Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Inkulturasi dan Iman - Hidup Katolik

Inkulturasi dan Iman

Jumat, 31 Agustus 2012 11:19 WIB
Inkulturasi dan Iman
[Emilianus Yakob Sese Tolo]
Misa Inkulturasi Jawa di Paroki St Nikodemus Ciputat.

HIDUPKATOLIK.com - Keuskupan Malang menyatakan bahwa 2012 adalah Tahun Budaya yang kemudian diisi dengan berbagai Misa inkulturasi, misalnya Jawa, Flores, Bali, Mandarin. Apakah inkulturasi itu? Apakah inkulturasi punya dasar dalam Kitab Suci? Apakah benar jika menyibukkan diri dengan budaya, maka kita justru mengabaikan penghayatan isi iman?

Vincentia Maria Setyorini, Jember

Pertama, inkulturasi berarti masuk dalam budaya. Dalam Gereja Katolik, inkulturasi berarti usaha-usaha Gereja untuk menghayati iman Katolik yang diungkapkan dalam kekhasan dan kekayaan setiap budaya. Budaya-budaya itu tidak hanya digunakan sebagai “pakaian luar” atau “bedak”, tetapi masuk dan menyentuh nilai-nilai khasnya yang diangkat dan disempurnakan dalam penghayatan iman. Tujuan inkulturasi ialah terjadinya persenyawaan di antara iman Katolik dengan nilai-nilai luhur budaya, sehingga penghayatan isi iman Katolik menyatu dalam ungkapan-ungkapan budaya (bdk HIDUP, No 32, 5 Agustus 2012).

Kedua, tidak ada teks Kitab Suci yang berbicara secara eksplisit tentang inkulturasi. Tetapi, usaha-usaha inkulturasi ini sangat sesuai dengan perintah Yesus agar kita menjadi garam dan terang (Mat 5:13-16). Juga ajaran Yesus tentang Kerajaan Allah seumpama ragi yang meresapi tepung dan mengembangkan adonan, menggambarkan dengan sangat baik apa yang dimaksud dengan inkulturasi (Mat 13: 33). Fungsi sebagai garam dan ragi menunjukkan bahwa iman Katolik tidak bisa dipisahkan dari masakan atau adonan, tetapi harus meresapi dan mengadakan perubahan dari dalam. Fungsi garam ialah menyedapkan, mengawetkan, mencegah terjadinya kebusukan dan kebobrokan. Fungsi ragi ialah membuat adonan khamir. Fungsi terang ialah memberi penerangan dalam kegelapan, sehingga kita tidak tersesat. Semua tugas misioner Gereja ini menunjukkan perlunya inkulturasi.

Ketiga, inkulturasi menyangkut iman dan budaya. Oleh karena itu, kurang tepat bila kita disibukkan hanya dengan pengolahan budaya, tetapi mengabaikan iman. Pengolahan dan refleksi atas budaya bukan tujuan akhir, namun bagian dari proses yang harus diarahkan kepada penghayatan iman. Harus jelas dalam keseluruhan proses bahwa tujuan inkulturasi ialah memberdayakan penghayatan iman dalam nilai-nilai khas setiap budaya (GS 53). Maka, perlu menemukan nilai-nilai khas budaya yang kemudian disenyawakan dengan iman Katolik.

Inkulturasi belum terjadi, jika kesibukannya diarahkan kepada penggunaan budaya sebagai “pakaian luar” atau “bedak,” misalnya sebagai hiasan altar, lagu-lagu, tari-tarian, bahan persembahan, pakaian petugas liturgi, dan penggunaan bahasa lokal. Inkulturasi belum terlaksana jika budaya tidak sungguh dipertemukan atau hanya bersentuhan secara superficial dengan iman. Proses inkulturasi yang benar justru membutuhkan pengolahan iman yang serius agar terjadi persenyawaan yang indah dan dinamis antara nilai-nilai khas budaya dan butir-butir iman Katolik. Dengan demikian, iman Katolik meresapi inti kepercayaan (the core belief ) para murid Kristus yang kemudian mengalir dalam berbagai ungkapan.

Keempat, perlu disadari bahwa tidak semua unsur dalam tradisi atau budaya lokal sesuai dengan iman kita. Beberapa unsur itu seringkali bertentangan dengan butir-butir ajaran iman dan menindas manusia masuk ke dalam dosa, sehingga manusia tidak bisa berkembang menjadi sempurna. Gereja bertugas menilai unsur-unsur budaya itu dalam cahaya iman dan membawa pembebasan Yesus Kristus dalam unsur-unsur budaya atau tradisi itu. Hal ini jelas dikatakan oleh St Petrus: “Kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu.” (1 Ptr 1:18-19).

Konsili Vatikan II merumuskan proses ini: “Gereja memajukan dan menampung segala kemampuan, kekayaan, dan adat-istiadat bangsa-bangsa sejauh itu baik; tetapi dengan menampungnya juga memurnikan, menguatkan serta mengangkatnya.” (LG 13; bdk AG 9). Dalam pelaksanaan praktis, proses penguatan dan penyempurnaan nilai-nilai khas budaya perlu diprioritaskan, tanpa mengabaikan fungsi pemurnian.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM




Kunjungan: 2398
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com