Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Rezeki Selalu Datang - Hidup Katolik

Rezeki Selalu Datang

Senin, 22 Oktober 2012 11:58 WIB
Rezeki Selalu Datang
[HIDUP/Heri Kartono OSC]
Bukan kiamat: Anna Sri Harti Sunaryo membangun gua Maria di rumahnya di Cirebon sebagai wujud syukurnya atas penyertaan Tuhan

HIDUPKATOLIK.com - Ketika sang suami dipanggil Tuhan secara tiba-tiba, dunianya serasa kiamat. Selain sangat kehilangan, Anna Sri Harti Sunaryo juga dikepung kebingungan bagaimana ia harus menghidupi delapan anaknya yang masih membutuhkan banyak biaya…

Wanita asal Purworejo, Jawa Tengah ini menikah pada usia teramat belia, 17 tahun. Sang suami, Sunaryo adalah seorang polisi, yang merupakan anak tunggal seorang haji. Sedangkan keluarga Sri merupakan penganut aliran kepercayaan atau kejawen. Sri adalah anak kedelapan dari 12 bersaudara. Empat kakaknya menjadi Katolik karena dimasukkan orangtuanya ke asrama Katolik di kawasan Mendut dan Muntilan, Jawa Tengah.

Karena sering melihat kakak-kakaknya berdoa rosario, diam-diam Sri tertarik ingin mengikuti jejak mereka, menjadi penganut Katolik. Keinginan itu lama tersimpan di hatinya. Sesudah menikah, keinginan itu tak pernah pudar. Hingga suatu hari, tak lama setelah anak keempatnya lahir, Sri menyampaikan keinginannya menjadi Katolik kepada suaminya. Di luar dugaan, sang suami tidak menghalanginya.

Kemudian, dengan hati amat gembira, Sri mendaftarkan diri menjadi katekumen di paroki terdekat, yaitu Paroki St Paulus, Bandung. Waktu itu, suaminya mengantarkannya ke gereja. Lalu, selama satu tahun Sri mengikuti pelajaran agama Katolik. Tahun 1959, Sri dibaptis. Sejak itu, ia mulai rajin berdoa dan pergi ke gereja.

Ternyata, hanya selang beberapa bulan sesudah Sri dibaptis, suaminya menyatakan ingin menjadi Katolik juga. Tentu saja batin Sri amat bahagia. Padahal, Sri sama sekali tidak pernah mengajak suaminya menjadi Katolik. Keinginan Sunaryo menjadi Katolik murni keluar dari hatinya sendiri. Sunaryo pun mengikuti jejak Sri menjadi katekumen dan dibaptis di paroki yang sama.

Lingkungan kepolisian

Pada tahun 1974, Sunaryo diangkat menjadi Kapolres Kota Cirebon. Sebagai istri kepala polisi, Sri mempunyai peranan khusus di lingkungan kepolisian setempat, khususnya dalam kegiatan-kegiatan Bhayangkari. Saat itu, Sri sekeluarga sangat betah tinggal di kota udang tersebut.

Namun, kebahagiaan tak selamanya menyelimuti batinnya. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Peribahasa ini dialami Sri dalam realita hidupnya. Kesukaannya tinggal di Kota Cirebon akhirnya terampas. Pada 21 Desember 1980 terjadi musibah yang membuat hidupnya berubah total. Hari itu, suaminya meninggal dunia secara mendadak dalam kecelakaan lalu lintas.

Sri yang sangat mencintai suaminya, merasa sungguh terpukul. Seketika hidupnya terpelanting dalam realita getir. Baginya, dunia seolah-olah telah kiamat. Ia sulit menerima kenyataan bahwa suaminya tidak ada lagi di sisinya. Tak ada lagi yang mengayomi dirinya dan anak-anaknya.

Persoalan berat muncul dan segera mencengkeramnya. Delapan anaknya masih membutuhkan biaya besar. Anak yang paling kecil baru berusia sembilan tahun sementara si sulung masih kuliah. “Bagaimana saya harus menghidupi mereka? Apalagi, sebelumnya, saya sama sekali tidak tahu mencari uang!” kenang Sri dengan nada terharu.

Untuk menghidupi dirinya dan anak-anaknya, uang pensiun dari sang suami jelas tidak memadai sama sekali. Padahal, Sri bercita-cita menyekolahkan semua anaknya hingga Perguruan Tinggi. Seiring waktu, harta benda peninggalan suaminya satu per satu beranjak dari rumah mereka. Dengan amat terpaksa, Sri mulai menjual barang-barang miliknya mulai dari piano, meja kursi hingga apa saja yang bisa dijual.

Ketika barang-barangnya nyaris habis terjual, Sri pun mulai mencoba bermacam-macam usaha, antara lain menerima pesanan makanan, menyewakan kamar untuk kos, dll. Sri tak henti bekerja keras demi membesarkan dan menyekolahkan semua anaknya.

“Ibu memiliki semangat yang luar biasa dan pantang menyerah,” puji Prasetyo, salah seorang putranya.

Selalu memohon

Pada malam hari, ketika anak-anaknya telah terlelap, Sri sering meratap dan berdoa seorang diri. “Tuhan, bantulah saya supaya mampu membesarkan anak-anak. Jangan biarkan saya dan anak-anak terlantar. Saya berjanji, kalau tugas saya membesarkan mereka telah selesai, saya akan membaktikan hidup dan waktu saya untuk Gereja,” begitulah Sri selalu memohon.

Tuhan sungguh mendengarkan doa-doa Sri yang selalu dipanjatkan dengan kesungguhan dari lubuk hatinya yang terdalam. Doa-doa itu pun dijawab-Nya. Nyatanya, Sri selalu saja mendapatkan anugerah rezeki. Kadang-kadang rezeki itu tak terduga-duga datang. “Kalau dipikir-pikir, saya tidak tahu bagaimana rezeki itu datang. Ndilalah selalu saja rezeki datang tepat pada waktunya,” ujar Sri penuh syukur.

Misalnya, suatu saat Sri sedang membutuhkan dana yang cukup besar. Tatkala ia sedang dirundung kebingungan, tiba-tiba datang order dari seorang kenalannya. Ia memesan 400 dus nasi yang memberikan laba tersendiri buat Sri. “Tuhan membantu dengan cara yang sungguh tak terduga!” tutur Sri penuh keyakinan.

Seperti kata anaknya, Sri memang pantang menyerah. Cita-citanya menyekolahkan anak-anaknya terwujud. Dengan tekun berdoa dan bekerja, akhirnya kedelapan anaknya bisa menuntaskan studi di Perguruan Tinggi. Tidak hanya itu, Sri pun menuai berkah melimpah. Dalam kurun waktu relatif singkat, semua anaknya berhasil memperoleh pekerjaan yang mapan.

Hingga tiba masanya, semua anaknya mengakhiri masa lajang mereka. “Semua anak saya menikah sesudah mereka mampu mencari nafkah sendiri,” ujar wanita yang masih tampak sehat dan enerjik pada usia 75 tahun ini.

Mengabdi Tuhan
Setelah satu per satu anaknya berkeluarga, Sri tinggal seorang diri di rumahnya. Batinnya lega karena tugasnya sebagai orangtua usai sudah. Kini, Sri ingin menikmati hasil kerja kerasnya di masa lalu. Ia ingin hidup lebih leluasa, tak perlu lagi membanting tulang karena semua kebutuhannya saat ini telah tercukupi.

Berkat kebaikan anak-anaknya, Sri sudah tiga kali berziarah ke Lourdes dan Tanah Suci, Israel. Di sana, ia sungguh kian merasakan keagungan Tuhan.

Seiring waktu, Sri tak pernah melupakan janjinya kepada Tuhan yang sering ia ucapkan dalam doa-doanya pada masa lalu. Karena itu, setelah anak-anaknya beranjak dewasa dan mandiri, Sri menghabiskan banyak waktunya untuk melayani Gereja. Ia rutin pergi ke Gereja Bunda Maria Cirebon. Sri juga aktif dalam pelayanan Legio Maria dan menghias gereja.

Tak jarang Sri juga membantu kegiatan yang berkaitan dengan Gereja dengan anugerah yang ia miliki. “Mobil saya kerap digunakan untuk keperluan Gereja,” ujar Sri lugas.

Sri merasa bahwa Tuhan sungguh amat baik. Ia yakin, karena pertolongan Tuhan ia mampu membesarkan anak-anaknya dan mengantar mereka menjadi sosok-sosok yang membanggakan. Sebagai tanda syukur, Sri membangun sebuah gua Maria kecil di belakang rumahnya. Gua Maria itu kemudian diberkati oleh Pastor M.A. Yuwono OSC, yang kerap mengunjunginya.

Di depan gua Maria di rumahnya pula Sri tekun mendaraskan doa. Terlebih, ia sungguh mensyukuri anugerah serta penyertaan Allah dalam hidupnya. Melalui jalan berliku-liku, Tuhan selalu setia mendampinginya membesarkan kedelapan anaknya. Nyatanya, menjadi janda bukanlah kiamat baginya!

Heri Kartono OSC




Kunjungan: 2099
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com