Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Geliat Orang Muda Katolik - Hidup Katolik

Geliat Orang Muda Katolik

Minggu, 7 November 2010 16:07 WIB
Geliat Orang Muda Katolik
[Dok. TAGANA]
Jambore Nasional TAGANA.

HIDUPKATOLIK.com - Benarkah dunia orang muda identik dengan hura-hura? Apakah generasi muda sekarang ini cuek bebek dengan keadaan lingkungan sosial sekitar? Mungkin, cerita di bawah ini bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Masih jelas dalam ingatan kita, Senin, 4/10, luapan air yang konon berasal dari empat sungai, mengubur Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat. Banjir bandang ini memakan korban lebih dari 150 jiwa. Dalam peristiwa ini banyak relawan muda terjun langsung membantu penduduk yang selamat.

Adalah Taruna Siaga Bencana (TAGANA) – kelompok relawan berskala nasional – yang dengan keterampilan yang dimiliki berkoordinasi memberikan suasana nyaman bagi pengungsi yang selamat. Bersama berbagai unsur masyarakat di Papua, relawan TAGANA Papua dan relawan TAGANA Pusat Jakarta langsung menuju lokasi kejadian bencana.

Saat ditemui di Posko Pusat TAGANA, Salemba, Jakarta Pusat, Selasa, 10/10, Relawan Tetap TAGANA Artha Paramita Prima Ardiyanti mengatakan, kerjasama tersebut dimungkinkan karena TAGANA memiliki posko dengan peralatan canggih seperti radio internet, solar cell, GPS, HT, telepon satelit, dan berbagai perangkat lain. Dengan alat-alat tersebut, mereka bisa berkomunikasi dengan posko di daerah-daerah lain.

Atha – panggilannya - yang pernah aktif di Kelompok Mahasiswa Katolik Universitas Indonesia (KMK UI) dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Keuskupan Agung Jakarta (PMKAJ) merasakan perbedaan tersendiri saat bergabung dengan TAGANA. Dara yang termasuk Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santo Antonius Padua Bidara Cina, Jakarta Timur ini berkata, “Kalo di PMKAJ, aku sudah biasa kerja dengan kerja yang teratur, terencana, dan terkoordinir dengan baik. Di sini beda banget. Aku bener-bener mulai dari nol.” Memang kegiatan di TAGANA tidak sedinamis di PMKAJ.

Habis-habisan
Di kelompok relawan ini, Atha berkumpul dan bekerjasama dengan para relawan yang memiliki latar belakang, agama, pengalaman, pendapat, dan pola pikir berbeda. “Apa yang aku hadapi di sini jauh lebih bervariasi. Tak jarang, kami sering beradu pendapat. Di situlah tantangannya,” ujarnya.

Setelah bergabung dengan TAGANA, Atha belajar banyak hal terkait nilai kerelaan yang belum pernah dipelajarinya di komunitas lain. “Kalo mau sungguh jadi relawan ya, benar-benar rela, jangan nanggung-nanggung, total, dan harus habis-habisan,” jelasnya. Saat ini, Atha diserahi tanggung jawab mengolah data bencana di Posko Pusat TAGANA.

TAGANA berdiri tahun 2004 di bawah naungan dan koordinasi Kementerian Sosial (Kemensos) RI. TAGANA dibentuk sebagai usaha mendorong dan memberdayakan masyarakat agar dapat menanggulangi bencana dengan kekuatannya sendiri, atau yang biasa disebut dengan Community Based Disaster Management. “Di sini, kami membantu pemerintah mendorong masyarakat agar tidak hanya mengandalkan bantuan pemerintah. Masyarakat mampu membangun kesadaran sendiri terhadap kondisi lingkungannya yang berpotensi bencana,” ungkapnya.

Di bawah panji TAGANA, puluhan ribu taruna bersatu menjadi relawan. Mereka tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Mereka dilatih untuk selalu siap siaga dan berpadu dengan kekuatan masyarakat menolong korban bencana di wilayahnya. Dalam wadah ini, seluruh relawan memiliki tujuan yang sama: menolong sesama secara nyata, tanpa melihat latar belakang, pengalaman, umur, suku, apalagi agama.

Pertolongan nyata terlihat dalam kegiatan penyuluhan kepada masyarakat. Sebagai contoh, mereka baru saja memberikan penyuluhan di Kampung Melayu Kecil. Di sana, TAGANA mengajak masyarakat sekitar belajar menyelamatkan diri ketika banjir, membangun tenda dan posko darurat. “Kami membantu mereka untuk berpikir tenang, tidak panik saat ada bencana, bisa berpikir taktis, dan tahu bagaimana harus mengambil langkah yang diperlukan,” terangnya.

Setiap tahun, para relawan TAGANA se-Indonesia bersama berbagai pihak mengadakan kegiatan Jambore Nasional. Dalam acara ini, seluruh relawan TAGANA Indonesia dari 33 provinsi berkumpul dan berbagi pengalaman serta kegiatan yang telah dilakukan selama setahun. Juga ada silaturahmi antara pejabat pusat dan para relawan, ada upacara besar, ada atraksi, olahraga bersama, pameran alat-alat, dan keterampilan.

Acara yang biasa diadakan bulan November atau Desember setiap tahun ini juga menjadi ajang para relawan untuk belajar bagaimana melakukan pengerahan massa dalam waktu singkat di dalam situasi bencana. Untuk menambah atau melengkapi wawasan para relawan, simulasi dilaksanakan. Biasanya para relawan dibagi dalam kelompok-kelompok. Setiap kelompok mempunyai peran sendiri. Ada yang bertugas di bagian pembuatan tenda atau posko, ada yang bertugas di bagian evakuasi, ada yang bertugas di bagian penyaluran logistik, dan ada yang menjadi korban.

Meski latar belakang mereka beragam, relawan TAGANA tetap saling terikat. Nilai totalitas, kerelaan dan kemanusiaan adalah nilai-nilai utama yang mendasari dan mengikat kebersamaan mereka menjadi pejuang kecil bagi komunitas masyarakat sekitar. “Kami bangga jadi relawan TAGANA. Biasanya anggota TAGANA menjadi orang pertama yang ada di lokasi bencana dan tahu apa yang harus dilakukan,” ujar Atha. Anggota TAGANA punya pemikiran sistematis untuk bekerja di lapangan, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi saat terlibat dan bekerja tanpa pamrih. Menurut Atha, “TAGANA mengajarkan generasi muda untuk menjunjung tinggi kemanusiaan. Karena itu rasa ikhlas untuk membantu orang lain pun menjadi lebih besar.”

Gropesh
Bagaimana dengan gerak OMK di dalam Gereja sendiri? Adakah satu bentuk kepedulian mereka terhadap keadaan lingkungan sekitar?

Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2005 menelurkan tiga isu yang menjadi keprihatinan keuskupan yaitu: buruh, kekerasan, dan lingkungan hidup non-hutan (sampah). SAGKI 2005 juga membidani munculnya gerakan baru. Pastor Al. Andang L. Binawan SJ, Vikaris Episkopalis Keuskupan Agung Jakarta (Vikep KAJ) memprakarsai lahirnya gerakan yang dikenal sebagai Gerakan Orang Muda Peduli Sampah (Gropesh).

Pada 25 Maret 2007, Gropesh resmi terbentuk beranggotakan orang muda Katolik dari seluruh KAJ yang memiliki keprihatinan terhadap lingkungan hidup khususnya soal sampah. Adalah Sakura Pringgohardjoso, mantan humas Gropesh, yang menceritakan sekelumit kisah Gropesh.

Gropesh adalah kelompok yang bertumbuh sedemikian pesat dan tiba-tiba menjadi tenar dalam sekejap. Dengan seragam kaos hitam dan lengan hijau betuliskan “taruh sampah jadikan berkah,” anak-anak muda ini selalu eksis di acara-acara besar yang diselenggarakan di setiap dekenat KAJ. Dari sanalah banyak orang mulai mengenal Gropesh.

Xaxa – sapaan akrabnya – menjelaskan, hampir di setiap perayaan, Gropesh mengerahkan lebih dari sepuluh pasukan hijau hitam. Mereka dilengkapi dengan brosur gerakan 3R+R (Reduce, Reuse, Recycle + Replant) dan kantong plastik sampah dua warna (bening dan hitam). Tugas mereka waktu itu, lebih tepat disebut tukang pungut sampah daripada tukang kampanye peduli sampah. “Karena begitulah pekerjaan kami, memungut sampah dan memilahnya,” ungkap Xaxa.

Setelah beberapa kegiatan dilakukan, Pastor Andang menilai perlu membentuk sebuah struktur kepengurusan yang lebih jelas. Maka, tanggal 21-22 Oktober 2007, Gropesh mengadakan rapat kerja di markas mereka, Kramat, Jakarta Pusat. Di sana terbentuk kepengurusan inti dan empat divisi yang diharapkan dapat menjadi motor untuk menggerakkan teman-teman lain. “Pada awal-awal, semangat kami menggebu-gebu. Kami berpikir tentang banyak hal yang mungkin kami lakukan,” kenang Xaxa.

Gropesh pun mulai melebarkan sayapnya. Perluasan jaringan yang dilakukan Gropesh dilakukan dengan beberapa cara. Pertama-tama, terlibat dalam kegiatan-kegiatan, baik internal maupun eksternal Gereja. Misalnya: Perayaan Syukur 200 tahun Gereja Katolik di Jakarta, pertemuan-pertemuan Aksi Puasa Pembangunan, acara-acara paroki. Sementara yang eksternal, misalnya ikut Green Festival.

Selain berkegiatan, Gropesh juga merambah ke dunia maya. Mereka sadar betul, orang muda sekarang sudah melek teknologi. Mereka berusaha menyapa sesama lewat media internet, misalnya dengan memiliki mailing list Peduli Sampah, Facebook Gropesh Jakarta, Page di facebook Gropesh, dan blog di www.gropesh.multiply.com.

Pasca Green Festival 2008, Gropesh kebanjiran tawaran manggung alias kampanye ke berbagai sekolah dan kelompok masyarakat. Ternyata tawaran bertubi-tubi itu mendatangkan efek negatif: Gropesh mulai kehabisan energi. Satu per satu anggotanya menyusut. Ada yang sibuk kuliah atau kerja, pindah ke luar kota, bahkan ada yang tidak ada kabarnya sama sekali.

Meskipun tidak banyak yang tersisa, mereka tetap menyimpan bahan bakar yang cukup untuk perjalanan panjang. Perlahan-lahan Gropesh bangkit dan merangkul anak-anak baru melalui pelatihan promotor Gropesh yang diadakan pada April 2009.

Pasca pelatihan, beberapa anggota Gropesh mengikuti retret dalam hidup sehari-hari selama satu bulan di bawah bimbingan Pastor Josephus Adi Wardaya SJ. Di sana, mereka diajak untuk menemukan jawaban mengapa sebagai orang muda Katolik mereka perlu melakukan hal ini.

Menurut Xaxa, retret tersebut tidak terlalu berhasil baik karena hanya diikuti delapan orang. Beberapa di antaranya mengundurkan diri di tengah jalan. Namun yang tersisa tak patah arang. Bahan bakar mereka memang cukup banyak untuk perjalanan panjang. Mereka pun mulai lagi memikirkan bagaimana menggerakkan teman-teman Gropesh lainnya.

Menurut Xaxa, masa-masa ini adalah masa di mana grafik pergerakan Gropesh berada di titik terendah. “Ketika diajak berkumpul, yang datang paling banyak lima orang. Bahkan suatu hari, acara nobar alias nonton bareng pun tidak ada yang menanggapi,“ ujarnya, Kami akhirnya kembali pada pertanyaan, mengapa sih kami harus mempertahankan Gropesh?”, katanya lebih lanjut.

Meskipun jatuh bangun dan harus memunguti sampah, Gropesh tetap hidup. Hal itu sangat mungkin disebabkan semangat atau spiritualitas mereka. Menurut Xaxa, Gropesh itu sebenarnya merupakan wujud ekspresi syukur anggotanya kepada Tuhan. Syukur atas dunia yang indah, di mana semua manusia bisa hidup layak dan bermartabat. Untuk itulah manusia perlu menjaga bumi yang diberikan Tuhan agar bisa hidup layak dan bermartabat.

Tuhan menitipkan bumi ini pada manusia, bukan untuk dirusak dan dikotori, tetapi untuk dijaga dan dipelihara. Salah satu wujud nyatanya adalah melalui kepedulian manusia terhadap sampah. “Segala bentuk kampanye sampah yang terucap dari mulut kita, bukan sekedar mengingatkan orang untuk menjaga kebersihan. Di sana kita sedang mewujudkan ekspresi syukur kita kepada Tuhan” tandasnya.

Untuk bisa menyebarkan visi tersebut Gropesh melakukan kampanye dan pelatihan. Bentuknya bisa macam-macam, seperti mencetak kaos, stiker ataupun pin. Pelatihan pun dilakukan di berbagai tempat, misalnya di sekolah, paroki atau kelompok masyarakat umum.

Katarina Siena Vania




Kunjungan: 942
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com