Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Laboratorium Alam Kapusin: Firdaus Kalimantan yang Tersisa - Hidup Katolik

Laboratorium Alam Kapusin: Firdaus Kalimantan yang Tersisa

Kamis, 6 September 2012 11:55 WIB
Laboratorium Alam Kapusin: Firdaus Kalimantan yang Tersisa
[Severianus Endi]
Menikmati hijau hutan dengan menyusuri Jembatan Pelangi.

HIDUPKATOLIK.com - Rumah itu terbuat dari kayu, berdiri di tengah hutan belantara seluas 90 hektar. Di dinding teras berukuran 3x5 meter terpasang lukisan orang Dayak yang sedang berburu. Rumah itu diberi nama Rumah Pelangi.

Seorang pria berusia 57 tahun menyambut penuh keramahan. Ternyata, dia seorang pastor. Ya, dialah Pastor Benedictus Likoy OFMCap, yang telah satu tahun ini mengelola areal konservasi alam milik Ordo Fractrum Minorum Capuccinorum (OFMCap/Kapusin) Kalimantan Barat. Kawasan ini bernama Bukit Tunggal, terletak di Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Jarak tempuh dari Kota Pontianak sekitar 69 kilometer, menuju arah Kabupaten Sanggau, menyusuri jalan trans Kalimantan yang belum seluruhnya teraspal.

“Beginilah keseharian saya, menjaga dan merawat hutan ini. Kadang-kadang, jika ada suara mesin chain saw, harus segera didatangi. Jangan-jangan orang mencuri kayu,” tutur Pastor Benedictus membuka percakapan.

Pencurian kayu bukanlah aktivitas asing di kawasan ini. Meski era illegal logging sudah jauh tertinggal di belakang, kini muncul modus baru. Orang-orang menebang pohon ukuran kecil yang berdiameter 10-20 centimeter untuk dijadikan cerucuk. Cerucuk merupakan komoditas hutan yang saat ini banyak dibutuhkan untuk mendukung konstruksi bangunan di daerah berawa atau lahan gambut. Dalam perjalanan menjangkau Bukit Tunggal, juga bisa dipastikan bakal berpapasan dengan truk-truk pengangkut cerucuk. “Tak mudah menyadarkan masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan. Lahan ini kami dapatkan dengan melakukan pendekatan ke warga, yang semula berniat menjualnya pada pengusaha perkebunan kelapa sawit,” ujar Pastor Benedictus.

Rumah Pelangi
Tujuh tahun lalu, Pastor Samuel Oton Sidin OFMCap memulai karya di hutan ini, yang kritis akibat sering terjadi kebakaran hutan. Penuh kesabaran, Pastor Samuel menanam kembali lahan yang gundul, hingga hijau kembali. Pastor Samuel ingin mewujudkan impian mulia, yakni menyelamatkan hutan dari kerusakan, dan menciptakan laboratorium alam yang bisa dimanfaatkan setiap orang.

Pastor Samuel, seorang doktor teologi spiritualitas Fransiskan lulusan Universitas Antonia, Roma. Dia adalah Provinsial Ordo Kapusin Kalimantan selama dua periode dari 1997-2003. Setahun lalu, dia terpilih kembali sebagai Provinsial, sehingga karyanya di hutan diserahkan pada Pastor Benedictus.

Nama Rumah Pelangi diinspirasi Kitab Kejadian yang mengisahkan Nabi Nuh dan banjir bandang yang melanda bumi. Kala itu, muncul pelangi di cakrawala, yang dimaknai sebagai tanda harmonisasi antara Tuhan, manusia, alam dan segenap isinya.

Dari jalan trans Kalimantan, akses menuju Rumah Pelangi berupa jalan selebar tiga meter sepanjang 741 meter. Saat itu, jalan yang berupa tanjakan dan turunan sedang diaspal. Tepat di puncak tanjakan, berdiri sebuah Kapel Kalvari. Saban Minggu, sekitar 60 kepala keluarga yang tinggal di sepanjang jalan trans Kalimantan dan kampung terdekat, mengikuti Ekaristi di kapel ini. Dan, Rumah Pelangi tampak bersahaja di kelilingi pepohonan tinggi. Kokok ratusan ayam kampung dipadu kelepak sayap burung merpati, memunculkan kedamaian di hati.

Tak puas hanya berbincang di teras kayu berhawa segar alam itu, Pastor Benedictus mengajak menyusuri jalan di areal Bukit Tunggal. Sejenak, dia menghampiri sebuah kandang. “Kami memelihara landak. Mau lihat?” ucapnya sembari memukul-mukulkan tangan ke pagar kawat. Seketika, tiga ekor landak keluar dari persembunyian. Hewan berbulu tajam itu pun berlarian menghampiri Pastor Benedictus.

Sekitar 100 meter dari Rumah Pelangi, terdapat gedung berlantai dua yang baru dibangun. Ada ruangan kelas yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan retret, lengkap dengan toilet dan dua kamar. Persis di samping gedung itu, terdapat areal camping ground berupa hamparan lahan yang lapang nan bersih, dinaungi pepohonan berkanopi rindang.

Pastor Benedictus kembali mengajak menapaki jalan lingkar sepanjang dua kilometer. Dimulai dari sebuah jembatan kayu selebar 50 centimeter dan panjang 147 meter. Lintasan itu cocok dijadikan arena jelajah alam dengan berjalan kaki atau mengendarai sepeda gunung. “Ini Jembatan Pelangi. Lihat di sekelilingnya, pohon-pohon masih asli, dan banyak jenis yang sudah sulit dijumpai di daerah lain,” ujar Pastor Benedictus sambil menunjuk aneka tanaman hutan dan anggrek. Suasana agak redup karena pepohonan begitu rindang. Gemericik kucuran air dari gunung, menambah perjalanan kian nikmat. “Rencana, setiap pohon akan ditempeli plang nama, sehingga anak-anak bisa mengenalinya,” ujar Pastor Benedictus.

Di ujung jembatan kayu itu, terhampar lapangan luas yang dicadangkan untuk sport center. Lahan itu akan dijadikan lapangan sepakbola berskala nasional, dikitari jogging track, dan perumahan untuk atlet. Tak jauh dari tempat itu, sebuah lembah tengah disulap menjadi danau besar, sebagai bendungan dan kolam ikan. Perjalanan dilanjutkan menyurusi jalan setapak, yang dulunya dibuat secara manual dengan cangkul. Di beberapa titik ketinggian, hamparan bentang alam yang luas menampilkan kemolekannya.

Orkes alam
Di bukit ini mengalir dua mata air yang tak pernah berhenti. Sejak lima tahun lalu, satu mata air dialirkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar kaki bukit. Sehingga, masyarakat di sekitar kawasan konservasi ini dapat memperoleh manfaat yang mengalir dari Rumah Pelangi.

Perlahan namun pasti, muncul sebuah lecutan semangat untuk peduli lingkungan. Penanggungjawab pembangunan, Frans Lobo, telah mengundang seorang arsitek Italia. “Kami berusaha agar tak terlalu banyak membuka kawasan. Sisa-sisa penebangan yang terpaksa dilakukan, tetap kami manfaatkan misalnya untuk pembangunan pondokan pekerja,” tutur Lobo.

Sebagian areal juga dipersiapkan untuk rumah panjang khas Dayak. Rencananya, rumah panjang difungsikan sebagai museum hidup ataupun museum mati. Sebagai museum hidup, aktivitas pembuatan kerajinan seperti anyaman dan ukiran, akan ditampilkan di sana. Sebagai museum mati, aneka benda bernilai budaya dan religi bakal dipajang.

Dari sekitar 90 hektar luas keseluruhan lahan, hanya kira-kira lima persen yang dibuka untuk membangun seluruh rencana tersebut. Menurut Lobo, perencanaan juga mencakup pembuatan canopy crane, yakni lintasan di atas pepohonan agar orang bisa menikmati keindahan alam dari ketinggian. Pembangunan kawasan itu memang belumlah sempurna. Meski begitu, suasana alami yang amat memikat, bisa menjadi obat kerinduan akan “firdaus” yang kian langka di muka bumi.

Sekitar pukul 16.00, suara mesin diesel mulai bergemuruh. Lampu pun mulai menyala satu per satu. Saat malam mulai larut, sekitar pukul 23.00 genset dimatikan. Gelap menyergap berpadu dengan orkes alam berupa suara serangga yang sahut-sahutan di tengah belantara.

Tidur pun menjadi lelap. Pagi yang sejuk siap menyambut dengan kicauan burung yang terbang lepas dari satu ranting ke ranting lainnya. Bukit Tunggal menjadi setitik pelepas dahaga, di antara sekian hektar hutan di kawasan lain yang justru diporak-porandakan di tangan-tangan kapitalis.

Severianus Endi




Kunjungan: 985
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com