Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Kitab Suci dan Anak - Hidup Katolik
Home » Tajuk

Kitab Suci dan Anak

Minggu, 5 September 2010 15:16 WIB
Kitab Suci dan Anak
[blog.kidsbeachclub.org]

HIDUPKATOLIK.com - Sulit untuk menjelaskan topik ini. Lihatlah gambaran Kitab Suci yang tebal, dengan huruf yang pada umumnya super kecil, dengan kertas tipis licin yang sukar diraba. Dengan realita ini, bagaimana anak-anak akan mencintai Kitab Suci?

Untunglah, para pencinta Kitab Suci memikirkan cara dan rekayasa. Kitab Suci dibuat agar bisa terjangkau oleh perasaan anak-anak: huruf diperbesar, di sana-sini diberi gambar warna-warni. Buku dibuat lebih lebar dan kertas yang lebih ramah untuk anak-anak. Semuanya dibuat agar Kitab Suci semakin mendekat dengan psikologi anak-anak.

Siapapun yang sedang memperjuangkan Kitab Suci untuk bisa lebih dicintai anak-anak, dia harus paham kebudayaan yang sedang berlangsung sekarang ini. Psikologi macam apakah yang menghinggap di dalam diri anak-anak zaman ini?

Kebudayaan ini telah membentuk anak-anak tidak mampu berkonsentrasi panjang. Coba lihat seluruh tontonan yang selalu pendek karena diganggu dan dipotong oleh iklan. Demikian pula, arus kebudayaan sekarang adalah kebudayaan yang tercerai-berai dan penuh distraksi, diisi dengan gangguan terus-menerus. Ketika anak-anak bangun tidur, dia akan diserbu dengan sekian saluran TV yang masing-masing menawarkan berbagai acara, kemudian tarikan lain seperti play-station, bergentayangan di mal, pusat rekreasi dan taman bermain, dan sebagainya untuk hanya menyebut beberapa. Anak-anak tidak terbiasa dengan fokus konsentrasi secara intens karena perhatian selalu terpecah-belah oleh berbagai gangguan.

Mereka yang cinta pada Kitab Suci pasti mengetahui hanya dengan napas panjang dan konsentrasi penuh, orang baru bisa merasakan buah-buah dari Kitab Suci. Lagi-lagi, mereka yang mencintai Kitab Suci mengerti ‘betapa dalam’ ayat-ayat Kitab Suci itu. Kitab Suci mengandung nas yang tidak pernah habis digali. Sementara kebudayaan kita adalah kebudayaan dangkal. Anak-anak sejak dini menjadi anak yang puas dengan melihat permukaan saja.

Tetapi kita juga bertanya-tanya: Apakah adil menuntut anak-anak setinggi itu? Bukankah mereka baru mulai diajak mengenal dan mencintai Kitab Suci? Benarkah sudah tidak ada peluang lagi Kitab Suci untuk anak-anak?

Betul, kita tidak mungkin menuntut anak-anak untuk tiba-tiba memenuhi tuntutan tersebut di atas. Bahkan sebaliknya, kita jangan membuat anak-anak menjadi ‘orang dewasa dalam bentuk mini’. Biarlah anak-anak menjadi anak-anak yang sesungguhnya. Dengan segala keterbatasannya (dan juga dengan segala kelebihannya).

Anak-anak adalah benih yang harus dijaga dan dirawat. Benih harus ditempatkan di atas tanah atau ditanam di dalam tanah yang subur. Ia harus disiram dengan air. Segala semak belukar dan duri juga harus dicegah agar benih yang mulai tumbuh itu tidak terhimpit.

Tetapi, bagaimana persisnya merawat benih dan tanaman muda ini? Bagaimana menjaga agar anak-anak ini tidak hanyut dengan arus kebudayaan tersebut di atas? Inilah bidang yang diperdebatkan bertahun-tahun dari satu seminar ke seminar lainnya oleh para ahli anak-anak. Sementara jawabannya belum jelas benar.

Pertama-tama, prinsip yang harus diperhatikan: jangan melawan kebudayaan yang sedang berlangsung. Simbolisnya, Gubernur DKI Jakarta yang dibantu belasan insinyur dan ahli saja belum dan tidak mampu mengatasi banjir di kota itu. Banyak orang Jakarta secara cerdik justru menjadi akrab dan mencari peluang baru di tengah-tengah banjir itu. Ini tentu bukan berarti bahwa banjir sebaiknya dibiarkan saja.

Tidak ada gunanya melawan arus kebudayaan. Yang paling sederhana adalah kita menghindar dari arus-arus negatif kebudayaan ini. Prinsip ini mungkin cocok untuk anak-anak yang jauh dari pusat-pusat modern. Mereka yang tinggal di desa dalam lingkungan agraris lebih mudah untuk merespons kedalaman nilai-nilai yang ada di dalam Kitab Suci.

Prinsip yang lebih canggih adalah justru memanfaatkan temuan-temuan baru. Mereka yang tinggal di lingkungan urban dengan kebudayaan kapitalisme merajalela tidak usah gentar dengan segala dampak buruknya. Kita justru memanfaatkan teknologi baru di bidang komunikasi, misalnya, untuk mendekati anak-anak. Tidak ada jalan lain, kita harus berkompetisi dengan arus kemajuan zaman.

Redaksi





Kunjungan: 548
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com