Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Dialog Kebudayaan - Hidup Katolik
Home » Tajuk

Dialog Kebudayaan

Minggu, 3 Januari 2010 16:05 WIB
Dialog Kebudayaan
[progressivechristianity.org]

HIDUPKATOLIK.com - Ada berbagai cara bagaimana agama-agama bertemu dan hidup berdampingan secara damai. Paus Benediktus XVI memiliki keyakinan dan langkah tersendiri. Bukan lewat dialog teologi agama-agama, bukan dialog kehidupan lewat kerjasama konkret, melainkan – lewat cara yang sangat intelektual – dialog kebudayaan dan peradaban. Langkah ini dianggap taktis, karena dua topik ini menyentuh falsafah hidup manusia yang melampaui ideologi dan agama.

Itu yang dilakukan oleh Paus ini terhadap Islam. Dengan cara ini, dua pulau terlewati. Terhadap Islam, ia mengundang dialog yang didasarkan pada kebudayaan, HAM, dan problem kekerasan. Tetapi, dia juga menyasar pulau lain, mengritik, dan sekaligus mengundang Barat untuk kembali pada kodrat manusia yang tidak mengesampingkan dimensi religius.

Pemikiran Paus ini bisa ditelusuri ke belakang, yaitu ketika beliau masih sebagai Kardinal. Dalam buku ”Garam Dunia” yang merupakan respons atas wawancara Peter Seewald terhadapnya, Paus yang waktu itu masih Kardinal menyampaikan beberapa pandangannya tentang Islam.

Ia mengawali pendapatnya mengenai entitas yang disebut Islam. Tidak ada dialog dengan Islam, yang ada adalah dialog dengan satu komunitas Islam tertentu. Islam tidak mengenal ortodoksi, tidak memiliki doktrin yang menjadi pegangan bersama dan satu. Inilah yang membuatnya yakin bahwa dialog teologi dengan Islam menjadi sulit dan tidak memiliki standar universal.

Konsep pewahyuan dalam Islam juga unik. Alquran itu ’diturunkan’ pada Nabi Muhammad SAW, bukan ’diinspirasikan’. Seorang Muslim merasa tidak punya otoritas untuk menginterpretasikan teks suci ini. Teks Kitab Suci yang diturunkan pada abad ke-7 di Arab, masih benar dan akan terus benar di manapun. Lagi-lagi ini membuat dialog menjadi upaya yang tidak mudah.

Di sinilah Paus berpendapat, dialog kebudayaan akan lebih banyak memberikan harapan daripada dialog teologi agama-agama. Dia memberi contoh kecil, ”Saya yakin umat Muslim dengan tegas menolak dan mengecam
terorisme.” Paus berpandangan bahwa Kristen maupun Islam memiliki keprihatinan yang sama.

Paus secara inklusif menyampaikan bahwa perjuangan seluruh umat manusia dan umat beriman adalah membersihkan perasaan benci dalam hati, melawan
segala kekerasan, menjauhi fanatisme. Semua karakter yang dilawan ini membahayakan kehidupan. Dan, memperjuangkan hal ini memang sulit tetapi bukannya mustahil.

Bagi Paus, dialog harus dipusatkan dalam diri manusia. Ini berarti melampaui perbedaan-perbedaan ideologi. Dan, dengan mengesampingkan ideologi, agama-agama justru mampu menyingkapkan dirinya secara nyata. Dengan berpusat pada manusia, perbincangan diajak masuk ke dalam suara hati manusia. Suara hati menjadi pijakan bersama untuk berdialog.

Paus mengejutkan banyak kalangan ketika ia menyatukan Komisi Dialog Antar-Agama dengan Komisi Kebudayaan. Dengan melihat basis filsafatnya,
kita tidak usah heran mengapa hal ini terjadi. Filsafat hanya akan berdampak bila diwujudkan lewat sistem, institusi, dan tindakan.

Banyak pertemuan yang di awal diberi judul dialog antaragama. Namun, diskusi ini kemudian berkembang menjadi pencarian akar-akar persoalan kultural. Misalnya, memikirkan akar-akar kebudayaan dari konflik negara-negara Palestina, Israel, Irak atau Afghanistan. Di sinilah pertemuan interdisipliner dan interkultural – politik, ekonomi, sejarah, adat - jauh lebih produktif dibanding dialog teologis.

Vatikan memandang dialog dengan Islam berlangsung pada level rasionalitas. Rasionalitas yang terkadang masuk ke dalam persoalan sensitif, antara lain, kebebasan beragama dan kebebasan untuk pindah agama. Sekaligus secara akurat Paus juga mengingatkan rasionalitas bisa berbahaya dan destruktif bila
menjadi positivis ala Barat, karena menyangkal kodrat religius manusia.

Paus mengagumi kepastian iman dalam Islam. Dalam Islam ditemukan iman yang memegang erat kesakralan. Semua yang ada dalam Islam justru menguap
dari kebudayaan Barat. Semua hal direlatifkan oleh yang terakhir. Yang paling mencemaskan orang Muslim, bukan simbol-simbol religius dari agama-agama
lain – seperti salib, gereja, gambar Yesus - melainkan sekularisasi dan nilai-nilai sakral serta kekosongan sentuhan yang Ilahi dalam hidup manusia.

Redaksi




Kunjungan: 549
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com