Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Menyikapi Penderitaan dan Bencana - Hidup Katolik

Menyikapi Penderitaan dan Bencana

Minggu, 21 November 2010 14:48 WIB
Menyikapi Penderitaan dan Bencana
[chriscolotti.us]

HIDUPKATOLIK.com - Dewasa ini aneka bentuk penderitaan melekat dalam hidup kita sehari-hari, baik itu penderitaan dalam tarafnya yang paling ringan sampai ke yang paling berat sekalipun. Bukankah kalau mau jujur, masyarakat Indonesia dewasa ini amat akrab dengan rentetan beban penderitaan? Tsunami Mentawai, bencana gunung berapi, luapan lumpur Lapindo, bencana banjir yang merajalela baru-baru ini, tanah longsor yang menewaskan puluhan orang, melambungnya harga kebutuhan pokok yang membuat nafas kaum miskin kian tercekik, kerusuhan di sana-sini, dan sederet bentuk penderitaan lainnya seakan begitu melekat dalam keseharian manusia Indonesia.

Pertanyaan yang sering terungkap dari mulut kita adalah: ”Mengapa manusia harus menderita? Tidak adakah jalan lain untuk hidup selain melewati penderitaan? Mungkinkah penderitaan itu berlalu? Atau, mungkinkah ada kehidupan tanpa harus menderita?”

Rentetan pertanyaan itu terkesan aneh dan mengadaada, tetapi konkret dan mengena. Mengena, jika yang mengatakannya terutama adalah mereka yang tertindas dan teraniaya tanpa mempunyai cukup daya untuk melawannya. Mengena, jika yang mengatakannya adalah manusia Indonesia yang seakan-akan terus-menerus didera oleh aneka bencana dan situasi yang tidak kunjung membaik.

Sejak zaman lampau agama-agama yang ada di dunia menggeluti pertanyaan abadi mengenai penderitaan ini. Atas pendalaman akan tema ini pun Siddharta Gautama dalam Buddhisme bahkan mengatakan bahwa hidup adalah penderitaan itu sendiri. Penderitaan ternyata juga dialami oleh para nabi yang dianut oleh agama-agama wahyu. Nabi Ayub secara khusus bahkan bergulat dengan persoalan penderitaan. Ayub bukan hanya sekadar berteori mengenai penderitaan, tetapi mengalaminya sendiri.

Menderita untuk bangkit
Wafat Yesus secara khusus dijadikan momentum bagi umat Kristiani dan seluruh umat beriman di berbagai belahan dunia untuk mendalami misteri kematian dan penderitaan. Penderitaan rupanya menjadi elemen konstitutif yang tidak bisa dilepaskan dari hidup setiap manusia. Mengapa? Karena jelas tidak ada satu manusia pun yang tidak mengalami penderitaan.

Tuhan yang mau hidup di tengah manusia ternyata pada akhir hidupnya di dunia berkehendak untuk mengalami situasi yang semua manusia alami, yaitu mengalami pahitnya sengsara dan gelapnya kematian. Dia memilih untuk memikul salib dan mati. Penolakan dan kebejatan umat manusia seakan ”memaksa” Tuhan untuk memanggul semua kondisi yang menyedihkan ini, hingga akhirnya nafas terakhir pun dihembuskan di atas kayu salib. Tetapi ternyata semua ini bukanlah akhir! Ada kemenangan yang telah menanti setelah suramnya penderitaan, yakni kemuliaan kebangkitan yang akan datang dengan segera di hari Paska.

Dengan demikian, jika Tuhan saja berkehendak memeluk penderitaan, mengapa kita sebagai orang yang mengaku beragama alergi tehadapnya? Jika Tuhan saja mau memanggul salib kesengsaraan, mengapa kita sebagai orang yang beragama hendak membuangnya jauh-jauh?

Hidup memang bukan untuk menderita dan mati konyol. Hidup juga bukan diisi dengan kemurungan salib melulu, karena Tuhan menciptakan manusia jelas bukan untuk membuatnya menderita. Bahkan celakalah pula orang-orang yang dengan sengaja membuat salib dan penderitaan bagi sesamanya! Akan tetapi memang benar adanya bahwa hidup memang dilingkupi oleh misteri besar penderitaan, dan mau tidak mau manusia harus bergumul dengannya.

Menyikapi bencana
Ada kesusahan yang memang lahir dari kesalahan kita, tetapi ada juga kemurungan yang terjadi begitu saja. Pertanyaan yang relevan untuk kita kemudian adalah: ”Banjir, tanah longsor, ekonomi biaya tinggi, kecelakaan, gempa bumi, dan aneka kemalangan lain muncul karena kesalahan kita atau memang terjadi begitu saja?”

Jika memang semua terjadi karena keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam, tentu menjadi tanggung jawab manusia untuk memperbaikinya. Jika keterpurukan bangsa terjadi karena perilaku korup kita, maka kewajiban kitalah untuk melakukan langkah-langkah perbaikan. Jika kecelakaan transportasi terjadi karena kecerobohan manusia, maka hal itu menjadi tanggung jawab manusialah untuk membenahinya.

Akan tetapi bagaimana jika semua itu terjadi bukan karena kesalahan kita? Di titik inilah manusia ditantang imannya akan terang-benderang kebangkitan setelah semua itu terjadi, sama persis ketika Yesus menyandang salib yang bukan akibat kesalahan-Nya. Pasti, semua peristiwa itu punya makna, dan tugas kita untuk memaknainya.

Agustinus Wisnu Dewantara

Dosen Filsafat dan Agama STKIP Widya Yuwana Madiun,
tinggal di Madiun, Jawa Timur




Kunjungan: 571
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com