Yulius Panon Pratomo: Memimpin dengan Cita Rasa Sendiri

HIDUPKATOLIK.com - Lewat musik, Yulius Panon Pratomo (33) bisa
berkumpul dengan para pemusik muda lainnya. Mereka tergabung dalam
Komunitas (Pe)Musik Akustik B 01 Jalan Kaliurang, Sleman-DIY.
Komunitas ini merupakan gabungan pemusik dari Paroki Babarsari,
Pangkalan, Babadan, Banteng, Nandan, Mlati, Pugeran, Medari, dan GKI.
Anggotanya berjumlah 26 orang, terdiri dari sepuluh pemain violin
(biola), dua viola, dua cello, tiga gitar, satu flute, satu oboe, satu
klarinet, dan lima rekorder (suling) sopran dan alto. Kode B 01 adalah
nomor rumah tempat mereka berlatih musik tiap Sabtu malam.
Menurut Yus, sapaannya, selain para pemusik, banyak pribadi lain yang
turut bergabung dalam komunitas ini. Mereka melibatkan diri sesuai
kemampuan masing-masing. Ada yang menjadi dewan penyantun, seksi
dokumentasi, atau sekadar penikmat musik klasik saja.
Para pemusik yang tergabung dalam komunitas ini kebanyakan pemusik
amatir yang mempunyai kesamaan hobi. Kemampuan memainkan alat musik pun
didasarkan hanya pada hobi. Karena itu, banyak hal yang perlu dibenahi.
Meski demikian, “sebagai bagian dari generasi muda, sah kalau kami
mewarisi alat dan tradisi musik macam ini,” kata Yus.
Ngamen
Komunitas ini terbentuk pada April 2009. Ketika itu ada pembelajaran
musik bersama dengan pendampingan para instruktur yang memahami musik
klasik sekaligus memahami permainan alat musiknya secara benar. Sarana
ini merupakan jalan bagi anggota komunitas untuk meningkatkan kemampuan
bermusik. Yang boleh bergabung dalam komunitas ini adalah mereka yang
bisa membaca not balok dan permainan musiknya tidak menyakitkan telinga
Selain pembelajaran teknis musik, bidang pembelajaran lainnya meliputi
pembuatan aransemen lagu dan berbagai teori musik baik lokal (Jawa)
maupun klasik (Barat). Berdasarkan pengetahuan tersebut, mereka bisa
mengembangkan musik Gereja. Sejauh ini, Gereja selalu menjadi tempat
untuk mempertunjukkan kebolehan mereka dalam bermusik sekaligus ngamen.
Inilah cara khas anggota komunitas membiayai segala aktivitas mereka.
Yus selalu turut ngamen di sekitar gereja. Kegiatan ini biasanya
dilakukan seusai umat mengikuti Misa. Dengan ngamen, anggota komunitas
bisa mengumpulkan dana sekaligus menyapa warga Gereja dengan musik
akustik. Bagi Yus, gereja-gereja di kawasan Yogya Utara adalah ruang
inspirasi dan medan partisipasi komunitas.
Sempat “nyantrik”
Pria berambut keriting ini dikenal piawai bermusik. Selain menjadi
dirigen, ia juga pintar memainkan flute, organ, oboe, klarinet, dan
membuat aransemen lagu. Keterampilannya dalam bermusik inilah yang
menjadikan dirinya dipercaya menjadi tutor flute dan klarinet di SMA
Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang. “Tiap Senin dan Selasa saya
mengajar musik di Seminari Mertoyudan,” tutur Yus.
Pemuda lajang ini dulunya memang seorang seminaris di Mertoyudan
(1992-l996). Ketika itu, saat beban studi terasa berat, Yus “lari” ke
ruang musik atau ke perpustakaan untuk membaca buku-buku teori bermusik.
“Secara tidak sadar, permainan organ ternyata mengajari saya tentang
komposisi lagu,” tutur pria yang hobi membaca novel dan komik ini.
Ketertarikan Yus pada musik memperkaya pengetahuannya mengenai berbagai
hal yang berkaitan dengan kebudayaan yang lebih luas. “Dulu, saya murid
Romo Ria (M.Y. Riawinarta Pr-Red),” aku Yus. Dia selalu teringat akan
pelajaran yang diberikan Pastor Ria tentang konsep humanitas Eropa.
Perkataan Pastor Ria yang menerangkan bahwa belajar musik itu sekaligus
belajar cara berpikir kebudayaan Eropa, selalu terngiang di telinganya.
“Karena itu, membaca buku musik berarti belajar tentang filsafat dan
kebudayaan Eropa,” terang Yus. Titik–titik inilah yang dikembangkan Yus
saat melanjutkan studi di Universitas Sanata Dharma (USD). Ia
merampungkan studi dari Fakultas Teologi USD pada 2003.
Setelah merampungkan kuliah, Yus sempat “nyantrik” di Kajian Budaya USD.
Meski tidak tuntas, ia sempat mendapat beasiswa ASEAN Research Scholar
In Social Science dari Asia Research Instute, National University of
Singapura (2005).
Selain terlibat dalam pendirian Komunitas (Pe)Musik Akustik B 01, dia
juga aktif bermain flute sekaligus penggubah lagu (arranger). Ia juga
pendiri sekaligus tutor di Sanggar Musik Nafs-i-Gira, Medari. Semasa
kuliah, Yus memang sudah berkecimpung di Komunitas Musik Ministri USD,
sebagai flutist, penggubah lagu (arranger), dan dirigen. Ia juga sering
terlibat dalam pentas Pusat Musik Liturgi (PML) Kotabaru. Bahkan, ia
pernah rekaman lagu Taize di Percetakan Kanisius Yogyakarta.
Yus mengaku tak pernah belajar menjadi dirigen atau konduktor. Tetapi,
pada beberapa pentas musik dia dipercaya menjadi dirigen. Kepercayaan
yang diperolehnya ini berawal pada suatu pentas musik di mana tidak ada
seorang pun yang bersedia jadi dirigen. “Saya menyediakan diri,” ucapnya
merendah. Sejak itulah, Yus beberapa kali dipercaya memimpin beberapa
pentas musik di sejumlah gereja.
Dia pernah menjadi dirigen pada Misa akbar mahasiswa Yogyakarta (2003
dan 2004), Misa Natal Paroki Babadan (2007), Misa Natal (2008), Paskah
(2009 dan 20l0) bersama Komunitas (Pe)Musik Akustik B 01. Terakhir, Yus
bertindak sebagai konduktor pada konser musik di Gereja St Yosef Medari.
“Tiap kali tampil sebagai konduktor, saya selalu memimpin dengan cita
rasa sendiri, tidak meniru gaya dirigen Eropa,” ujar Yus, saat ditemui
seusai tampil konser musik di Gereja Medari, Sabtu, 22/5, malam.
Selalu fals
Kepiawaian Yus dalam bermusik memang bukan diperoleh dari didikan
sekolah seni musik. Ia meyakini roh musik bukan hanya ada di dunia
pendidikan. Roh musik ada di mana-mana. “Saya belajar musik berawal dari
belajar memainkan organ,” papar kelahiran Yogyakarta, 21 Juli l977.
Selain itu, ia mengaku banyak belajar musik dari salah seorang temannya
yang kuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Temannya ini
mengajarinya bagaimana sebaiknya bermain orgen, flute bahkan menjadi
tutor. Padahal, sebelum tertarik bermain musik, dia sempat dikeluarkan
dari kelompok paduan suara karena suaranya selalu fals. “Saya suka
musik, tapi kalau nyanyi selalu fals,” ucapnya terus terang.
Yus dan kelompoknya pernah tampil pada konser Natal di Gereja Keluarga
Kudus Banteng, mengiringi ibadat Taize di Seminari Tinggi Kentungan,
pentas kecil di Biara CB St Anna Yogya, mengiringi Misa malam Natal di
kapel USD, mengisi acara Natal bersama Fakultas Fisipol UGM, mengiringi
adorasi Taize di Kapel Skolastikat SCJ Yogya, dan pentas di sejumlah
gereja di kawasan Yogya Utara.
Bahkan, pada Juni 2009 Yus dan kelompoknya turut menyemarakkan
peringatan 50 tahun Gereja St Petrus dan Paulus Temanggung. Yus pun
pernah mengikuti pentas kecil dan latihan bersama para seminaris
Mertoyudan.
Belakangan, Yus sering melakukan refleksi mengenai hubungan antara musik
dengan hidupnya sendiri. Refleksi diri itu dilakukannya baik ketika
sedang bemusik maupun saat membuat aransemen. “Saya sedang belajar
nglakoni sesuatu. Saya ingin tahu sampai sejauh mana kualitas bermusik
saya,” katanya.
Selain hobi bermusik, Yus juga punya keahlian menerjemahkan bahasa
Inggris dan Perancis ke dalam bahasa Indonesia. Biasanya yang
menggunakan jasa terjemahannya adalah teman-temanya sendiri yang tengah
studi S-2 dan S-3. “Saya suka bahasa, filsafat, dan melakukan
penelitian,” ucap pemusik yang juga peneliti bidang sosial budaya ini.
Markus Ivan



