Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Pasar Politik - Hidup Katolik
Home » Tajuk

Pasar Politik

Minggu, 11 Januari 2009 15:32 WIB
Pasar Politik
[dreamstime.com]

HIDUPKATOLIK.com - Banyak calon legislatif (caleg) yang beragama Katolik yang hanya memikirkan kepentingan Katolik. Mereka kurang memikirkan kepentingan umum sebagaimana dicita-citakan Moral Politik Katolik. Mereka hanya tergugah untuk terlibat dalam politik ketika mendengar dan melihat gedung gereja dilempari batu atau umat Katolik dihalang-halangi untuk berkumpul. Tidak mengherankan mereka cenderung lari mendatangi kantung-kantung umat Katolik untuk mendapatkan suara. Orang Katolik politis ini seperti minder bila bergaul dan masuk ke dalam kalangan yang lebih luas. Labih parah, Partai mereka memang membagi jatah atas dasar pertimbangan agamanya. Semakin lengkap image yang terbentuk: Politik Katolik itu dari dan untuk Katolik saja.

Apa yang disebutkan di atas adalah litani keluhan dari banyak kalangan. Diratapi, semakin jauh realisasi atas cita-cita ‘politik Katolik itu ada untuk kebaikan bersama’.

Keluhan di atas sebenarnya belum mengatakan banyak. Ia belum menjelaskan realitas paling dalam. Seperti ikan yang tidak paham bahwa dia sebenarnya hidup di air. Dia hanya bisa mengeluh mengapa tidak bisa begerak cepat, kalau hendak berputar selalu ‘ada’ yang menahan. Ia tidak bisa melihat ada air yang menentukan seluruh pergerakkannya. Atau, mirip dengan nenek kita yang tiba-tiba pindah dari kampung dan terpaksa hidup di kota besar. Ia pun mulai mengeluh: rumah sangat sepi, membosankan, panas, penduduk tidak ramah. Ia masih membawa ritme hidup di desanya. Keluhan nenek ini belum mengungkapkan subtansi jika dia belum memahami karakter kebudayaan orang kota.

Tiada ideologi yang lebih berdaulat sekarang ini dari pada kekuatan pasar. Ekonomi bukan hanya salah satu dari sejajar dengan berbagai aspek kehidupan seperti sosial, politik, kebudayaan, hukum. Melainkan, ekonomi memerintah lainnya. Dan, segi-segi kehidupan kita taat pada prinsip ekonomi. Implikasi hukum ini benar-benar luas.

Semua aktivitas kita memiliki watak-watak ekonomi yang erat menyatu. Hasil kegiatan seni dan pengetahuan menjadi komoditi dan barang dagangan. Kegiatan agama diracik sedemikian rupa agar laku, diselenggarakan di hotel-hotel mewah, mengundang selebriti, disertai dengan bisnis barang dan benda religius. Struktur sekolah dibangun dengan mengikuti logika bisnis, ikut mendukung kedaulatan pasar. Jurusan bisnis diperkuat, gedung sekolah dipoles agar lebih kompetitif, fasilitas diperbaiki, terus mengikuti tuntutan bisnis moderen. Pernyataan sinis, “Orang Miskin Dilarang Sekolah” belum menyatakan substansi, sampai orang memahami peradaban pasar yang adalah memahami ‘watak air untuk ikan yang berenang di lautan lepas’.

Kehidupan politik juga mengalami nasib yang sama. ‘Tidak ada lagi masyarakat’, yang ada hanyalah kumpulan individu-individu. Bukan masyarakat yang menyelamatkan, melainkan indivdu. Masing-masing individu perlu berkembang dan mengembangkan diri mengikuti motif-motif ekonomi. Dengan itulah ia bisa selamat.

Wajah baru politik sekarang ini dilahirkan oleh pasar. Politik adalah salah satu bentuk dan perwujudan pasar. Namun, pasar dalam bentuk yang lebih canggih dan tersamar. Di sini, lewat politik, orang menawarkan jasa membangun masyarakat yang sejahtera, adil, berpretesnsi hendak mewakili suara rakyat. Artinya bisnis politik menjadi lebih jelas, ketika para pelakunya harus memperhitungkan risiko biaya dan manfaat. Tetapi jangan khawatir, risiko ini bisa diperkecil karena ada lembaga survei yang bisa memprediksi kesuksesan bisnis politik Anda.

Politik Katolik tidak mampu melepaskan diri dari jerat di atas. Hanya Politik Katolik ini memiliki beberapa bentuk dan ekspresi yang sedikit berbeda dan canggih. Berjualannya di halaman gereja, di lingkungan dan paroki, beriklan lewat media massa Katolik. Para pelakunya fasih mengutip perkataan para pejabat Gereja, menerangkan - juga kalau ala kadarnya - Ajaran Sosial Gereja. Substansinya adalah sama bahwa Politik adalah Pasar. Jangan salah, ini bukan ‘politik pasar’ melainkan Pasar Politik.

Menerangkan Politik Katolik dengan menarasikan kembali Pater van Lith, I.J. Kasimo dan Mgr. Soegijopranoto adalah berguna. Ia tetap inspiratif. Namun ia tidak akan memadai untuk menjelaskan Politik Katolik sekarang ini. Ia malahan bisa menyesatkan jika tidak memahami terlebih dahulu konteks historis sekarang ini.

Redaksi




Kunjungan: 381
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com