Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Santo Pius X: Ketua Putra Altar Jadi Paus Ekaristi - Hidup Katolik

Santo Pius X: Ketua Putra Altar Jadi Paus Ekaristi

Rabu, 19 September 2012 10:08 WIB
Santo Pius X: Ketua Putra Altar Jadi Paus Ekaristi
[catholicvote.org]

HIDUPKATOLIK.com - “Saya terlahir miskin, menjalani hidup miskin, dan ingin mati secara miskin.” Demikian bunyi surat wasiat yang ditulis Paus Pius X sebelum wafat.

Giuseppe Melchiorre Sarto adalah namanya sebelum menjadi Paus Pius X. Ia lahir di Reise, Treviso, Italia, 2 Juni 1835. Orangtuanya, Giovanni Battista Sarto (1792-1852) dan Margarita Sanson (1813- 1894), tak pernah mengira bayi mereka akan menjadi pemimpin tertinggi Gereja Katolik, Paus ke-257. Sebagai keluarga miskin yang hanya mengandalkan gaji pegawai pos rendahan, mereka hanya bisa mengajarkan iman dan kesalehan kepada anak-anaknya.

Giuseppe Melchiorre Sarto menghayati kaul kemiskinan dengan sukacita. Setiap hari Beppi, panggilannya, berjalan kaki enam kilometer ke Sekolah Dasar Castelfranco Veneto dengan telanjang kaki. Ia belajar bahasa Latin dari pastor di desa kelahirannya, yang waktu itu masuk wilayah Kerajaan Austria.

Kehidupan menggereja Beppi menggembirakan. Ia menjadi ketua putra altar
yang rajin. Kesalehannya membuat pastor paroki terkesan. Ia mendapat beasiswa dari Keuskupan Treviso untuk belajar di Seminari Padua.

Pada 18 September 1858, pada usia 24 tahun, ia ditahbiskan menjadi imam.
Tugas pertamanya di Paroki Tombolo, Padua, Italia selama sembilan tahun.
Ia mengidolakan Santo Leonardus dari Porto Mauritio (1676-1751), Fransiskan yang menjadi teladan dalam hidup dan berkhotbah. Leonardus setia pada bapak rohaninya, Fransiskus dari Asisi. Setiap pukul 04.00 ia berlutut di depan tabernakel. Atasannya menulis, “Saya yakin, pada suatu hari ia akan mengenakan mitra, setelah itu siapa tahu?”

Tugas keduanya di Paroki Salzano selama sembilan tahun. Kemudian ia bergabung dengan Ordo Ketiga Santo Fransiskus dan mendirikan dua
Persaudaraan Ordo Ketiga Sekular. Kata-kata dan tulisan-tulisannya diwarnai
keugaharian sesuai standar hidup Fransiskan. Ia tak suka penyambutan dan
perjamuan mewah.

Perbarui semua hal
Karena kesalehan dan kemampuannya, ia diangkat menjadi imam kanonik di
Gereja Katedral Treviso pada 1875. Kemudian ia ditunjuk sebagai pembimbing rohani, pengajar, dan rektor di Seminari Treviso. Pada 16 November 1884, Pastor Sarto ditahbiskan sebagai Uskup Mantua, Italia.

Selama menjadi uskup, ia giat merasul melalui media pers yang merupakan
mimbar zaman modern. Saat itu, kondisi keuskupan kacau, seminari ditutup,
paroki mengalami kekosongan pastor, kaum buruh tergerus sosialisme, intelektual hanyut oleh liberalisme, aliran freemasonry menyebar, dan adanya antiklerikalisme.

Dengan berani, Uskup Sarto membuka kembali seminari, meneguhkan para
imam, mengadakan kunjungan pastoral ke paroki-paroki, dan berkhotbah agar
iman umat tetap teguh. Kunjungan pastoral yang dilakukan Uskup Sarto
menggerakkannya untuk menggelar Sinode di Mantua pada 1888, guna
merumuskan Pedoman Kerja Keuskupan.

Pada 12 Juni 1893, Paus Leo XIII mengangkat Uskup Sarto sebagai Kardinal. Dan tak lama kemudian, Paus Leo mengangkatnya sebagai Batrik Venesia. Dalam jabatan itu, ia memperbarui pendidikan seminari, musik liturgi, metode pewartaan, lembaga studi Kitab Suci, penerjemahan Kitab Suci, dan pelajaran agama di sekolah.

Ia pergi ke Vatikan guna mengikuti konklaf, setelah Paus Leo XIII wafat pada
1903. Para kardinal memilih Kardinal Giuseppe Melchiore Sarto menjadi Paus. Awalnya, ia menolak jabatan itu, namun karena desakan para kardinal
akhirnya ia menerimanya. Paus Pius X resmi menduduki Takhta Petrus pada 9
Agustus 1903. Nama Pius dipilihnya untuk menghormati Paus Pius IX (1846- 1878) yang berjuang melawan teologi liberal.

Pius X adalah sosok penuh kasih, bijak, tegas, tapi juga keras kepala. Ia satu-satunya paus abad ke-20 yang memberi khotbah setiap hari Minggu, menghayati kepausannya dengan pengalaman berpastoral yang luas di tingkat paroki, memperbolehkan Istana Vatikan dijadikan tempat pengungsian korban gempa Messina 1908, dan menolak fasilitas khusus bagi tiga saudara laki-laki dan enam saudara perempuannya. Ia selalu mengundang teman saat jam makan tiba, membawa permen untuk anak-anak jalanan, dan mengajar agama bagi mereka.

Program kerjanya adalah ‘Memperbarui Semua Hal dalam Kristus’ dengan
mendukung kebangunan rohani, penyambutan komuni sejak usia tujuh tahun, penerimaan komuni setiap hari, standar kesucian hidup para klerus, perkembangan ordo ketiga, kerja imam dan katekis, penggunaan kembali lagu-lagu Gregorian dalam Misa, revisi ibadat harian, devosi kepada Maria, mencintai Mazmur, dan penolakan kawin campur. Katekismus Pius X dalam Surat Acerbo Nimis 1905 menggunakan bahasa yang sederhana, jelas, mendalam, mudah direalisasikan, dan seragam untuk seluruh dunia. Meskipun sudah berusia 100 tahun, Katekismus itu masih aktual.

Seperti Pius IX, ia pun sangat terus terang. Dalam Dekrit Lamentabili dan Ensiklik Dominici Gregis, ia menentang modernisme dan jansenisme yang dianggapnya sebagai kesalahan fatal yang bisa merusak teologi, filosofi, dan
dogma Gereja. Modernisme menuntut ajaran Gereja dilebur dengan filosofi
populer abad ke-19. Warisan Thomas Aquinas tentang alasan dan wahyu dihidupkan kembali sebagai tanggapan atas pencerahan sekuler itu. Praktik
devosional tradisional dan teologi Ortodoks dipromosikannya. Ia tak gentar
walau tidak didukung para aristokrat. Teolog yang menganut modernisme
diberi kesempatan kembali pada ajaran Katolik, jika tidak, diekskomunikasi.

Ia pun mendorong pemisahan Gereja dan negara di Perancis, agar Gereja tidak dirongrong pemerintah dan kekuasaan sipil. Hal ini membuat hubungan diplomasi Vatikan dengan Perancis putus. Para Yesuit di Perancis diusir. Sikap tegasnya juga ia tunjukkan dalam Mandat Apostolik 25 Agustus 1910. Katanya, menjadi Katolik berarti tidak menolerir dosa. Yang dibenci dosanya, bukan pendosanya, tegasnya.

Paus Ekaristi
Tahun 1913, Paus Pius X mengalami serangan jantung. Pecahnya Perang Dunia I memperburuk kesehatannya. Serangan jantung kembali menderanya
pada 20 Agustus 1914 dan ia pun wafat. Penggantinya, Paus Benediktus XV.

Sesuai wasiatnya, jenazahnya dimakamkan di sebuah makam sederhana tanpa
hiasan di bawah tanah Basilika Santo Petrus Roma. Wasiatnya juga menolak
pembuangan organ tubuhnya untuk memudahkan proses pembalsaman.

Devosi dan ziarah ke makamnya mulai dilakukan umat Katolik antara Perang Dunia I dan II. Beberapa orang sembuh dari penyakitnya setelah berdoa novena melalui perantaraannya dan memegang relikwinya.

Pius X dibeatifikasi pada 3 Juni 1950 dan dikanonisasi pada 29 Mei 1954 oleh
Paus Pius XII. Ia adalah Paus pertama yang dikanonisasi sejak kanonisasi Pius
V pada 1712. Pesta namanya dirayakan pada 21 Agustus, berdekatan dengan hari wafatnya.

Paus Pius XII menggelarinya Paus Ekaristi, untuk menghormati usahanya
mengizinkan komuni bagi anak-anak, walau ia tak setuju dengan praktik pemberian komuni pada bayi. Devosinya pada Ekaristi dan semboyannya, “Komuni kudus adalah jalan tersingkat dan teraman menuju surga” membuatnya digelari Paus Sakramen Mahakudus.

Rini Giri




Kunjungan: 1087
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com