Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Manfaat Renungan Harian - Hidup Katolik

Manfaat Renungan Harian

Minggu, 22 Agustus 2010 12:01 WIB
Manfaat Renungan Harian
[Dok.Pribadi]
Auxentius Eko Susilo dan keluarga

HIDUPKATOLIK.com - Hidup ini ternyata tidak hanya dari roti saja, melainkan juga Firman Allah (bdk Mat 4:4). Paling tidak, itulah yang dirasakan para pembaca renungan harian.

Auxentius Eko Susilo (47), pembuat cemilan dengan bahan baku berbagai jenis kacang tinggal di Lingkungan St Elisabeth, Wilayah St Maria, Paroki St Paulus Miki Salatiga, Jawa Tengah, Keuskupan Agung Semarang (KAS). Lingkungan St Elisabeth tersebut berada di bilangan Perumahan Argo Mas, Kecamatan Argomulyo, Kotamadya Salatiga.

Pada mulanya, lelaki kelahiran Temanggung, Jateng, 18 Desember 1962 ini, aktif dalam Pembinaan Iman Anak (PIA). Entah karena apa, pastor paroki menghendakinya menjadi pro-diakon atau sering dikenal sebagai “diakon awam” dengan pekerjaan utama membantu pastor membagikan komuni, entah waktu Misa atau mengirim komuni ke rumah-rumah umat yang sedang sakit.

“Saya sebenarnya tidak pantas menjadi pro-diakon. Sebagai suami dan ayah tiga anak, saya masih banyak kekurangan. Namun, saya sendiri tidak tahu, kenapa saya ikut terpilih menjadi pro-diakon,” tutur suami Yustina Sukisworo (41) dan ayah Abel Jatayu Prakosa (18), David Permadi (12), dan Serafim Prasetya (6) ketika dihubungi HIDUP, Selasa siang, 3/8. Saat itu dia sedang dalam perjalanan menuju Semarang untuk menghadiri seminar tentang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Baca tiap malam
Eko terpilih menjadi pro-diakon sejak Maret 2006, sebagai salah satu wakil dari Wilayah St Maria. Semula dia cukup menikmati perannya mengantarkan komuni kepada orang-orang sakit. Akan tetapi, setelah diminta memimpin ibadat atau memberikan renungan dalam setiap doa bersama di lingkungan, Eko mulai kelimpungan. Bekal pengetahuan Kitab Suci yang dimilikinya hanya sebatas ketika bersekolah di sekolah Katolik saja.

Untunglah, mungkin juga jalan Tuhan, Eko menemukan buku Ziarah Batin di parokinya. Lalu, dia membeli buku terbitan Obor Jakarta tersebut untuk dipelajarinya. Mendapat bekal dari buku Ziarah Batin, Eko mempunyai keberanian memberikan renungan. Maklum, pro-diakon. Banyak umat menyenangi renungannya. “Biasanya bahan baku dari Ziarah Batin, lalu saya rangkaikan dengan pengalaman hidup saya sendiri,” ungkap Eko mengenai resepnya membuat renungan yang memikat.

Ternyata, Eko semakin terpikat pada Ziarah Batin. Dia tidak saja mempelajarinya, melainkan membaca, kemudian meresapinya, dan hasil renungannya tersebut dijadikan bekal kehidupannya sehari-hari. “Karena kesibukan, saya membaca Ziarah Batin pada malam hari, sebelum tidur. Yang saya baca adalah renungan untuk keesokan harinya,” demikian Eko.

Kian marak
Meski belum segetol umat Kristiani lainnya dalam membaca Kitab Suci, beberapa tahun terakhir ini umat Katolik sudah gandrung dengan renungan harian. Fenomena ini terlihat dari sejumlah penerbit, juga perorangan yang “memproduksi” renungan harian.

Penerbit Obor Jakarta sudah 15 tahun, sejak tahun 1995, menerbitkan Ziarah Batin. Penerbit Kanisius Yogyakarta, hampir delapan tahun sejak 2002, menerbitkan Inspirasi Batin. Penerbit di Yogyakarta lainnya, Yayasan Pustaka Nusatama juga menerbitkan Renungan Harian Mutiara Iman. Renungan harian juga bisa berbentuk situs di internet dan juga pelayanan SMS.

Kekuatan Mutiara Iman, antara lain pada penulisnya yang berasal dari berbagai keuskupan dan latar belakang, entah sebagai uskup, pastor, suster maupun awam dengan variasi karya dan spiritualitas. Menurut Uskup Ketapang Mgr Blasius Pujaraharja Pr, seperti yang tertulis dalam Kata Pengantar Mutiara Iman 2010, buku ini ditulis dengan metode yang tepat mengenai Lectio Divina (Bacaan Ilahi).

“Diinspirasi oleh para penulis, khususnya para imam yang mempelajari Kitab Suci dengan saksama, mensharingkan pengalaman imannya dalam Mutiara Iman ini kiranya akan sangat membantu kita menjadikan Kitab Suci Wujud Dialog (berbicara dan mendengarkan, akrab dan mesra dengan Tuhan, menjadikan kita semakin bersatu dengan Tuhan, semakin menyerupai Kristus),” tulis Mgr Puja.

Pastor Viany G. Untu MSC misalnya, menerbitkan Percikan Hati, sebuah buku renungan harian tipis berdurasi sebulan. Pastor yang mengambil Master Kitab Suci di India ini menerbitkan Percikan Hati sejak September 2002 dengan maksud agar umat yang tidak bisa mengikuti Misa, tetap menerima Sabda.

Percikan Hati terbit setiap bulan dan beredar di Sulawesi, juga di tanah Jawa seperti Surabaya, Yogyakarta, Purwokerto, dan Jakarta. “Sebagian pembaca di Jawa adalah umat Manado yang merantau. Yang lain adalah umat di mana MSC berkarya,” ungkap Pastor Viany, Pemimpin Umum Percikan Hati yang sehari-harinya menjadi dosen Kitab Suci di STF Seminari Pineleng.

Banyak terbantu
Menurut Pastor Viany, banyak umat yang terbantu oleh renungan harian. Dalam penulisannya, Percikan Hati melibatkan para frater, dicetak 12.000 eksemplar dan menjadi kegemaran umat Keuskupan Manado. Selanjutnya, berkembang dengan menerbitkan bacaan rohani Warna (Wahana Renungan Anak), sejak 2005, yang berisikan renungan untuk anak-anak. Kemudian, tahun 2006, Pastor Viany menerbitkan Cahaya Iman yang berisikan khotbah hari Minggu. Cahaya Iman yang menjadi inspirasi bagi pastor dalam menyiapkan khotbah, diterbitkan tiga bulan sekali (triwulanan).

“Kami memang menerbitkan buku-buku renungan harian sesuai kebutuhan umat. Kebutuhan umat menjadi pangkal pelayanan kami,” tegas Pastor Viany.

Fenomena menarik terjadi pada Ranting Embun yang beredar di Kevikepan Yogyakarta, KAS. Renungan yang terbit mingguan itu diterbitkan oleh pasutri Gregorius Garuda Sukmantara dan Elisabet Datik Wara Candrawardani. “Untuk isinya, saya yang menulis. Sedangkan istri saya bertugas mengurus percetakan hingga pendistribusian,” tutur Garuda saat ditemui HIDUP di kediamannya sekaligus Kantor Redaksi Ranting Embun di Perumahan Banteng Permai 9, Jalan Kaliurang, Yogyakarta, Rabu, 4/8.

Usia Ranting Embun hampir empat tahun (diterbitkan sejak September 2006). Renungan ini dikemas dalam selembar kertas ukuran folio, lalu dilipat rapi menjadi tiga bagian. Renungan ini menyajikan hal-hal yang ringan. “Kami berangkat dari peristiwa keseharian yang kecil-kecil, sepele, dan sederhana. Yang gemletek tapi saya anggap penting, seperti tentang sandal jepit, keset, serbet, angin, air kehidupan, dan sejenisnya. Itu saya jadikan renungan dan kemudian saya tulis,” kata Garuda.

Semula tema-tema renungan masih bebas. Namun, setelah Garuda mengenal kalenderium liturgi, tema-tema yang ditulis dalam renungannya mengacu pada kalenderium liturgi. Ranting Embun memiliki rubrik Cermin, Inspirasi, Si Kancil, dan kolom konsultasi Mbok Genep, dan Oase. Oase dan Mbok Genep menjadi rubrik favorit.

Pertama kali terbit, Ranting Embun hanya dicetak 200 eksemplar. Mulanya, hanya didistribusikan melalui Gereja Banteng, Minomartani, dan Pringwulung. “Awalnya, hanya saya selip-selipkan ke motor-motor yang diparkir di gereja,” kenang Datik. Kini, Ranting Embun dicetak 2.000 eksemplar per minggu dan beredar di paroki-paroki seperti Banteng, Minomartani, Pringwulung, Kotabaru, Jetis, Mlati, dan Pugeran.

Ranting Embun
bukan untuk dijual. Namun, mereka yang berminat dapat memberikan kontribusi untuk ganti ongkos cetak. Mereka dapat memasukkan uang kontribusi di kotak yang telah disediakan tanpa penjagaan. Dengan cara seperti itu, Ranting Embun tetap bisa terbit sampai sekarang. “Kami memang tidak bermaksud menjual. Jadi, sukarela saja. Mau mengganti biaya cetak, ya... monggo,” tutur Datik.

Mulanya, Garuda agak bimbang membuat renungan ini. Namun, di luar dugaannya, Pastor Prasetianta MSF, Pastor Paroki Keluarga Kudus Banteng, menyarankan agar Ranting Embun terus diterbitkan sebagai contoh renungan karya keluarga. “Harapan kami, dengan membaca Ranting Embun, umat akan tergerak membuat lembar renungannya sendiri,” tutur Garuda.

Konsep hidup
Agustinus Adi Kurdi, aktor yang dikenal sebagai pria bijak dan saleh dalam drama Mimbar Katolik di RCTI, menganggap penting renungan harian. Abah, begitu sapaannya ketika memerankan seorang ayah dalam sinetron Keluarga Cemara, mengatakan, Firman (renungan) harian itu memang perlu. Karena tidak semua orang memahami konsep hidup. “Paling tidak, renungan harian itu mengantarkan kepada kita betapa pentingnya memiliki konsep hidup,” ungkap Adi ketika ditemui HIDUP di rumahnya di bilangan Depok, Jawa Barat, Jumat malam, 30/7.

Lebih lanjut, Adi menjelaskan, orang bisa memiliki beberapa konsep tentang kehidupan. Misalnya, konsep hidup berdasarkan pikiran sendiri atau konsep hidup berdasarkan Firman Tuhan. Jika orang bersangkutan memilih konsep hidupnya berdasarkan Firman Tuhan, renungan harian menjadi penting sebagai “pemandu” untuk mengikuti “jalan Yesus”.

Adi mengaku sering membaca renungan, meski tidak setiap hari. “Saya biasanya baru merenung kalau ada masalah, baik masalah diri sendiri maupun masalah masyarakat. Kalau sedang happy, saya tidak merenung. Menurut saya, kalau bisa renungan-renungan itu tidak berhenti dalam sebuah renungan, tetapi harus mulai dirumuskan. Supaya lahir sebuah rumusan, lalu rumusan itu bisa diajarkan kepada orang lain. Kalau tidak seperti itu, renungan harian hanya menjadi kata-kata mutiara saja,” demikian Adi.

Adi mengingatkan, jika manusia tidak pernah merenung, kesadarannya tidak pernah tumbuh. Kesadaran baru akan bisa bekerja apabila orang sudah merasakan dan mengerti apa yang dirasakan, lalu merenungkannya. Baru dia menyadari. Setelah menyadari, dilaksanakan supaya menjadi perbuatan. “Perbuatan itu sendiri adalah ungkapan perasaan yang sudah dimengerti oleh pikiran dan direnungkan menjadi kesadaran. Makanya, di Gereja Katolik, renungan itu penting,” tutur Adi.

Untuk memudahkan
Robertus Peter Satriyo Sinurbyo yang didampingi Emanuel Ristantyo Erdian dari Penerbit Kanisius mengungkapkan, renungan harian yang diterbitkan Kanisius dimaksudkan untuk memudahkan umat memahami Kitab Suci. “Dengan membaca Inspirasi Batin, kami berharap umat jadi mudah memahami Kitab Suci,” kata Peter atau Pipit ini kepada HIDUP yang menemuinya di Penerbit Kanisius Deresan, Yogyakarta, Jumat, 6/8. Karena disadari, sampai kini masih banyak umat Katolik yang kurang akrab dengan Kitab Suci.

J.F.C. Shinta Dewi Asmarani (17), siswi SMA Stella Duce 2 Yogyakarta mengaku, sebelumya dia lebih sering membaca novel. Namun, sekarang dia mengimbangi dengan membaca renungan harian. “Tampaknya lebih simpel membaca renungan harian ketimbang membaca langsung Kitab Suci,” ucap pelajar kelas XII IPA yang akrab disapa Chiya.

Dengan membaca renungan harian, Chiya berusaha menerapkan bagaimana bertindak sesuai Ajaran Sosial Gereja. “Dampak membaca renungan harian memang tidak langsung, sret... bisa diterapkan. Tapi, perlahan-lahan,” tutur Chiya yang aktif di Biro Komunikasi Pelajar Katolik (B’Kompelk) Gereja Kotabaru.

Sedangkan Agnes Linea (22), mahasiswi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang gemar membaca renungan harian setiap pagi menuturkan, selain mudah memahami isi Kitab Suci, renungan harian juga dapat membangun karakter iman kristiani. “Penerapan renungan harian untuk membangun diri sendiri dulu. Baru nanti keluar untuk kebaikan orang lain,” ucap mahasiswi asal Tangerang, Banten ini.

Bagi Eko, sudah jelas. Dengan renungan harian, hidupnya menjadi lebih baik!

Budi Santosa Johanes,
Laporan: Paul D.F., A. Sudarmanto, Markus Ivan




Kunjungan: 1324
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com