Baginya, meskipun setiap orang berbicara dari sudut agamanya masing-masing, tetapi tidak bisa hanya berpatokan pada kebenaran agama masing-masing. Lebih dari itu, dalam kehidupan yang terbuka ini kita harus bertoleransi dan bersosialisasi untuk membangun budaya adil, menolong sesama manusia yang miskin dan tertindas. ”Jangan sampai kita tidur kenyang tetapi sesama kita yang lain hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. Ini kan zalim sekali,” ucapnya tegas.

”Pembelaan dan pemberdayaan masyarakat miskin” merupakan semangat hidup yang selalu membara dalam dirinya. Karena itu, setelah lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan 1991, Al Habsy menerjunkan diri dalam berbagai organisasi kemasyarakatan untuk membela dan memberdayakan masyarakat miskin. Setelah malang-melintang di berbagai lembaga swadaya masyarakat, lalu ia fokus pada pengembangan ekonomi mikro untuk masyarakat tertindas (mustadh’afin). Mereka yang didampingi adalah para pedagang di Pasar Sekumpul Martapura, komunitas pedagang kaki lima di Murjani dan Komunitas Pengajian Trotoar bagi anak-anak punk di Martapura.

Ali Al Habsy bermaksud memandirikan masyarakat miskin dengan kemampuan mereka sendiri. ”Sesungguhnya orang miskin mempunyai kekuatan untuk bangkit dan mandiri. Tetapi, selama ini mereka disepelekan sebagai kelompok masyarakat yang tidak bisa berbuat apa-apa. Diperparah lagi dengan kebijakan pemerintah yang selalu bergantung pada bantuan dana dari luar negeri. ”Kelemahan kita adalah tidak mandiri dalam banyak hal, terutama dalam keuangan. Maka, kita perlu punya kekuatan mandiri yang memberdayakan masyarakat,” katanya.

Nasabah lintas agama
Al Habsy mendirikan tujuh Baitul Mal wa Tamwil (BMT) atau lembaga keuangan mikro di Martapura dan Banjarmasin. Melalui tujuh BMT itu, Ketua Konsorsium Masyarakat Ekonomi Syariah ini membangun kemandirian ekonomi masyarakat. ”Dengan beberapa BMT itu, masyarakat miskin diarahkan agar bisa mengelola uangnya sendiri. Prinsipnya adalah dari mereka sendiri, uang mereka sendiri, lembaga mereka sendiri, dan pengelolaan mereka lakukan sendiri.”

Sebagian besar nasabah semua BMT yang didirikan adalah ibu rumah tangga dengan kategori ekonomi tidak mampu. Para nasabah itu dari berbagai agama. Melalui BMT-BMT itu, para nasabah tidak berseteru tentang kebenaran agama-agama yang mereka yakini, melainkan mereka bahu-membahu meningkatkan ekonomi rumah tangga dan menggapai kesejahteraan. ”Mimpi itu dimiliki oleh setiap orang. Persoalannya terletak pada kemauan tolong-menolong tanpa dibebani perbedaan agama dan etnis,” tegas Konsultan Program CERD Part B Micro Finance Kabupaten Banjar ini.

Upaya Al Habsy melampaui fanatisme agama yang seringkali ditiupkan oleh orang-orang fanatik, dipandang sebagai hal yang positif bagi Pengurus DPD WKRI Kalimantan Selatan, Antonina Ida. ”Habib Ali tidak fanatik. Ia terbuka dengan siapapun. Kami sering diskusi tentang masalah keagamaan dan kemanusiaan dengannya,” ujar Antonina.

Menanggapi penghargaan MAARIF Award 2010 yang dianugerahkan kepadanya, Habib Ali mengatakan, ”Apakah kawan-kawan dari Maarif Institute tidak salah memilih saya? Sebenarnya saya ragu. Sampai hari ini, saya masih gelisah mengikuti keinginan kawan-kawan di Maarif Institute dan panitia untuk menerima penghargaan ini,” katanya saat malam penganugerahan penghargaan di TIM, Kamis, 10/6.

Setelah melalui penelitian yang mendalam terhadap semua nominator, Dewan Juri MAARIF Award 2010 memutuskan bahwa Habib S Ali Al Habsy dan Romo Vincentius Kirjito Pr sebagai penerima penghargaan MAARIF Award 2010 atas kerja kemanusiaan, pembelaan, dan pemberdayaan masyarakat miskin di tingkat lokal yang telah mereka lakukan selama ini.

Alexander Aur




Kunjungan: 756
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com