Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Mempelai Wanita Sudah Hamil - Hidup Katolik

Mempelai Wanita Sudah Hamil

Jumat, 7 September 2012 15:07 WIB
Mempelai Wanita Sudah Hamil
[bubblybride.com]

HIDUPKATOLIK.com - Jika pada saat pelaksanaan Sakramen Pernikah­an, mempelai wanita ternyata sudah hamil, apakah kehamilannya ini diperhitungkan sebagai hubungan suami istri yang mengesahkan sebuah Sakramen Pernikahan?

Purborini Kartiningsih, Sidoarjo

Sebuah perkawinan katolik akan sah secara penuh dan menjadi sakramen pernikahan jika sudah saling­ menukar janji pernikahan (ratum) dan disempurnakan dengan hubungan suami-istri (consummatum). Persetubuhan di sini tentulah persetubuhan yang dilakukan sesudah pengesahan dengan saling menukar janji nikah. Jadi, persetubuhan yang dilakukan sebelum pengesahan itu tidak bisa diperhitungkan sebagai ungkapan pemberian diri secara sah, tetapi dipandang sebagai pelanggaran atau dosa. Kehadiran bayi dalam kandungan tentu harus tetap diperhitungkan sebagai buah cinta antara mereka berdua, tetapi secara yuridis persetubuhan yang terjadi tidak menggantikan syarat consummatum itu.

Ketika saya menghadiri perkawinan saudara saya di Swiss, saya dikejutkan oleh kenyataan bahwa yang memimpin dan memberikan Sakramen Pernikahan adalah pemimpin setempat yang wanita. Apakah memang hal ini dibenarkan oleh Gereja?

Dorothea Chandra, Surabaya

Pertama, perlu dikoreksi bahwa dalam perayaan Sakramen Pernikahan, pelayan sakramen bukanlah imam atau diakon atau bahkan petugas awam, tetapi kedua mempelai itu sendiri. Mempelai pria dan mempelai wanita itulah yang saling memberikan Sakramen Pernikahan. Sedangkan imam atau diakon disebut sebagai “peneguh perkawinan”.

Kedua, peneguh perkawinan pada umumnya ialah imam atau diakon. Namun, “di mana tiada imam dan diakon, uskup diosesan dapat memberi delegasi kepada orang-orang awam untuk meneguhkan perkawinan, setelah ada dukungan dari Konferensi Para Uskup dan diperoleh izin dari Takhta Suci.” (KHK Kan 1112 # 1). Hukum Gereja tidak memberikan batasan tentang gender dari peneguh. Karena itu, secara yuridis, dapat dibenarkan bahwa peneguh perkawinan adalah seorang beriman awam wanita. Jika hal itu sudah dijalankan secara biasa, kita mengandaikan bahwa sudah ada ijin dari Konferensi Para Uskup setempat dan juga ijin dari Takhta Suci.

Adik saya sudah menerima Sakramen Pernikahan. Dia ditinggalkan oleh suaminya yang tergaet wanita lain yang tidak Katolik. Adik ipar saya itu menikah dengan wanita itu dan sudah mempunyai anak. Kata banyak sahabat, adik saya tidak boleh menerima komuni, karena sudah cerai. Apakah benar demikian? Kemudian wanita itu sekarang ingin menjadi Katolik, agar pernikahan mereka bisa disahkan? Apakah anak adik ipar saya itu boleh dibaptis?

Inggriani Setyningtyas, Kediri

Pertama,
tidak benar bahwa adik Ibu tidak boleh menerima komuni, sebab adik Ibu adalah korban dari tindakan suaminya. Di hadapan Gereja, mereka berdua masih sah sebagai suami istri. Malahan perkawinan kedua dari adik ipar Ibu tidak bisa dipandang sebagai sah. Karena itu, adik Ibu tetap boleh menerima komuni karena tidak ada hambatan dalam diri adik Ibu. Kesalahan terletak pada suaminya, bukan pada adik Ibu. Kecuali jika adik Ibu juga hidup bersama laki-laki lain. Yang jelas, adik ipar Ibu tidak boleh menyambut komuni, karena dia hidup dalam perzinahan dengan wanita lain yang bukan istrinya secara sah.

Kedua, karena perkawinan adik Ibu adalah sebuah sakramen, maka adik ipar Ibu terikat pada Sakramen Pernikahan itu. Hidup terpisah yang dilakukannya bukanlah perceraian dari perkawinan pertama, karena secara Katolik tidak ada perceraian. Karena itu, hidup bersama di luar pernikahan ini menjadi hambatan bagi wanita tersebut untuk dibaptis. Jika Anda mengetahui hal semacam ini, sebaiknya diberitahukan kepada Pastor Paroki sehingga bisa ditindaklanjuti. Yang jelas ialah bahwa wanita itu tidak bisa dibaptis dan lebih lagi mereka berdua tidak akan pernah bisa meresmikan perkawinan mereka secara Katolik, sampai kematian memisahkan pernikahannya yang pertama.

Ketiga, anak-anak dari perkawinan kedua bisa dibaptis. Gereja mensyaratkan agar pendidikan iman Katoliknya terjamin. Tentu pastor yang akan membaptis harus memastikan hal ini terutama karena perkawinan orangtuanya belum sah secara Katolik. Kesalahan orangtua bukanlah halangan bagi anak-anak untuk mendapatkan rahmat baptisan.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM




Kunjungan: 2284
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com