Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Perceraian dalam Gereja Katolik - Hidup Katolik

Perceraian dalam Gereja Katolik

Senin, 3 September 2012 16:15 WIB
Perceraian dalam Gereja Katolik
[tallskinnykiwi.typepad.com]

HIDUPKATOLIK.com - Apakah Gereja Katolik mengakui adanya perceraian? Seringkali saya dengar bahwa dalam Gereja Katolik tidak ada perceraian, tetapi saya melihat beberapa teman ternyata bisa diceraikan oleh Gereja, meskipun sudah menikah resmi di Gereja dan kemudian menikah lagi. Bagaimana mengerti ajaran Gereja ini?

Margaretha Sukarni, Kediri

Perlu dikatakan dengan jelas dan tegas bahwa dalam Gereja Katolik, tidak ada perceraian. Apa yang telah disatukan oleh Allah, jangan diceraikan oleh manusia. Hal ini bisa dijadikan pegangan pokok bagi umat.

Jika ada pasangan yang telah menikah di Gereja dan ternyata kemudian mereka tidak hidup bersama lagi, bisa dipastikan bahwa hal itu bukanlah perceraian tetapi pembatalan (anulasi). Maksudnya, pernikahan yang sudah dilangsungkan itu dinyatakan batal atau tidak terjadi karena ada syarat-syarat yang ternyata kemudian terbukti tidak dipenuhi. Jika dibandingkan dengan sepakbola, pembatalan ini mirip dengan gol yang dianulir karena pemain itu berdiri off-side. Jadi, meskipun tampaknya terjadi gol, tetapi gol itu dinyatakan tidak ada karena ada faktor yang menghalangi, yaitu pemain sudah terlebih dahulu berdiri off-side.

Syarat-syarat yang tidak dipenuhi itu bisa saja misalnya, status calon mempelai ternyata sudah tidak bebas (sudah menikah dan berbohong), terjadi pemaksaan atau tidak ada kebebasan moral, atau adanya impotensi yang disembunyikan, masih adanya hubungan keluarga dekat, dan lain-lain. Pembatalan ini tentu harus dilakukan melalui proses hukum yang resmi dalam Tribunal Gereja. Di lain pihak, kemandulan bukanlah alasan untuk pembatalan pernikahan (bdk HIDUP No 29, 26 Juli 2009). Mereka yang perkawinannya dinyatakan batal (dianulir), tentu berstatus kembali sebagai orang yang bebas, dan karena itu boleh menikah secara resmi dalam Gereja.

Romo, apa artinya kata-kata Yesus “Ikutilah Aku, dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” (Mat 8:22)?

Andyanto, 08123358xxx

Kata-kata Yesus ini memang sulit dimengerti dan menimbulkan banyak perdebatan. Untuk mengertinya, kita perlu mengetahui latar belakang budaya Yahudi, khususnya tentang kewajiban anak terhadap orangtua. Karena itu, ayat 22 itu perlu dikaitkan dengan ayat 21: “. . . Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku”.

Ayat 21 ini tidak merujuk pada suatu fakta, artinya ayah murid itu sudah meninggal dan perlu dikuburkan, tetapi merujuk kepada kewajiban murid itu sebagai anak kepada orangtua dan sanak saudaranya. Kata-kata itu harus ditafsirkan bahwa murid itu hendak memenuhi kewajiban-kewajibannya dahulu baik kepada orangtua maupun kepada sanak saudara, dan baru kemudian dia akan mengikuti Yesus. Penguburan ayah dipandang sebagai akhir dari semua kewajiban tersebut. Maka, ayat 21 itu berarti bahwa murid itu menolak secara halus atau menunda untuk mengikuti Yesus. Dia sanggup mengikuti Yesus hanya sesudah melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada kaum keluarganya, secara khusus disimbolkan dengan pemakaman ayahnya.

Berhadapan dengan sikap ini, ayat 22 harus ditafsirkan bahwa Yesus mengajak untuk berani menomorsatukan keputusan menjadi murid Yesus di atas kewajiban-kewajiban terhadap keluarga. Tuntutan Yesus ini mengatasi tuntutan hukum Taurat, yaitu untuk ”menghormati orangtua”. Hal ini bisa dimengerti kalau kita mengingat bahwa Yesus memang Putra Allah, sehingga sudah layak dan sepantasnya jika Yesus menuntut para murid-Nya mengutamakan Dia di atas tuntutan dan kewajiban keluarga.

Manusia pertama jatuh ke dalam dosa karena digoda setan. Tetapi, dalam Kitab Suci tidak ditemukan kapan setan itu diadakan. Kisah penciptaan tidak mengatakan bahwa Allah menciptakan setan atau malaikat. Bagaimana mengerti hal ini?

Christian, libertcsa@yahoo.co.id

Memang benar, kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian tidak mengatakan secara eksplisit penciptaan setan atau malaikat. Banyak hal lain di alam ciptaan ini yang juga tidak dikatakan secara eksplisit dalam kisah penciptaan. Namun, perlu dimengerti bahwa ungkapan ”langit dan bumi” (Kej 1:1) mencakup seluruh ciptaan. Jika dikatakan bahwa ”langit dan bumi” akan lenyap itu berarti seluruh ciptaan akan lenyap. Demikian pula ungkapan ”langit dan bumi yang baru” merujuk pada seluruh ciptaan yang diperbarui pada kedatangan Kristus yang kedua kelak.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM




Kunjungan: 6095
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com