Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Requiem Untuk Si Bungsu - Hidup Katolik

Requiem Untuk Si Bungsu

Rabu, 3 Oktober 2012 16:23 WIB
Requiem Untuk Si Bungsu
[Markus Ivan]
Heribertus Joseph Kemanto (memegang foto Ignatius Sapta Kurniawan), diapit Petrus Sumadi dan istrinya Josephin Marilah

HIDUPKATOLIK.com - Sebelum kecelakaan maut kereta api (KA) di Stasiun Petarukan, Desa Serang, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, merenggut nyawanya, Ignatius Sapta Kurniawan (23) sempat berkirim SMS kepada ibundanya, Josephin Marilah : ke semarang nih mak

Sapta sebelumnya juga mengabarkan kepergiannya ke Semarang, untuk week end di tempat pakdenya,Yahjo, pensiunan Brimob. Itulah komunikasi terakhir
antara Sapta dengan ibunya, sebelum pemuda lajang itu pergi untuk selamanya.
“Itulah kabar terakhir dari Sapta,” tutur ayahnya, Heribertus Joseph Kemanto di rumah duka Dusun Plemantung, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogtakarta (DIY), Selasa, 5/10.

Ia merupakan salah satu korban tewas akibat KA Senja Utama jurusan Jakarta-Semarang yang ditumpanginya dihantam dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek jurusan Jakarta-Surabaya. Peristiwa kecelakaan KA itu tepatnya terjadi Sabtu, 2/10, pukul 02.45 WIB, sekitar 100 meter arah barat
dari Stasiun Petarukan.

Jenazah almarhum Sapta telah dikebumikan di Makam Suci Plemantung, Senin, 4/10 siang. Sebelumnya, dilakukan Misa requiemdi rumah duka, dipimpin Pastor Kepala Paroki Ganjuran, Antonius Jarot Kusno Priyono Pr.

Tidak seperti biasa
Sapta bekerja di Dinas Perhubungan Udara Merauke, Papua. Ia, ditempatkan
di Bandara Perintis Okaba, Merauke. Di Jawa, ia tengah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Penerbangan (STIP) Curug, Tangerang. “Dari dinas, anak saya ini disekolahkan di STIP Curug untuk jadi komando
lalulintas udara. Ia sebetulnya tinggal menunggu praktik kerja lapangan (PKL).
Kemungkinan, nantinya ia akan ditempatkan PKL di Bandara Sam Ratulangi Manado atau Batam,” kata Kemanto, pensiunan pegawai Dinas Perhubungan Udara Merauke.

Ayahnya menceritakan, biasanya anaknya yang terkecil ini kalau menikmati liburan sekolah, pulang dulu ke Desa Badegan, Bantul. “Belum pernah ia dari Tangerang langsung ke Semarang. Karena rumah di Badegan kosong, ia bisa istirahat dan bersihbersih rumah,” kata ayahnya menyesali.

Sapta, kelahiran Sentani, Papua, 27 Maret l987 ini adalah anak terkecil dari empat bersaudara. Selepas lulus SMP di Merauke, ia sempat tinggal selama setahun bersama neneknya, Maria Martowiyono di Plemantung, Bantul. Saat itu, ia sekolah di SMA Stella Duce Ganjuran, Bantul. Dididik di Yayasan
Sekolah Katolik membuat Sapta menjadi pintar. Sayangnya, ia hanya betah duduk di kelas satu saja. Selanjutnya, ia memilih keluar untuk kembali ke Papua. “Ia bersikeras minta keluar dari Stella Duce, karena saat itu teman- teman sekolahnya berperilaku tidak baik. Ia memilih keluar karena tidak
mau kena pengaruh negatif,” terang pakdenya, Petrus Sumadi.

Lalu, Sapta melanjutkan ke SMA 3 Merauke. Lulus SMA, ia mencoba mendaftar di STIP Curug, namun kemudian keluar karena saat itu tidak tahan menghadapi siksaan fisik dari senior-seniornya. Lalu, ia pulang lagi ke
Merauke, dan pada November 2007 mendaftar di Dinas Perhubungan Udara Merauke. Selanjutnya, ia ditempatkan di Bandara Perintis Okaba, Merauke.

Kini, ia dikirim tempat kerjanya untuk menempuh pendidikan lagi di STIP Curug. Namun, kali ini Sapta tak lagi mengalami kekerasan dari para seniornya. “Dulu, perutnya sampai menghitam, akibat bekas pukulan senior-
seniornya,” sebut Marilah.

Prestasi gemilang
Ibunya mengaku bangga karena anak bungsunya yang suka bercanda ini ternyata prestasi belajarnya di Curug, gemilang. “Anak saya ini selalu juara pertama. Ia anak pandai,” terang Marilah perlahan.

Sampai kini tak ada keluarganya yang tahu saat kecelakaan KA, Sapta duduk di bangku atau gerbong yang mana. “Mungkin di gerbong yang terbalik itu,” duga ibunya yang guru SD.

Menurut ayahnya, di Sentani, anak bungsunya aktif dalam pelayanan pastoral. Ia sering ikut membina calon penerima Sakramen Krisma. Karena itu, kalau ada kunjungan pastoral, ia selalu diajak pastor dari Gereja Katolik Okaba. “Meski bukan katekis, anak saya ini selalu diajak pastor untuk memberikan
pembinaan bagi para calon penerima krisma,” tuturnya. “Anak kami ini sejak
SD sampai SMP menjadi misdinar,” sambung ibunya.

Ketika terjadi kecelakaan, Kemanto masih berada di Merauke. Karena sejak pensiun dari Bandara Perintis Okaba, Merauke, ia ditugasi Uskup Agung Merauke untuk mempersiapkan operasional pesawat yang akan menuju pedalaman. “Tugas kami mengurusi administrasi, melakukan penimbangan barang-barang yang akan dibawa ke pedalaman,” sebutnya.

Ia mengaku, pertama mendengar kabar kecelakaan KA yang menimpa anaknya dari keponakannya di Semarang. “Minggu, jam dua siang, saya diberi tahu Nuryaningsih, anak kakak saya yang ada di Semarang. Sebenarnya, dari pagi keluarga di Bantul sini juga sudah tahu kejadian itu, tapi tidak berani
memberi tahu kami,” kata Kemanto.

Begitu mendengar kabar tewasnya Sapta, Kemanto dan istri serta anak- anaknya yang lain langsung terbang ke Yogya. “Saya sampai di Bantul, Minggu malam,” terangnya.

Yang masih dikenang Kemanto, anaknya yang paling kecil ini tak pernah menuntut sesuatu kepada orangtuanya. “Apa pun pekerjaan yang dibebankan padanya selalu beres. Baik di lingkungan, gereja, maupun di tempat kerjanya,” kenang ayahnya sambil menahan tangis.

Mengenai tewasnya Sapta ini, salah satu televisi swasta sempat menayangkan daftar nama korban yang keliru. Karena, nama Ignatius Sapta Kurniawan disebut Agustinus Danang Fajar Suryanto. Danang memang kakak kandung korban Sapta. Kakak beradik ini wajahnya mirip. “Tapi siang harinya, nama
Danang sudah diralat di tayangan televisi menjadi Ignatius Sapta Kurniawan,”
ujar ayahnya.

Menurut Kemanto, kesalahan menayangkan nama korban ini menjadikan Danang banyak dikirimi karangan bunga duka cita. “Padahal, rumah di Badegan, yang terletak persis di belakang Polres Bantul itu kosong,” tuturnya.

Pakde korban, Sumadi menduga, kekeliruan penayangan nama korban itu timbul, karena identitas diri yang dibawa Sapta saat peristiwa kecelakaan KA adalah KTP milik kakaknya. Ini terjadi, karena Sapta yang ber-KTP Sentani, ketika akan memperpanjang SIM (surat izin mengemudi) harus kembali ke Papua. Maka, ia pinjam KTP kakaknya yang wajahnya serupa, untuk diganti foto dirinya. “Jadi, untuk mengurus SIM, Sapta menggunakan KTP kakaknya yang ditempel foto dirinya,” cerita Sumadi.

Danang sendiri tahu tentang kecelakaan yang dialami adiknya, setelah mencoba
mengontak HP milik Sapta. Namun, pagi itu yang menerima bukan adiknya, tapi salah satu dokter di RSUD Dr Ashari Pemalang, yang menangani jenazah korban Sapta.

Firasat
Selanjutnya, jenazah Sapta dibawa ke Bantul, disemayamkan di rumah neneknya Dusun Plemantung, Desa Sidomulyo. Jenazah Sapta yang kondisi tubuhnya mengenaskan, baru tiba di Bantul, Minggu, 3/10, sekitar pukul 09.00.

Sumadi menceritakan, nenek korban Maria Martowiyono yang sudah berusia
90-an tahun, begitu tahu nasib cucunya yang mengalami kecelakaan KA, langsung shock dan dilarikan ke RS Elisabeth Ganjuran. “Sampai kini simbok masih di rumah sakit,” katanya.

Kedua orangtua korban Sapta mengaku sebelumnya tidak ada firasat apa pun atas anaknya. “Saat itu saya masih berada di Merauke,” kata ayahnya. Namun menurut Sumadi, yang mendapat firasat buruk justru neneknya. Ia menceritakan, saat kejadian Sabtu dini hari ini nenek korban merasa dipanggil-
panggil oleh cucunya. “Dari luar pintu, simbok merasa dipanggil-panggil:
Mbok..Mbok..Mbok,” ucap Sumadi seraya menjelaskan, Sapta kalau memanggil neneknya memang Mbok.

Nenek Martowiyono yang merasa dibangunkan sempat keluar rumah, tetapi ia tidak melihat seorangpun. Maka, nenek uzur ini kemudian masuk lagi. “Mungkin, simbok punya firasat yang tidak baik,” duganya.

Begitu mendengar kabar tentang kematian Sapta, pakdenya langsung mengumpulkan keluarganya di Bantul, untuk diajak ke rumah nenek Martowiyono. “Waktu itu simbok tanya, ada apa kamu kok nggeret (membawa) adik-adikmu ke sini?” Sumadi pun menjelaskan bahwa Sapta meninggal karena kecelakaan KA. Simbok kaget, dan hanya bisa bilang: “He?” Lalu, menangis terguguk. Melihat itu, Sumadi dan adik-adiknya tak
mampu menahan tangis. “Mendengar suara tangis kami, semula para tetangga menyangka yang meninggal adalah simbok,” kata Sumadi.

Yohanes Mangute, salah seorang rekan kerja Sapta di Bandara Perintis Okaba, Merauke menyebutkan, tragedi yang dialami sahabatnya ini bertepatan satu tahun almarhum bekerja di bandara perintis tersebut, tepatnya sejak 2 Oktober 2009.

“Lokasi kerja kami di daerah terpencil, sehingga kami di sana tinggal serumah selama satu tahun itu,” ucap Mangute sedih.

Ia mengaku, sehari sebelum kejadian sempat berkomunikasi dengan almarhum.
Saat itu, Sapta mengatakan masih berada di Jakarta, dan tidak menyampaikan rencana kepergiannya ke rumah pakdenya di Semarang.

Ia mengenal Sapta sebagai sosok periang, dan sering menghibur teman-teman kerjanya. “Sama mamaknya, kerjanya juga bercanda,” terang ibunya Marilah.

Markus Ivan




Kunjungan: 1214
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com