Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Imam Perlu Didoakan! - Hidup Katolik

Imam Perlu Didoakan!

Minggu, 7 Februari 2010 11:05 WIB
Imam Perlu Didoakan!
[HIDUP/ Y. Prayogo]
Gembala umat: Mgr P.C. Mandagi MSC di tengah umat.

HIDUPKATOLIK.com - Sejak Paus Benediktus XVI menetapkan Tahun Imam (19 Juni 2009 – 19 Juni 2010), sejumlah uskup mengeluarkan imbauan kepada seluruh warga Gereja agar merayakan “Tahun Jantung Hati Yesus” ini.

Di Keuskupan Amboina, Uskup Amboina Mgr P.C. Mandagi MSC mengimbau seluruh umat supaya senantiasa mendoakan para imam. Imbauan Uskup terasa menarik karena umat mengharapkan memiliki imam-imam yang baik, yang sungguh-sungguh merupakan wakil Kristus di dunia.

Harapan tersebut hendaklah diimbangi dengan kesadaran bahwa imam juga wakil umat: dari umat, oleh umat, dan untuk umat. Imam adalah manusia biasa yang melalui urapan imamatnya mengemban tugas yang luar biasa sebagai imam, sehingga harus senantiasa didoakan.

Keuskupan Amboina merupakan salah satu lahan subur untuk panggilan imam. Setiap tahun selalu ada putra-putra terbaik Gereja Katolik Keuskupan Amboina ditahbiskan menjadi imam. Rahmat ini tidak terlepas dari dukungan pelbagai pihak, termasuk umat, yang senantiasa mendukung lewat doa. Misalnya, Keluarga Cevalier Keuskupan Amboina, salah satu kelompok kategorial yang memfokuskan perhatiannya dengan mendoakan para imam.

Namun, dalam merayakan Tahun Imam ini, Keuskupan Amboina berduka karena kehilangan seorang gembala terbaik mereka, Uskup Auksilier Keuskupan Amboina, Mgr Yoseph Tethool MSC. Uskup kelahiran Kei Kecil, 1 April 1934 itu wafat di Jakarta, Senin, 18 Januari 2010.

Padahal, Keuskupan Amboina akan menyelenggarakan Musyawarah Pastoral (Muspas) pada 25 Januari 2010 yang ditutup dengan tahbisan imam pada 6 Februari 2010. Kedua acara tersebut membutuhkan kehadiran Mgr Tethool. Kejadian di atas menyebabkan Mgr Tethool yang justru menerima kehadiran para imam, biarawan-biarawati, dan umat yang datang melayat. Ketika itu, jasadnya disemayamkan di Gereja Katedral St Fransiskus Xaverius Ambon sebelum dimakamkan.

Di hadapan umat, Pastor Bo’hm MSC memberikan kesaksian tentang Almarhum. Menurutnya, kerinduan untuk mengenal Almarhum muncul sejak dia masih berada di Belanda. Pastor Bo’hm mendengar ada seorang imam muda asal Maluku bernama Yoseph Tethool.

Ketika sampai di Maluku dan kenal dekat dengan Mgr Tethool, Pastor Bo’hm terkesan akan kerendahan hatinya. “Almarhum sangat rendah hati dan senantiasa memberi perhatian kepada orang-orang di sekitarnya,” tandas Pastor Bo’hm, seorang dari tiga misionaris dari Belanda yang masih tersisa di Keuskupan Amboina.

Figur Mgr Tethool mengingatkan kita akan kata-kata Paus Leo XIII: “Tuhan, sekiranya Engkau memberi aku 20 imam seperti Yohanes Maria Vianney, maka dunia ini dapat ditobatkan.” Teladan hidup Mgr Tethool, lanjut Pastor Bo’hm, dapat dikategorikan sebagai salah satu imam seperti yang diharapkan oleh Paus Leo XIII.

“Mgr Tethool telah pergi, tetapi kita terus berdoa untuk beliau dan berani berdoa melalui beliau. Walaupun belum ada proses kanonisasi, kita berdoa supaya Keuskupan Amboina bisa mendapatkan imam yang baik seperti Almarhum. Pada 6 Februari 2010 akan ditahbiskan tujuh imam baru,” tutur Pastor Bo’hm yang kini menjadi salah satu imam senior di Keuskupan Amboina.

Tanda makna
Sekurang-kurangnya, ada tiga kegiatan yang dilangsungkan di Keuskupan Malang, Jawa Timur dalam rangka menyambut Tahun Imam. Kegiatan tersebut meliputi rekoleksi imam di Malang, retret di Lumajang, dan pendalaman iman berkenaan dengan imam di Paroki St Yusup Jember.

Rekoleksi yang berlangsung di Malang, Rabu-Kamis, 13-14/1, mengangkat tema “Panggilan Imamat”. Hadir sebagai pembicara antara lain Pastor Robertus Wijanarko CM, staf pembina di Seminari Tinggi CM dan juga dosen filsafat di STFT Widya Sasana Malang.

Menurut Romo Jack, panggilan akrab Pastor Robertus Wijanarko CM, panggilan imamat menjadi simbol. Sebagai simbol, berarti merefleksikan panggilan untuk menjadi tanda makna.

Ketertarikan untuk bisa menjalankan fungsi-fungsi pelayanan sebagai seorang pendamping buruh, mahasiswa, anak-anak jalanan, guru atau dosen, seorang ahli di bidang manajemen atau organisasi, dan sebagainya, hanyalah berupa bagian dari peran yang lebih penting bagi seorang imam, yakni menjadi tanda makna.

Di Regio Timur, Keuskupan Malang, tepatnya di Lumajang, Rabu–Kamis, 7-8/10, berlangsung retret yang diikuti imam dan umat. Retret dimulai dengan evaluasi dan sharing (dari hati ke hati) para imam yang berkarya sebagai pastor paroki di wilayah Regio Timur.

Keesokannya, retret didampingi Mgr F.X. Hadisumarta OCarm yang pernah menjadi Uskup Malang dan Uskup Manukwari-Sorong. Mgr Hadi mengajak semua imam melihat lebih jauh tentang panggilan imamat yang telah mereka jalani.

Mendengar sharing Mgr Hadi, terutama ketika berkarya di Sorong, Papua, peserta retret merasa melihat sosok Gembala yang Baik (Pastor Bonus) pada diri Mgr Hadi.

Di Paroki St Yusup Jember, Masa Adven 2009 mengangkat tema “Imam dan Gereja”. Selama pendalaman iman, empat kali dalam sebulan, umat baik di paroki maupun di lingkungan-lingkungan, membahas tema tersebut. Diharapkan, dengan tema seperti itu, semakin banyak anak muda paroki yang berani menjawab panggilan menjadi imam.

Lagu baru
Belakangan ini, lagu khusus menyambut Tahun Imam gubahan Uskup Bandung Mgr J. Pujasumarta Pr tengah populer di Keuskupan Tanjungkarang, khususnya di tiga paroki: Kedaton, Telukbetung, dan Tanjungkarang. Lagu tersebut selalu dinyanyikan saat Ekaristi selama Tahun Imam.

“Lagunya sederhana, namun indah. Maka tidak mengherankan, lagu Tahun Imam tersebut mendapat sambutan dan antusiasme luar biasa dari umat,” komentar Pastor Piet Yoenanta S.W. Pr dari Paroki St Yohanes Rasul Kedaton, Bandar Lampung. “Ini pertanda, umat mendukung panggilan imam, khususnya di Keuskupan Tanjungkarang.”

Selain lagu khusus, juga ada rumusan doa khusus bagi para imam yang diambil dari doa St Theresia Lesieux. Doa ini diungkapkan bersama dalam Perayaan Ekaristi pada Sabtu-Minggu. “Umat juga mendoakannya ketika ada sembahyangan di kring-kring (lingkungan-lingkungan),” tutur Romo Piet yang juga Vikaris Jenderal Keuskupan Tanjungkarang. Di Paroki St Yusuf Pringsewu, doa untuk para imam didoakan setiap Misa harian.

Dalam pembukaan Tahun Imam, Jumat, 19/6, Keuskupan Tanjungkarang merayakan Ekaristi bersama umat. “Kami mengundang para romo termasuk para romo yang berdomisili di luar Bandar Lampung. Memang tidak semua romo dapat hadir mengikuti Misa itu,” ungkap imam kelahiran Wates, 10 Maret 1962 ini.

Pada kesempatan itu, Uskup Tanjungkarang, Mgr Andreas Henrisoesanta SCJ menegaskan, perjalanan imamat harus selalu direfleksikan untuk menjawab bagaimana imam menjalin relasi dengan Tuhan dan umat, apakah sudah pada posisi yang benar sebagai imam atau masih mencari diri.

“Lampung memang tidak seperti metropolitan Jakarta. Namun, kalau tidak hati-hati arus globalisasi pun mampu menggerus hidup para imam di sini,” Mgr Henri mengingatkan.

Romo Piet mengaku, Keuskupan Tanjungkarang agak terlambat merayakan Tahun Imam. Padahal, para imam Praja (Diosesan) Keuskupan Tanjungkarang sudah menyelenggarakan retret tentang Tahun Imam yang dibimbing Mgr Puja, Juni 2009. Para imam di Keuskupan Tanjungkarang juga telah mengadakan pertemuan bulanan guna meningkatkan persaudaraan dan hidup imamat mereka.

Dengan mengambil momentum peringatan Kristus Raja, 22 November 2009, Paroki Kristus Raja menyelenggarakan perayaaan Tahun Imam. Usai Misa, acara dilanjutkan dengan pertemuan orang muda di aula paroki. Ada sekitar 400 anak muda hadir. Mereka datang dari paroki-paroki, seperti Kedaton, Telukbetung, dan Tanjungkarang. Acara bertema “Bersama Menuju Kesucian Hidup” itu dipandu Pastor Suratno SCJ.

“Jujur saja, materi itu cukup berat, serius, dan kurang diminati oleh kaum muda. Tetapi paling tidak, membantu orang muda memahami bahwa kesucian bukan hanya milik para imam dan biarawan-biarawati, tetapi milik semua orang,” ujar Romo Piet.

Mereka pun menyanyikan lagu baru gubahan Mgr Puja:
Tahun Imam ini hati penuh rasa syukur,
atas rahmat imamat, rahmat bagi sluruh umat
bahagia hidup suci, penuh sukacita
dalam karya pelayanan kasih setiap hari.


Paul D.F.
Laporan: M. Fransiska FSGM/Yoserisel/Dhani Driantoro




Kunjungan: 646
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com