Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Memahami Aneka Wajah Yesus: Dari Camat ke Tukang Kedai - Hidup Katolik

Memahami Aneka Wajah Yesus: Dari Camat ke Tukang Kedai

Minggu, 21 November 2010 14:25 WIB
Memahami Aneka Wajah Yesus: Dari Camat ke Tukang Kedai
[HIDUP/Johanes Sutanto de Britto]
Ketua KWI, Mgr Martinus D. Situmorang OFMCap,(kanan) bersama dua narator SAGKI Mohammad Sobary (Kiri) dan Sri Pannyavaro (tengah).

HIDUPKATOLIK.com - Maria Florida Bunga Makin, yang lahir di Desa Loro, Larantuka, 27 November 1973, Flores, menjadi lebih jelas dalam memahami aneka wajah Yesus ketika merantau ke berbagai tempat di negeri ini.

”Pengalaman hidup di Ma­­lang merupakan awal pembentukan diriku untuk hidup dalam sebuah situasi yang pluralis, berani menerima siapa saja dari berbagai suku dan budaya. Tanpa saya sadari pengalaman awal ini yang mempersiapkan diri saya untuk memasuki ingar-bingar Pulau Industri-Batam, dengan aneka manusia dari berbagai sudut Nusantara.”

Kisah sedih dianggap sebagai orang liar diala­­mi Bunga Makin dan keluarganya ketika menginjakkan kaki di Batam. Biaya hidup yang tinggi dengan pendapatan seadanya memaksa keluarga ini mengawali hidup di pinggir jalan. ”Dalam situasi seperti ini kami dibantu oleh seorang bapak yang bernama Pak Rajimun, seorang dari suku Jawa dan beragama Islam. Bapak inilah yang membantu suami saya bekerja sebagai karyawan permanen. Dalam diri Pak Rajimun inilah sa­­ya mengalami ”Wajah Yesus” yang hadir
da­­lam situasi RULI (rumah liar) yang saya alami. Dengan pertolongan Pak Rajimun inilah kami akhirnya mendapatkan modal yang cukup untuk memiliki rumah permanen milik sendiri di daerah Mantang, tempat tinggal saya sekarang.”

Rai Sudhiarsa SVD, anggota Tim Perumus SAGKI, merumuskan refleksi imannya secara ringkas: ”Kita bisa belajar dari siapa saja mengenai hidup beriman, mengenai kesetiaan, mengenai perbuatan baik yang berkenan kepada Allah.”

Isi
Ketika diminta berbagi pengalaman bersama dengan orang miskin dan kelompo marginal, pertanyaan yang menjadi pergulatan hati Maria Mediatrix Mali yang lahir di Ende, 21 Agustus 1960 adalah: ”Apa tanggapan konkret orang beriman Katolik di Flores terhadap problem kemiskinan di Flores? Apakah agama Katolik sungguh menjadi institusi penyelamatan?” Dua pertanyaan masa lalu yang selalu kini dan aktual.

Jauh sebelum pertanyaan-pertanyaan berat di atas muncul, Hendrika yang adalah seorang Camat Kecamatan Kelam Permai, Ka­­bupaten Sintang, menyampaikan sesuatu yang terdengar primitif namun fundamental. ”Pertemuan pertamaku dengan Yesus terjadi kala aku berusia tiga bulan dan dipermandikan di Gereja Katedral Kristus Raja Sintang.”

Bertemu dengan Yesus kerap melewati sebuah jalan yang penuh dengan loncatan. Salah satunya dialami oleh Agustinus Adi Kurdi, seorang budayawan dan seniman, asal Pekalongan, warga Keuskupan Bogor, yang mengatakan, ”Saya baru menyadari, bahwa semua itu bukanlah keanehan atau kebetulan. Semua itu adalah rencana Tuhan. Tuhan memanggil saya untuk menjadi seniman dan Katolik”.

Wajah Yesus bagi Trix Mali, panggilan akrab Maria Mediatrix Mali, yang tinggal di Flores adalah kemiskinan dan nasib yang tida­­k tentu. Da­­n ya­­ng pa­­ling krusia­­l untuk mena­­ngga­­pi persoa­­la­­n ini a­­da­­la­­h menguba­­h pola­­ pikir wa­­rga­­ ya­­ng menga­­ngga­­p kemiskina­­n seba­­ga­­i ta­­kdir, pa­­sra­­h menerima­­ sega­­la­­ ma­­sa­­la­­h sebaga­­i penyelengga­­ra­­a­­n Ila­­hi. Denga­­n demikia­­n, wa­­ja­­h Yesus ba­­ginya­­ a­­da­­la­­h Yesus Sa­­ng Pembeba­­s.

Ma­­kluma­­t pembeba­­sa­­n Yesus da­­la­­m Injil Luka­­s tera­­sa­­ menggera­­kka­­n: ”Roh Tuha­­n a­­da­­ pa­­da­­Ku, oleh seba­­b Ia­­ tela­­h mengura­­pi Aku, untuk menya­­mpa­­ika­­n ka­­ba­­r ba­­ik kepa­­da­­ ora­­ng-ora­­ng miskin; da­­n ia­­ tela­­h mengutus Aku, untuk memberita­­ka­­n pembeba­­sa­­n kepa­­da­­ ora­­ng-ora­­ng ta­­wa­­na­­n, da­­n pengliha­­ta­­n bagi ora­­ng-ora­­ng buta­­, untuk membeba­­ska­­n ora­­ng-ora­­ng ya­­ng tertinda­­s, untuk memberita­­ka­­n ta­­hun ra­­hma­­t Tuha­­n tela­­h da­­ta­­ng” (Luka­­s 4: 1819).

Pa­­stor Willia­­m Cha­­ng OFMCa­­p, a­­nggota­­ Tim Perumus ya­­ng la­­in, berta­­nya­­, ”Sebena­­rnya­­ kemiskina­­n menyentuh perut, ma­­ka­­na­­n, minuma­­n, da­­n perumahan. Justru itu, refleksi ini akan membatasi diri pada kemiskina­­n jasmania­­h ya­­ng nya­­ta­­, ta­­npa­­ menia­­da­­ka­­n ka­­ita­­nnya­­ denga­­n kemiskina­­n menta­­l, spiritua­­l, da­­n mora­­l. Ba­­ga­­ima­­na­­ka­­h a­­ya­­t sentra­­l da­­ri Yoh 10:10 (”Ia­­ da­­ta­­ng supa­­ya­­ semua­­ memperoleh hidup da­­la­­m kelimpa­­ha­­n”) da­­pa­­t diterjema­­hka­­n dala­­m konteks kemiskina­­n ja­­sma­­nia­­h?

Pa­­stor Cha­­ng pun menja­­wa­­b perta­­nya­­a­­nnya­­ sendiri: Supa­­ya­­, ”Ia­­ da­­ta­­ng supaya­­ semua­­ memperoleh hidup da­­la­­m kelimpa­­ha­­n”, ma­­ka­­ ”ka­­mu ha­­rus memberi mereka­­ ma­­ka­­n!”

Metode
Ca­­ra­­ da­­n metode bereva­­ngelisa­­si itu begitu berva­­ria­­si. Pa­­stor Jhon, pa­­nggila­­n a­­kra­­b Pa­­stor Alberto Jhon Christoforus Buna­­y, ima­­m Diosesa­­n Ja­­ya­­pura­­, mengerja­­ka­­n seca­­ra­­ tra­­disiona­­l. Ima­­m ya­­ng dita­­hbiska­­n pa­­da­­ 2 Februa­­ri 2001 di Pa­­roki Kristus Ra­­ja­­, Wa­­mena­­, Pa­­pua­­ ini berkeliling da­­era­­h-da­­era­­h, mengada­­ka­­n semina­­r penyembuha­­n luka­­ ba­­tin.

Peserta­­nya­­ bera­­sa­­l da­­ri pelba­­ga­­i da­­era­­h da­­n la­­ta­­r bela­­ka­­ng a­­ga­­ma­­. Menurutnya­­, metode ini cukup memba­­ntu ma­­sya­­ra­­ka­­t Pa­­pua­­ ya­­ng terceka­­m oleh penga­­la­­ma­­n kekera­­sa­­n, tersingkir, da­­n teka­­na­­n militer.

Teta­­pi, Adi Kurdi mela­­kuka­­n eva­­ngelisa­­si da­­la­­m isi da­­n metode ya­­ng sa­­nga­­t lain. Untuk menja­­wa­­b pa­­nggila­­n Tuha­­n, Adi berpenda­­pa­­t, ”Film da­­n televisi saya­­ ma­­nfa­­a­­tka­­n untuk mela­­ksa­­na­­ka­­n tuga­­s itu.”

Diskusi mengena­­i metode eva­­ngelisa­­si itu terus berkemba­­ng. Mewa­­rta­­ka­­n Kaba­­r Gembira­­ seba­­ga­­i seora­­ng peja­­ba­­t di peda­­la­­ma­­n Ka­­lima­­nta­­n, Hendrika­­ mengungka­­pka­­n kesa­­ksia­­nnya­­. ”Iba­­ra­­t seora­­ng ‘gemba­­la­­’, seka­­ra­­ng sa­­ya­­ bertuga­­s membina­­ ma­­sya­­ra­­ka­­t di seba­­nya­­k 254 desa­­, ya­­ng ma­­yorita­­s penduduknya berasal dari etnis Dayak. Sebagai Camat, saya memberikan yang terbaik untuk meningkatkan mutu hidup, pendidikan, dan masa depan masyarakat dalam kecamatan saya. Dengan semangat Yesus, saya membawa Kabar Baik bagi mereka yang memerlukan uluran tangan. Tantangan yang menghadang tidak sedikit. Namun, saya tidak merasa takut atau gentar, karena Yesus selalu beserta saya dalam hidup dan tugas pelayanan.”

Rumusan Romo Neles Tebay, yang juga anggota Tim Perumus SAGKI, membuat kita terhenyak, ketika ia berbicara tentang isi dan metode pewartaan. ”Kita percaya bahwa Tuhan Yesus sudah hadir dalam setiap kebudayaan kita, jauh sebelum agama Katolik hadir di daerah kita, sebelum Injil diwartakan kepada orang-orang dari budaya kita, dan sebelum misionaris tiba di daerah kita. Tentu Tuhan Yesus hadir dalam kebudayaan kita agar pendukung dari kebudayaan setempat dapat menikmati hidup yang berlimpah (Jn 10:10) atau menikmati keselamatan. Kehadiran Tuhan Yesus dalam kebudayaan tidak perlu menunggu hingga orang dari kebudayaan tersebut memeluk agama Ka­­tolik.”

Jerih payah
Setelah enam tahun berjuang setengah mati di Batam, demikian Bunga Makin mengisahkan, tahun 2004, datang ajakan dari pastor paroki untuk mengikuti Asian Inte­­gral Pastoral Approach (AsIPA). Setiap Senin, selama satu tahun ia mengikuti kursus ini. Mengutip magnifikat Bunda Maria, ia bertanya dalam hati: ”Siapakah saya ini, sehingga ditugaskan untuk mengikuti pemberda­­yaan semacam itu?”

Setelah tujuh tahun terlibat dalam AsIPA, dan anaknya memasuki pendidikan SMP, tambahan penghasilan menjadi tuntutan berikut. Bunga Makin mendukung suami untuk mencari tambahan penghasilan. Setiap pagi sampai sore, ia berjualan di pintu gerbang PT Batam Mech, Tanjung Uncang. Malam hari kunjungan ke komunitas untuk doa, untuk pemberdayaan umat di KBG yang lain, untuk mendampingi studi bahan AsIPA bagi para fasilitator yang baru maupun untuk pendalaman sinode keuskupan.

”Dan kendati aku cuma seorang ibu rumah tangga, yang hanya membuka kedai di pintu gerbang PT Batam Mech, sehingga dari segi materi mungkin memberikan sangat kurang, namun aku memberikan seluruhnya untuk Tuhan dan Gereja-Nya tanpa khawatir akan apa yang aku makan dan apa yang aku minum. Buktinya, dari pagi hingga siang aku berjualan di depan pintu gerbang PT Batam Mech dan malam hari melayani umat, tetapi aku bisa ikut menopang keluarga.”

Trix Mali mengenang pada tahun 1990-an ketika tinggal di Bogor, ia diminta sang uskup (Mgr Ignatius Harsono Pr Alm) untuk membangun dan mendirikan gedung sekolah. Ia dan rekan-rekannya berkeliling dan bersilaturahmi untuk mendapatkan tanda tangan sebagai syarat pendirian dan operasional sekolah. Tokoh agama setempat terang-terangan menolaknya, tentu sa­­ja kekhawatiran akan kristenisasi. Nama Maria tidak disetujui para tokoh agama dan masyarakat. Mereka menyampaikan, perizinan akan lebih cepat jika nama sekolah itu ’Kartini’ atau setidaknya ’Maria –Kartini’.

Menghadapi intimidasi ini, Trix Mali, perempuan yang sekarang kembali tinggal di Ende berkata, ”Sekali Maria, tetap Maria, ka­­mi tak bisa menggantikan dengan nama apa pun, walaupun kami tahu konsekuensinya kesulitan pasti akan terus dialami. Di tengah kemelut itu hadir sebuah penghiburan. Pater Michael Angkur OFM (sekarang Uskup Bogor) dalam Misa pemberkatan bangunan sekolah TK Maria (1993), dengan tegas mengatakan, ”Sekali salib tertancap ditempat ini, tidak akan ada yang sanggup mencabutnya kembali.” Bersaksi dan mewartakan Kabar Gembira, sangat sering bukan berupa romantisme serba indah dan damai. Keteguhan sikap dan keberanian untuk berkonfrontasi merupakan risiko salib juga.

Akhirnya, dengan ketekunan serta pendekatan kepada berbagai pihak, dewan keluarga Masjid, hingga ke Depdiknas Jawa Ba­­rat. ”Dan pendekatan yang intensif kepada Tuhan, dengan tekun berdoa, delapan ta­­hun kemudian, tahun 1999 sekolah TK-SD-SLTP Maria Cimanggis memiliki izin resmi, mendapatkan status ”Diakui” oleh Depdiknas Jawa Barat.”

Dari pengalaman pribadi mewartakan Sabda Tuhan, Trix Mali sampai pada keyakinan, ”Saya menemukan bahwa doa bagi saya meski tidak memberikan pemecahan instan dan menghasilkan mukjizat terus-menerus terhadap problem-problem yang saya alami, namun ia membuat saya kuat, berani, dan membuka mata saya untuk menemukan pencerahan yang mengantar pada kelimpahan hidup. Wajah Yesus yang tampak pada saya ialah Dia yang memberikan kekuatan dan keberanian.”

Greg Soetomo SJ




Kunjungan: 769
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com