Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Yulius Panon Pratomo: Memimpin dengan Cita Rasa Sendiri - Hidup Katolik

Yulius Panon Pratomo: Memimpin dengan Cita Rasa Sendiri

Kamis, 30 Agustus 2012 14:19 WIB
Yulius Panon Pratomo: Memimpin dengan Cita Rasa Sendiri
[HIDUP/Markus Ivan]
Yulius Panon Pratomo
Artikel Lainnya

HIDUPKATOLIK.com - Lewat musik, Yulius Panon Pratomo (33) bisa berkumpul dengan para pemusik muda lainnya. Mereka tergabung dalam Komunitas (Pe)Musik Akustik B 01 Jalan Kaliurang, Sleman-DIY.

Komunitas ini merupakan gabungan pemusik dari Paroki Babarsari, Pangkalan, Babadan, Banteng, Nandan, Mlati, Pugeran, Medari, dan GKI. Anggotanya berjumlah 26 orang, terdiri dari sepuluh pemain violin (biola), dua viola, dua cello, tiga gitar, satu flute, satu oboe, satu klarinet, dan lima rekorder (suling) sopran dan alto. Kode B 01 adalah nomor rumah tempat mereka berlatih musik tiap Sabtu malam.

Menurut Yus, sapaannya, selain para pemusik, banyak pribadi lain yang turut bergabung dalam komunitas ini. Mereka melibatkan diri sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang menjadi dewan penyantun, seksi dokumentasi, atau sekadar penikmat musik klasik saja.

Para pemusik yang tergabung dalam komunitas ini kebanyakan pemusik amatir yang mempunyai kesamaan hobi. Kemampuan memainkan alat musik pun didasarkan hanya pada hobi. Karena itu, banyak hal yang perlu dibenahi. Meski demikian, “sebagai bagian dari generasi muda, sah kalau kami mewarisi alat dan tradisi musik macam ini,” kata Yus.

Ngamen
Komunitas ini terbentuk pada April 2009. Ketika itu ada pembelajaran musik bersama dengan pendampingan para instruktur yang memahami musik klasik sekaligus memahami permainan alat musiknya secara benar. Sarana ini merupakan jalan bagi anggota komunitas untuk meningkatkan kemampuan bermusik. Yang boleh bergabung dalam komunitas ini adalah mereka yang bisa membaca not balok dan permainan musiknya tidak menyakitkan telinga

Selain pembelajaran teknis musik, bidang pembelajaran lainnya meliputi pembuatan aransemen lagu dan berbagai teori musik baik lokal (Jawa) maupun klasik (Barat). Berdasarkan pengetahuan tersebut, mereka bisa mengembangkan musik Gereja. Sejauh ini, Gereja selalu menjadi tempat untuk mempertunjukkan kebolehan mereka dalam bermusik sekaligus ngamen. Inilah cara khas anggota komunitas membiayai segala aktivitas mereka.

Yus selalu turut ngamen di sekitar gereja. Kegiatan ini biasanya dilakukan seusai umat mengikuti Misa. Dengan ngamen, anggota komunitas bisa mengumpulkan dana sekaligus menyapa warga Gereja dengan musik akustik. Bagi Yus, gereja-gereja di kawasan Yogya Utara adalah ruang inspirasi dan medan partisipasi komunitas.

Sempat “nyantrik”
Pria berambut keriting ini dikenal piawai bermusik. Selain menjadi dirigen, ia juga pintar memainkan flute, organ, oboe, klarinet, dan membuat aransemen lagu. Keterampilannya dalam bermusik inilah yang menjadikan dirinya dipercaya menjadi tutor flute dan klarinet di SMA Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang. “Tiap Senin dan Selasa saya mengajar musik di Seminari Mertoyudan,” tutur Yus.

Pemuda lajang ini dulunya memang seorang seminaris di Mertoyudan (1992-l996). Ketika itu, saat beban studi terasa berat, Yus “lari” ke ruang musik atau ke perpustakaan untuk membaca buku-buku teori bermusik. “Secara tidak sadar, permainan organ ternyata mengajari saya tentang komposisi lagu,” tutur pria yang hobi membaca novel dan komik ini.

Ketertarikan Yus pada musik memperkaya pengetahuannya mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan kebudayaan yang lebih luas. “Dulu, saya murid Romo Ria (M.Y. Riawinarta Pr-Red),” aku Yus. Dia selalu teringat akan pelajaran yang diberikan Pastor Ria tentang konsep humanitas Eropa. Perkataan Pastor Ria yang menerangkan bahwa belajar musik itu sekaligus belajar cara berpikir kebudayaan Eropa, selalu terngiang di telinganya.

“Karena itu, membaca buku musik berarti belajar tentang filsafat dan kebudayaan Eropa,” terang Yus. Titik–titik inilah yang dikembangkan Yus saat melanjutkan studi di Universitas Sanata Dharma (USD). Ia merampungkan studi dari Fakultas Teologi USD pada 2003.

Setelah merampungkan kuliah, Yus sempat “nyantrik” di Kajian Budaya USD. Meski tidak tuntas, ia sempat mendapat beasiswa ASEAN Research Scholar In Social Science dari Asia Research Instute, National University of Singapura (2005).

Selain terlibat dalam pendirian Komunitas (Pe)Musik Akustik B 01, dia juga aktif bermain flute sekaligus penggubah lagu (arranger). Ia juga pendiri sekaligus tutor di Sanggar Musik Nafs-i-Gira, Medari. Semasa kuliah, Yus memang sudah berkecimpung di Komunitas Musik Ministri USD, sebagai flutist, penggubah lagu (arranger), dan dirigen. Ia juga sering terlibat dalam pentas Pusat Musik Liturgi (PML) Kotabaru. Bahkan, ia pernah rekaman lagu Taize di Percetakan Kanisius Yogyakarta.

Yus mengaku tak pernah belajar menjadi dirigen atau konduktor. Tetapi, pada beberapa pentas musik dia dipercaya menjadi dirigen. Kepercayaan yang diperolehnya ini berawal pada suatu pentas musik di mana tidak ada seorang pun yang bersedia jadi dirigen. “Saya menyediakan diri,” ucapnya merendah. Sejak itulah, Yus beberapa kali dipercaya memimpin beberapa pentas musik di sejumlah gereja.

Dia pernah menjadi dirigen pada Misa akbar mahasiswa Yogyakarta (2003 dan 2004), Misa Natal Paroki Babadan (2007), Misa Natal (2008), Paskah (2009 dan 20l0) bersama Komunitas (Pe)Musik Akustik B 01. Terakhir, Yus bertindak sebagai konduktor pada konser musik di Gereja St Yosef Medari.

“Tiap kali tampil sebagai konduktor, saya selalu memimpin dengan cita rasa sendiri, tidak meniru gaya dirigen Eropa,” ujar Yus, saat ditemui seusai tampil konser musik di Gereja Medari, Sabtu, 22/5, malam.

Selalu fals
Kepiawaian Yus dalam bermusik memang bukan diperoleh dari didikan sekolah seni musik. Ia meyakini roh musik bukan hanya ada di dunia pendidikan. Roh musik ada di mana-mana. “Saya belajar musik berawal dari belajar memainkan organ,” papar kelahiran Yogyakarta, 21 Juli l977.

Selain itu, ia mengaku banyak belajar musik dari salah seorang temannya yang kuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Temannya ini mengajarinya bagaimana sebaiknya bermain orgen, flute bahkan menjadi tutor. Padahal, sebelum tertarik bermain musik, dia sempat dikeluarkan dari kelompok paduan suara karena suaranya selalu fals. “Saya suka musik, tapi kalau nyanyi selalu fals,” ucapnya terus terang.

Yus dan kelompoknya pernah tampil pada konser Natal di Gereja Keluarga Kudus Banteng, mengiringi ibadat Taize di Seminari Tinggi Kentungan, pentas kecil di Biara CB St Anna Yogya, mengiringi Misa malam Natal di kapel USD, mengisi acara Natal bersama Fakultas Fisipol UGM, mengiringi adorasi Taize di Kapel Skolastikat SCJ Yogya, dan pentas di sejumlah gereja di kawasan Yogya Utara.

Bahkan, pada Juni 2009 Yus dan kelompoknya turut menyemarakkan peringatan 50 tahun Gereja St Petrus dan Paulus Temanggung. Yus pun pernah mengikuti pentas kecil dan latihan bersama para seminaris Mertoyudan.

Belakangan, Yus sering melakukan refleksi mengenai hubungan antara musik dengan hidupnya sendiri. Refleksi diri itu dilakukannya baik ketika sedang bemusik maupun saat membuat aransemen. “Saya sedang belajar nglakoni sesuatu. Saya ingin tahu sampai sejauh mana kualitas bermusik saya,” katanya.

Selain hobi bermusik, Yus juga punya keahlian menerjemahkan bahasa Inggris dan Perancis ke dalam bahasa Indonesia. Biasanya yang menggunakan jasa terjemahannya adalah teman-temanya sendiri yang tengah studi S-2 dan S-3. “Saya suka bahasa, filsafat, dan melakukan penelitian,” ucap pemusik yang juga peneliti bidang sosial budaya ini.

Markus Ivan


Kunjungan: 564
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email
     

Hidupkatolik.com