Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Hitung-Hitungan - Hidup Katolik

Hitung-Hitungan

Kamis, 6 September 2012 13:48 WIB
Hitung-Hitungan
[myspbu.blogspot.com]

HIDUPKATOLIK.com - Pada bulan Juli dan Agustus, banyak orangtua yang memiliki anak duduk di bangku SD, akan direpotkan aneka perlengkapan sekolah. Sebut saja seragam, topi, dasi, kaos kaki, buku pelajaran, buku tulis. Ini kerjaan rutin tahunan.

Kebetulan tahun ini, entah mengapa saya agak teledor menyimpan kertas untuk mendaftar pembelian buku pelajaran lewat sekolah. Jadilah kami harus berburu buku pelajaran di toko buku. Saat sudah tidak dibutuhkan, daftar buku pelajaran sekolah, malah mudah ditemukan. Daftar tersebut menunjuk pada judul buku, penerbit serta harga buku.

Tak disangka pekerjaan untuk berburu buku ini bukanlah pekerjaan mudah. Tak kurang dari lima toko buku kami sambangi untuk melengkapi 12 buku pelajaran yang diperlukan tahun ini. Sang kakak yang kini telah masuk ke jenjang SMP punya peninggalan buku pelajaran dari sekolah yang sama. Namun saya baru sadar ternyata buku pelajaran sang kakak hanya sama satu judul dari daftar yang dipergunakan tahun ini. Padahal usia mereka hanya berjarak tiga tahun.

Dari situ saya mencoba menelisik, rupanya hampir tiap tahun, buku pelajaran berganti. Bukan berganti materi ajaran, tapi berganti penerbit. Inilah perjalanan awal saya merasakan betapa tidak efisiennya persoalan buku pelajaran yang dipakai di sekolah, dan utamanya sekolah anak saya, yang adalah sekolah Katolik.

Pertama, dari 12 judul buku yang ada, penerbitnya ada lima atau enam penerbit. Yang masih konsisten dipergunakan hanya buku pelajaran Agama Katolik terbitan Kanisius Yogyakarta. Lainnya harus beli baru. Penerbitnya pun aneh-aneh namanya. Perburuan ke lima toko buku itu pun tak selalu menemukan seluruh buku ini. “Penerbit ini tak masuk dalam toko kami,” begitu jawaban seorang petugas ketika kami mencari buku terbitan X. Aneh juga, padahal toko buku ini saling berjaringan dengan nama yang sama, gerutu saya.

Kedua,
daftar harga yang dikeluarkan sekolah mudah untuk diperbandingkan dengan harga di toko buku. Dan saya kaget ketika tahu bahwa harga tersebut sama. Sebagai orang yang sedikit tahu dunia penerbitan, perbukuan dan semacamnya, saya tahu bahwa pembelian langsung lewat penerbit -apalagi dalam jumlah besar seperti buku pelajaran sekolah- akan mendapatkan diskon tertentu. Tebakan saya, diskon bisa berkisar antara 20-30% dari harga jual.

Ketiga, total harga buku pelajaran yang disodorkan sekolah bernilai lebih dari Rp 500.000. Dengan pertimbangan seorang yang sedikit mengerti dunia perbukuan, saya langsung jahil. Saya cari kertas dan pena, kembali belajar hitung-hitungan.

Jika dari total pembelian buku pelajaran ada diskon 20% dari penerbit (kalau tak dapat diskon, justru harus dipertanyakan), maka per anak ada kelebihan Rp 100.000 (kita bulatkan saja). Jika satu paket buku pelajaran dibeli sekitar 30 anak (satu kelas) dikali tiga (misalnya ini adalah jumlah kelas pararel), maka kita menemukan angka Rp 9 juta. Jika angka ini dikalikan dengan enam (jumlah tingkat yang ada di SD), maka kita akan menemukan angka Rp 54 juta.

Jika diskon yang diberikan penerbit mencapai 30%, maka perkaliannya adalah Rp 150.000 x 30 x 6 = Rp 81 juta. Jadi angka yang bisa dihemat dari pembelian buku pelajaran antara Rp 54 juta hingga Rp 81 juta per tahun. Namun pertanyaannya, kemana larinya angka penghematan dari hasil diskon penerbit itu?

Saya cuma bertanya, dan mungkin ini hanya pertanyaan retorik, tak perlu jawaban. Saya pun mencoba menduga-duga. Uang hasil penghematan tadi bisa saja lari ke guru masing-masing pelajaran, sebagai komisi atas pemilihan penerbit X. Tapi, apakah komisi ini sah?

Mungkin penghematan tadi masuk ke kas sekolah. Kalau ada penjelasan atas masalah ini dari pihak sekolah, tentu saja orangtua akan jadi lebih senang. Bagaimanapun juga, Indonesia saat ini telah memiliki undang-undang Keterbukaan Informasi Publik, suatu peraturan yang memberikan hak kepada masyarakat untuk mengetahui informasi-informasi penting dalam rangka meredam angka korupsi, kolusi dan nepotisme.

Perhitungan di atas akan jadi lebih dashyat kalau dikalikan dengan jumlah Sekolah Katolik yang ada dan umum melakukan praktek demikian. Kita mungkin akan menemukan angka hingga milyaran rupiah!

Pertanyaan saya sederhana: adakah pihak sekolah mengetahui perihal diskon penerbit? Jika memang ya, lalu dari pembayaran yang dilakukan para siswa, kemana kiranya uang hasil penghematan tadi? Terakhir saya pergi ke toko buku, ada label “Diskon 15% untuk buku pelajaran”. Toko buku saja memberikan diskon, sementara pihak yang membeli langsung seperti sekolah, biasanya menikmati diskon lebih besar.

Jika memang ada kontribusi balik dari sekolah kepada para siswa dan orangtua, mungkin baik, jika hal ini dikomunikasikan terbuka. Tanpa keterbukaan, orangtua sebagai konsumen lembaga pendidikan akan memiliki pertanyaan-pertanyaan tak berjawab, yang sangat mudah jatuh pada kecurigaan.

Yah, mungkin ini unek-unek kecil dari satu orangtua siswa yang lelah berburu buku pelajaran ke toko buku. Seorang teman saya mencolek dari belakang, “Bung ini jaman industri, mana ada yang gratis jaman sekarang! Industri perbukuan, industri pendidikan, industri seragam sekolah!”

Oh ya? Saya tercenung lama...


Ignatius Haryanto




Kunjungan: 619
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com