Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Pro Kontra Misa Ruwatan - Hidup Katolik

Pro Kontra Misa Ruwatan

Minggu, 31 Januari 2010 11:22 WIB
Pro Kontra Misa Ruwatan
[HIDUP/Sutriyono]
G. Utomo Pr dan St. Budhi Prayitno Pr

HIDUPKATOLIK.com - Misa inkulturasi sering dinilai kebablasan. Misa Ruwatan, Misa 1 Suro, Misa Imlek, dan sejenisnya sering mengundang pro-kontra, baik dari kalangan hirarki (uskup dan para imamnya) maupun umat awam.

Banyak yang mempertanyakan untuk apa mengadakan Misa ruwatan jika orang sudah menerima Sakramen Baptis (Permandian)?

Menurut Pastor G. Utomo Pr (80) – akrab disapa Romo Ut –, upacara ruwatan secara kristiani perlu dilakukan. Alasannya, ada roh yang anti berkat dan anti kasih. Diruwat dimaksudkan untuk dibebaskan dari sukerta.

“Yang dimakan Batara Kala itu bukan hanya anak yang dicirikan sendang apit pancuran, atau anak tunggal, dan lainnya. Yang anti berkat, termasuk mereka yang berpandangan patriarki juga perlu diruwat,” tutur imam Praja Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang sering memimpin Misa Ruwatan itu.

Selanjutnya, Romo Ut menegaskan, mereka yang berpandangan: wong lanang mung golek menange dhewe (laki-laki yang hanya mencari menangnya sendiri) atau perspektif gender bisa datang dari kaum lelaki sendiri maupun kaum perempuan. Pandangan Romo Ut ini disampaikan di kediamannya, pastoran Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Yogyakarta, Jumat, 8/1.

Menurut romo sepuh kelahiran Bantul, Yogyakarta, 17 Februari 1929 ini, orang Katolik tidak harus diruwat, karena mereka sudah menerima Sakramen Permandian. “Sakramen Permandian sudah cukup!” tandasnya. Akan tetapi, lanjut Romo Ut, Tuhan Yesus setelah bangkit, kebangkitan-Nya itu bukan hanya Yesus dari Nasaret, tetapi Yesus setiap bangsa dan setiap budaya.

“Yesus kan menjelma dalam setiap bangsa dan budaya. Maka, budaya yang ada perlu kita hormati, kita sublimir. Jadi, kalau orang Katolik mengadakan ruwatan, harus disublimir dalam kurban Misa. Jangan dibiarkan manusiawi. Jangan dibiarkan menjadi tradisi nenek moyang, tetapi disublimir dalam tradisi Ilahi.”

Inti ruwatan, demikian Romo Ut, supaya yang anti berkat menjadi penuh berkat, pro berkat. Dia lalu menjadi berkat untuk siapa saja dan apa saja. Maka, sebagai manusia, kita harus selalu bertobat terus, selalu mohon berkat. “Karena, kadang kita lupa moralitas kita terlalu manusia, kurang kosmik, sehingga kosmiknya rusak,” tutur Romo Ut.

Rumusan P-4 Iman
Bagi Romo Ut, dasar ruwatan adalah inkulturasi. Di Ganjuran dikenal rumusan P-4 Iman. P pertama, yaitu peristiwa Allah. Setiap orang, nenek moyang maupun generasi mendatang akan mengalami peristiwa Allah. Kita dilahirkan, diciptakan, itu merupakan peristiwa Allah.

P kedua adalah pengalaman dengan Allah. Orang Yahudi mengalami peristiwa Allah pada waktu eksodus. Sedangkan nenek moyang kita mengalami peristiwa Allah dalam peristiwa-peristiwa penting, seperti saat kelahiran dan kematian.

P ketiga adalah pengungkapan pengalaman Allah. Karena, kasih Allah tidak pernah ditarik dan selalu bertambah, manusia perlu mengungkapkan berkat kasih setia Allah melalui upacara-upacara. Ruwatan merupakan salah satu upacara saja. Tapi, yang lebih penting adalah sadranan atau Misa Arwah, karena merupakan ungkapan nenek moyang kita kepada Allah yang berbelas kasih.

Kemudian, P keempat adalah pengamalan kasih Allah. Berkat dari Tuhan itu kalau kita amalkan, akan menjadi berkat bagi yang lain, bagi siapa saja, dan bagi apa saja, termasuk kosmik (alam semesta). “Kalau alam semesta ini rusak, berarti kita belum mengamalkan belas kasih Allah kepada alam semesta,” simpulnya.

Harus sampai ke Yesus
Catur Wahyono (46) meminta kedua anaknya, Immaculata Adventi Cahyani yang kuliah di Yogyakarta dan Christoper Bagas Wirawan yang masih di bangku SMP Susteran di Purwokerto agar ikut ruwatan yang diselenggarakan Paroki Tyas Dalem Kroya. Menurutnya, orang Jawa mencari berbagai bentuk keselamatan melalui ritual.

Kedua anak Catur termasuk kategori sukerta gedhana-gedhini. “Semula anak-anak bertanya, juga ada kekhawatiran kalau terjadi apa-apa. Akan tetapi, akhirnya paham, ini tidak bertentangan dengan ajaran Katolik. Kita menguri-uri budaya, kalau bukan kita siapa lagi yang akan mengadakan?” papar Catur yang juga ketua panitia kegiatan ruwatan tersebut.

Pastor Paroki Tyas Dalem Kroya, Stephanus Budhi Prayitno Pr menuturkan, ruwatan mengangkat lakon wayang Murwakala. “Kata murwakala atau purwakala berasal dari kata purwa atau asal-muasal manusia. Yang menjadi titik pandangnya adalah kesadaran atas ketidaksempurnaan manusia yang selalu terlibat dalam kesalahan. Hal itu bisa berdampak timbulnya bencana,” demikian Romo Budhi.

Menurutnya, bagi manusia Jawa, wayang merupakan pedoman hidup. Bagaimana mereka bertingkah laku dengan sesama, bagaimana menyadari hakikatnya sebagai manusia, serta bagaimana dapat berhubungan dengan Sang Pencipta. Semuanya bisa bertolak dari wayang. Sukerta boleh dipahami sebagai dosa atau noda yang melekat sejak lahir, dosa asal.

“Karena dosa dan noda itulah masing-masing orang terancam oleh bahaya, kematian, dan kehancuran. Syukurlah bahwa dosa asal itu sudah dihapus saat kita sudah dibaptis dan juga diperkuat dengan Perayaan Ekaristi. Kalau demikian, mengapa kita masih menjalankan ruwatan?” tanya Romo Budhi retorik.

Ia menjelaskan, ruwatan adalah salah satu tradisi Jawa. Segala macam uba rampe dan simbol berkenaan dengan perasaan dan pengalaman orang Jawa. Maka, tidak salah kalau ruwatan dilaksanakan oleh orang Kristen.

“Tentu saja dengan catatan keras, asal ruwatan itu dapat makin membantu kita makin menghayati iman kristiani,” tegasnya. Romo Budhi juga menekankan, hendaknya ruwatan bisa menjadi momen penyadaran bahwa kita adalah makhluk sukerta atau terkena dosa asal.

“Seperti kata Paulus, kita adalah orang berdosa dan berada ‘di bawah kuasa dosa’. ‘Tidak ada yang benar, seorang pun tidak’,” tandas Romo Budhi mengutip Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (3:9-10).

Yang terpenting, ruwatan Katolik harus sampai pada Yesus Sang Dalang Sejati. Yesuslah yang dapat membebaskan manusia dari segala sukerta. “Berkat baptis yang kita terima, kita telah ditebus oleh Kristus. Berkat Ekaristi yang kita santap, kita mengalami perjumpaan dengan Kristus Sang Pengampun,” demikian Romo Budhi.

Uskup Surabaya, Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono Pr memiliki pandangan lain terhadap Misa inkulturatif, Misa Suronan, Misa Ruwatan, atau Misa kreatif. Baginya, Misa itu tetap Misa. Titik! Untuk apa ruwatan?

“Dibaptis itu sudah ditebus. Okelah, Misa yang disesuaikan dengan kebutuhan inkulturasi: pakaian Jawa, memakai gong sebagai ganti bel. Tetapi, pakaian imam dalam Misa adalah kasula, bukan stola!” tandas Mgr Sutikno (lihat: Sajian Utama, HIDUP, 24 Juni 2007).

Budi Santosa Johanes
Laporan: Sutriyono dan Markus Ivan




Kunjungan: 976
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com