Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


A Wahyudianto SX: Orang Pertama Indonesia Memimpin SX Indonesia - Hidup Katolik

A Wahyudianto SX: Orang Pertama Indonesia Memimpin SX Indonesia

Kamis, 27 September 2012 10:12 WIB
A Wahyudianto SX: Orang Pertama Indonesia Memimpin SX Indonesia
[Dok. Pribadi]
Pastor Antonius Wahyudianto SX saat memberkati anak-anak dalam Misa di Mentawai, Sumatra Barat.

HIDUPKATOLIK.com - Bagi Pastor Antonius Wahyudianto SX, tugas yang diembannya saat ini adalah salah satu bentuk kepercayaan para konfraternya, Xaverian Indonesia. Ia menilai Roh Kudus turut bekerja dalam diri para rekannya itu.

Serikat Xaverian (SX) Pro­vinsi Indonesia mengadakan Kapitel Regional di Rumah Provinsialat Xaverian Indonesia Padang, Sumatra Utara, April lalu. Dalam Kapitel itu, Pastor Anton terpilih sebagai Provinsial Indonesia. Ia adalah orang pertama Indonesia yang dipercaya untuk memimpin Xaverian di Indonesia selama empat tahun ke depan.

Pastor Anton melihat tugas ini sebagai sebuah tanggung jawab sekaligus pelayanan. “Saya menerima tugas ini dengan bulat hati. Dalam Dewan Pro­vinsial ada empat rekan lain, jadi kami bekerja sebagai teamwork, bukan sendiri,” tutur Pastor Anton ketika ditemui di Wisma Conforti Cempaka Putih, Jakarta, Selasa, 14/8.

Xaverian Indonesia
Menurut pastor yang mengikrarkan profesi kekal pada 3 Desember 1994 ini, tugas memimpin karya kerasulan SX di Indonesia saat ini bukan tanpa tantangan. Tantangan yang dimaksud ialah masalah umur para Xaverian. Ia membagi para imam Xaverian dalam tiga golongan umur. Pertama, mereka yang berumur 75 tahun ke atas sekitar 10 orang. Di bidang pelayanan paroki, mereka tidak aktif secara penuh lagi karena keterbatasan fisik. Kedua, mereka yang berumur 50-75 tahun juga sudah mulai banyak. Ketiga, mereka yang berumur sekitar 40-50 tahun sekitar 40 persen. Meski mengalami keterbatasan demikian, Xaverian Indonesia tetap bersedia mengirimkan para imamnya bila dibutuhkan.

Untuk mengatasi kebutuhan yang sangat mendesak ini, Pastor Anton menempuh berbagai cara. Ia akan mengembangkan komunikasi dengan Direksi Jenderal di Roma, Italia untuk meminta imam-imam Xaverian Indonesia yang saat ini berkarya di luar negeri dikirim ke Indonesia. Dan, para imam yang baru ditahbiskan agar tidak langsung dikirim ke luar negeri. Kesulitan soal tenaga misionaris ini, karena beberapa tahun terakhir muncul kebijakan dari Pemerintah Indo­nesia yang membatasi para misio­naris dari luar negeri berkarya di Indo­nesia.

Tantangan lain yang menurut Pastor Anton harus ditanggapi dengan serius adalah menerjemahkan kharisma Xaverian ke dalam konteks Indonesia. Ada tiga hal yang mendasari usaha ini. Pertama, Ad Extra yang merujuk pada perutusan para murid, “Pergilah jadikanlah semua bangsa murid-Ku…(Mat 28:19). Kedua, Kesaksian Ko­muniter di mana perutusan itu tidak dihayati secara pribadi, tetapi sebagai satu komunitas. Dalam konteks ini, ia menegaskan mimpi pendiri Serikat Xaverian Santo Guido Maria Conforti untuk “menjadikan dunia satu keluarga” sungguh mengena dengan konteks Indonesia. “Kata keluarga itu sangat Indonesia. Jadi, mimpi Conforti itu bukan satu utopia, tetapi sungguh bisa dilaksanakan di Indonesia. Karena itu, yang diutamakan dalam karya kerasulan ialah kesaksian komuniter, bukan usaha pribadi,” tegas Pastor Anton.

Ketiga, dialog dengan agama lain, orang miskin, dan budaya. Dialog ini hanya akan menjadi lebih kuat bila unsur ko­muniter juga semakin kuat.

Pengalaman kerasulan
Meski tantangan yang dihadapi cukup berat, Pastor Anton merasa hal itu bisa ditangani. Keyakinan itu ia dasarkan pada pengalaman kerasulannya selama bertahun-tahun sebelumnya. Ia bercerita, setelah mengikrarkan kaul pertama pada 1988, ia mendapat kesempatan mengunjungi semua tempat karya Xaverian di Indonesia. “Dalam kunjungan itu, saya jatuh cinta pada Mentawai. Maka, saat saya menjalani Tahun Orientasi Misioner (TOM), saya kembali bertugas di sana. Begitupun praktik diakonat saya,” kisahnya.

Pastor Anton merasa pengalamannya di Mentawai, Sumatra Barat, adalah pengalaman misionernya yang pertama. Ia harus belajar bahasa Mentawai selama tiga bulan. Dan, setelah bulan keempat, ia sudah bisa berkunjung ke stasi-stasi dan berkhotbah dalam bahasa Mentawai.

Pengalaman bersama umat Mentawai sempat terputus beberapa tahun, karena setelah tahbisan, ia berkarya di Bangladesh. Sejak 2009, ia kembali bertugas di Mentawai hingga terpilih menjadi Provinsial. Dari pengalaman karyanya, pastor yang menerima tahbisan diakon pada 17 Januari 1996 ini, menilai agama Katolik di Mentawai belum menjadi bagian orang-orang Mentawai.

“Agama Katolik masih dirasakan sebagai sesuatu yang dimiliki, bukan sesuatu yang sudah menyatu dalam diri mereka,” jelasnya. Hal ini disebabkan karena kepercayaan orang-orang Mentawai kepada roh alam dan nenek mo­yang masih sangat kuat. Contohnya dalam pernikahan, urusan adat lebih utama daripada Misa pernikahan di gereja.

Lain halnya dengan Bangladesh. Pastor yang mempunyai hobi melukis ini menuturkan, orang Bangladesh sangat religius. Mereka sangat devosional karena dipengaruhi tradisi Portugis.

Berkarya selama sepuluh tahun di Bangladesh memberi bekal yang cukup bagi Pastor Anton untuk menata karya Xaverian Indonesia. Pasalnya, konteks Bangladesh hampir sama dengan Indonesia, di mana tiga model dialog itu bisa dikembangkan. Karena itu, Pastor Anton berniat membawa Xaverian Indonesia menampilkan dirinya secara khas Indonesia, baik di Indonesia maupun di negara lain, tempat imam-imam Xaverian
Indo­nesia berkarya. “Kesaksian komunitas misioner yang menjunjung tinggi kekeluargaanlah yang hendak kami bawa dan tawarkan di mana pun kami berada. Ini kekhasan Xaverian Indo­nesia yang harus ditawarkan kepada Gereja universal,” tegas Pastor Anton.

Antonius Wahyudianto SX
TTL : Lubuk Pakam, Sumatra Utara, 11 September 1966
Tahbisan imam : 6 Juli 1996

Pendidikan :
• Seminari Menengah Pematangsiantar, Sumatra Utara (1981-1987)
• Novisiat Serikat Xaverian (1987)
• Teologi-Filsafat di STF Driyarkara (1988-1992)
• Teologi di Kentungan, Yogyakarta (1993-1996)
• Belajar Bahasa Inggris di London, Inggris (1996-1997)

Karya Kerasulan :
• Tahun Orientasi Misioner (TOM) di Mentawai, Sumatra Barat (1992-1993)
• Pastor Rekan Paroki Katedral Mymensingh, Bangladesh, untuk melayani
suku-suku Garo dan Bormon di Stasi Noluakuri (1998-2004)
• Animator Misioner Panggilan di Xaverian House Dhaka, Bangladesh (2004-2008)
• Pastor Paroki Muara Siberut, Mentawai (2009-2012)
• Provinsial Serikat Xaverian (SX) Indonesia (April 2012-sekarang)

Stefanus P. Elu




Kunjungan: 1231
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com