Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Kuburan untuk Semua Agama - Hidup Katolik

Kuburan untuk Semua Agama

Minggu, 21 November 2010 14:40 WIB
Kuburan untuk Semua Agama
[HIDUP/Johanes Sutanto de Britto]
Mohammad Sobary

HIDUPKATOLIK.com - Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2010 merupakan perayaan panggilan Gereja untuk mewartakan Kabar Gembira Keselamatan (Evangelisasi).

Jadi, Mewartakan Kabar Gembira Keselamatan atau yang kerap disebut Evangelisasi merupakan hal yang paling esensial dalam SAGKI ini. Meski di sana-sini Mohammad Sobary, budayawan Muslim, mengutip Romo (Y.B.) Mangunwijaya yang Katolik, tidak terhindarkan narasi yang disampaikan dalam salah satu sesi sidang SAGKI (3 November 2010) boleh disebut ”Evangelisasi ala Sobary”.

Apa yang terpantul dalam gagasan dan tindakan Romo Mangun? Demikian pertanyaan yang disampaikan Mohammad Sobary dalam narasinya. Romo Mangun menekankan hormat terhadap cita rasa lokal dan agar agama tidak terasing.

Sobary mengatakan bahwa agama mestinya digunakan untuk menyirami jiwa manusia dengan kesegaran iman, bukan untuk mencari barisan pengikut. ”Usaha menggaet sebanyak mungkin pengikut agar umat memiliki makna politis yang kuat, bukan merupakan prioritas dalam langkah keagamaan.”

Kemanusiaan universal
Evangelisasi ala Sobary adalah menyampaikan pesan kemanusiaan universal. Dia mengatakan dan menulis, ”Di sini makna kemanusiaan ditampilkan lebih kuat daripada makna simbol kekatolikan. Bahkan, ketika penerbit-penerbit buku muncul dengan simbol Katolik, di sana jelas bahwa kebanggaan akan nama agama bukan untuk bersikap eksklusif, melainkan untuk menandai bahwa kami, Katolik, juga ikut serta dengan penuh dedikasi membangun jiwa bangsa sambil memperkukuh pembinaan jiwa umat secara internal.”

Sobary tidak bermaksud menjunjung sikap relativis dan relativisme. Kembali mengutip tokoh yang dikaguminya, Romo Mangun menghendaki pengikut yang tulus secara imani, dan membentuk jiwa militan secara rohaniah, bukan militan secara politik. Dia tak menyukai umat Katolik yang berpindah-pindah agama, karena sikap itu memberi kesan bahwa agama hanya merupakan suatu urusan ’coba-coba’, tidak tulus, dan tidak serius.

Evangelisasi itu politik
Romo Mangun, demikian Sobary, merasa lebih nyaman pada konsep Gereja sebagai institusi sosial, yang biasanya diartikan sebagai sistem nilai untuk memenuhi segenap kebutuhan pokok manusia. ”Kebutuhan pokok manusia yang dapat dipenuhi Gereja sudah pasti bukan penyediaan stok beras dan bahan makanan pokok lainnya, melainkan merawat kebutuhan rohani umat”.

Dalam banyak kejadian, demikian Sobary, hidup menjadi lebih menakutkan ketika agama diurus dan dipikirkan dengan menggunakan bahasa politik. ”Betul bahwa semua hal itu politik. Betul bahwa agama juga politik dan mengandung dimensi politik di dalamnya. Dalam banyak kasus, terutama saat ini, makna kebangkitan keagamaan bukan kebangkitan rohani tetapi kebangkitan kepentingan politik yang tak ada habis-habisnya dan membuat kita makin takut.”

Mengapa agama bukan menghasilkan kerukunan dan rasa damai, malah menjadi sumber perpecahan? Suara Katolik, sebagaimana yang dikemukakan Romo Mangun, sejak awal menitikberatkan peran agama sebagai kekuatan moral. Jadi, politik pewartaan Kabar Gembira adalah politik moral, politik kesejahteraan. ”Dia sama sekali tidak suka agama dihitung sebagai kekuatan politik yang secara sangat frontal dan tajam memperhadapkan kepentingan minoritas vs mayoritas. Dalam urusan rohani, pengkotakan minoritas vs mayoritas tidak relevan.”

Politik moral pewartaan Sabda Tuhan mau tidak mau membawa Gereja menjadi ’subversif’. Kata yang negatif dan menakutkan di masa lalu, sekarang justru menjadi value yang diterima bahkan menjadi sikap hidup yang harus diperjuangkan. ”Romo Mangun memperlihatkan sikap pro kaum miskin denganjelas. Perkara ini sudah menjadi bagian dari sejarah Katolik. Peran beliau jelas ikut membesarkan nama Katolik dalam percaturan hidup nasional.”

Melampaui kekinian
Sobary menyampaikan usulan satiris bagaimana minoritas menyampaikan kesaksiannya. Perlawanan kaum lemah dan minoritas tadi, harus dibuat menyolok. ”Di atas tanah lima hektar, misalnya, ditulis ”Kuburan Katolik: Wilayah Bebas Agama”. Dengan huruf besar-besar yang tebal, dan tak bisa rusak. Di bawahnya ditambah tulisan kecil berbunyi: Selamat Bergabung Saudara-saudara pemeluk Islam, Buddha, Hindu, Konghucu, dll.... Anggaplah di rumah sendiri.”

”Kenapa organisasi sosial keagamaan selalu sibuk hanya membuat sekolah, rumah sakit, rumah ibadah, dan hal-hal yang bersifat kekinian, tetapi lupa membuat rumah peristirahatan yang betul-betul nyaman sebagai rumah lintas agama buat masa depan? Saya yakin, Katolik mampu mewujudkan gagasan tentang wilayah bebas agama ini sebagai bagian dari sikap otonom dan pemikiran subversifnya.”

Greg Soetomo SJ




Kunjungan: 941
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com