Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Pengurapan Orang Sakit - Hidup Katolik

Pengurapan Orang Sakit

Selasa, 4 September 2012 14:48 WIB
Pengurapan Orang Sakit
[NN]

HIDUPKATOLIK.com - Romo, apakah sakramen Perminyakan itu mempunyai kuasa untuk menyembuhkan? Kalau memang mempunyai kuasa penyembuhan, mengapa sakramen Perminyakan jarang diberikan kepada orang sakit?

Nobertus Daryanto, Blitar
Pertama, Konsili Vatikan II memberi nama baru untuk sakramen Perminyakan, yaitu sakramen Pengurapan Orang Sakit (SPOS). SPOS menghadirkan Yesus yang berdoa memohonkan kesembuhan untuk mereka yang sakit dan lemah. Kehadiran Yesus ini diungkapkan dalam bentuk simbol, yaitu pengurapan dengan minyak dan doa yang dikatakan pada saat mengurapi. Yesus datang melalui SPOS sebagai tabib, sebagai sahabat yang mengampuni dan menerima kembali sahabat-Nya.

Kedua, kita harus percaya bahwa sakramen adalah tanda yang menghasilkan rahmat (signum efficax gratiae) yang menyembuhkan. Penyembuhan pertama yang diberikan Tuhan adalah penyembuhan rohani, yaitu pengampunan atas dosa-dosa, dan jika Allah berkenan, juga penyembuhan jasmani. Seringkali SPOS menjadi sarana Tuhan menyembuhkan secara fisik, baik itu penyakit yang kronis maupun yang akut. Penyembuhan terjadi juga pada tataran jiwa dan roh, karena SPOS memang adalah doa permohonan untuk kesehatan badan, jiwa dan roh. Penyembuhan ini merupakan tanda kemenangan Kerajaan Allah atas setiap kejahatan, dan menjadi simbol pemulihan kesehatan dari seluruh pribadi manusia, jiwa dan badan. (bdk. HIDUP, No 23, 8 Juni 2008).

Ketiga, dalam surat Rasul Yakobus dikatakan bahwa ”doa yang lahir dari iman itu akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia.” (Yak 5:14-15). Kata-kata ”akan menyelamatkan” dan ”akan membangunkan” tidak mengesankan suatu tindakan yang secara khusus atau terutama bertujuan untuk penyembuhan fisik, tetapi dalam arti tertentu mencakup penyembuhan fisik juga. Kata ”menyelamatkan” mempunyai nuansa rohani sedangkan kata ”membangunkan” berarti menghidupkan atau juga mengangkat orang yang berbaring karena sakit dengan menyembuhkan orang tersebut dengan cara yang menakjubkan (bdk. Mat 9:5; Mrk 1:31; 9:27; Kis 3:7).

Keempat, sakramen ini jarang diberikan, mungkin karena kurangnya pengertian akan perkembangan aktual ajaran Gereja tentang SPOS ini. Dibutuhkan sosialisasi tentang sakramen ini, terutama di antara para gembala umat agar sakramen ini benar-benar bisa menjadi sumber kekuatan bagi umat yang membutuhkan. SPOS perlu lebih didekatkan ke kehidupan umat sehari-hari yang tidak pernah luput dari kelemahan dan sakit.

Apakah sakramen Pengurapan Orang Sakit boleh diberikan kepada orang yang kesurupan atau orang yang dalam bahaya dikuasai kekuatan jahat? Apakah dasar hukumnya?Bolehkah pengurapan untuk orang yang kesurupan ini dilakukan oleh imam siapa saja?

Bernadetta Sudarmi, Sidoarjo

Menurut ”Instruksi mengenai Doa Penyembuhan” yang diterbitkan oleh Kongregasi untuk Ajaran Iman (KAI), Roma, 14 September 2000 (Seri Dokumen Gerejawi No 61), tujuan Sakramen Pengurapan Orang Sakit (SPOS) ialah ”penyembuhan dalam tubuh, jiwa dan roh, dan dibebaskan dari semua kesedihan, kelemahan dan penderitaan.” Tujuan SPOS ini pasti mencakup pembebasan dari kekuatan jahat atau kesurupan. Maka SPOS boleh diberikan kepada mereka.

Sebelum dokumen resmi di atas, Kongregasi untuk Ajaran Iman (KAI) pernah juga menerbitkan sebuah dokumen yang judul aslinya ”Foi chretienne et demonologie”(Iman kristiani dan demonologi), (Roma, 26 Juni 1975). Dalam dokumen resmi itu dikatakan bahwa SPOS merupakan ”perlindungan” atas badan, jiwa dan roh dari gangguan kehadiran setan dan karyanya yang mengganggu. Kata-kata sedemikian eksplisit ini menjadi sumber ajaran yang jelas bahwa SPOS bisa digunakan untuk orang yang dikuasai oleh roh-roh jahat atau kesurupan. Dianjurkan juga agar didoakan doa penyerahan kepada Kristus agar si sakit diselamatkan dan dimasukkan ke dalam kawanan domba atau orang-orang terpilih-Nya.

Dalam kasus pengurapan orang yang kesurupan dengan SPOS, imam siapa saja bisa memberikan SPOS, dan tidak dibutuhkan ijin khusus dari Bapak Uskup. SPOS tidak termasuk dalam eksorsisme. Namun demikian, dokumen di atas tetap menganjurkan agar imam tetap bersikap bijak dan melakukan pembedaan roh. Penebusan Kristus membawa pembebasan yang menyeluruh, dan kepada-Nya telah diberikan segala kuasa, baik di bumi maupun di bawah bumi (bdk Mat 28:19).

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM




Kunjungan: 1859
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com