Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Nonton Video Porno, Berdosa - Hidup Katolik

Nonton Video Porno, Berdosa

Kamis, 30 Agustus 2012 11:59 WIB
Nonton Video Porno, Berdosa
[ourhealthytips.blogspot.com]

HIDUPKATOLIK.com - Di tengah maraknya video porno para artis, apakah berdosa kalau kita menonton video porno itu? Bagaimana kalau kita menontonnya dengan suami atau istri sendiri?

Hadi Suyanto, 0816550xxx

Pertama, moral Katolik mengajarkan bahwa menonton video porno dengan tujuan membangkitkan hawa naf­­su dan menikmatinya adalah dosa. Hal ini melanggar kesucian seks yang diciptakan Tuhan untuk mengungkapkan cinta antara suami dan istri. Menonton video porno berarti mengobyekkan seks untuk kepuasan diri sendiri atau untuk mengumbar hawa nafsu. Menonton video porno tentu bertentangan dengan ajaran Yesus agar kita meneliti sebab-sebab dari dosa seawal mungkin dan memangkasnya. “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Mat 5:28). Dosa dalam pikiran itu bisa membawa kepada dosa perbuatan, artinya pornografi bisa menjadi pemicu untuk dosa-dosa berat lebih lanjut, yaitu pemerkosaan, hubungan seks di luar nikah, hubungan dengan pelacur, dan lain-lain.

Kedua, nonton bareng video porno oleh suami istri bisa sedikit mencegah kemungkinan penyelewengan perilaku seksual. Akan tetapi, apa yang terekam dari video porno itu pada ingatan baik suami atau istri kiranya tetap bisa menjadi pemicu ke arah pelanggaran kesetiaan antara suami istri. Artinya, kenangan akan apa yang ditonton tetap bisa mendorong seseorang untuk berselingkuh atau tidak setia. Dibutuhkan kekuatan kehendak yang luar biasa dan rahmat Tuhan untuk benar-benar bisa tetap ”bersih” dari pengaruh kejiwaan dari apa yang ditonton. Karena itu, sebaiknya hal ini tidak dilakukan.

Jika menyimak Mzm 51:7: ”Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” Apakah dosa asal itu adalah dosa seksual?

Clemensia Manuhutu, Yogyakarta

Kisah Penciptaan menunjukkan bahwa perbedaan seksual itu berasal dari Allah Pencipta. Dialah yang menghendaki adanya pria dan wanita (Kej 1:27; 2:21-24) karena itu bisa kita katakan bahwa seksualitas itu berasal dari Allah dan dikehendaki Allah. Kesucian seksualitas ditandakan oleh Kej 2:25 yang mengatakan bahwa mereka keduanya telanjang tetapi mereka tidak merasa malu. Tidak ada sesuatu pun dalam seksualitas manusia yang harus membuat manusia malu atau takut.Manusia menjadi malu dan takut kepada Tuhan justru sesudah jatuh ke dalam dosa (Kej 3:10). Karena itu, tidak mungkin dosa asal itu adalah dosa seksual. Dosa adalah pelanggaran perintah Allah.

Kesucian seksualitas tampak dalam peneguhan relasi suami istri dalam Sakramen Pernikahan. Jika seksualitas itu sendiri adalah dosa, tidak mungkin hal yang berdosa disucikan dalam sebuah sakramen.

Mengapa kita “membuat” tanda salib dan mulai kapan “membuat” tanda salib berlaku dalam ajaran Katolik?

Mateus Yayan, 08123573xxx

Pembuatan tanda salib di dahi dengan ibu jari atau jari telunjuk sudah menjadi kebiasaan sejak abad II. Tetapi, baru menjadi lebih umum digunakan dalam liturgi pada abad IV. Selain dahi, juga bibir dan dada diberi tanda salib. Pembuatan tanda salib besar yang dimulai dengan dahi, dada kemudian bahu kiri dan kanan, sudah dilakukan abad V sebagai devosi privat. Pembuatan tanda salib ini biasanya disertai dengan mengucapkan rumusan “Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Amin.”

Menandai diri dengan salib mempunyai beberapa arti. Pertama, menandai tubuh seorang katekumen dengan salib berarti memeteraikan tubuh katekumen itu sebagai milik Kristus secara menyeluruh, atau mengakui iman yang tak tergoncangkan kepada Kristus. Kedua, menandai dengan salib berarti meneguhkan keunggulan kuasa Kristus atas roh-roh jahat. Ketiga, membuat tanda salib bisa juga merupakan ungkapan secara efektif memohonkan rahmat Allah melalui jasa-jasa Yesus Kristus yang tak terbatas. Rahmat itu dimohonkan untuk tindakan atau peristiwa yang terkait dengan doa ini.

Keempat, menandai dengan salib juga berarti memberikan berkat kepada pribadi atau atas barang melalui jasa-jasa Kristus di salib. Kelima, menandai dengan salib berarti menguduskan pribadi atau barang bagi Tuhan, seperti halnya pengudusan yang terjadi pada Sakramen Baptis.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM




Kunjungan: 4030
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com