Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Tanpa Tangan Menggapai Cita-cita - Hidup Katolik

Tanpa Tangan Menggapai Cita-cita

Senin, 19 November 2012 11:28 WIB
Tanpa Tangan Menggapai Cita-cita
[Bruder Justinus Juadi FIC]
Meningkatkan doa: Meski tidak punya tangan, Putri Herlina (paling kanan) selalu tampak ceria. Teman-temannya di Panti Cacat Ganda Yayasan Sayap Ibu merupakan keluarga baginya

HIDUPKATOLIK.com - Putri Herlina duduk di kursi kayu. Gadis yang tak memiliki tangan itu tengah mendampingi adik-adiknya menyantap makan siang. “Ayo… makan yang banyak biar cepat besar,” pinta kelahiran Yogyakarta, 20 tahun yang silam itu.

Sejak berusia dua bulan, Herlina dirawat di Panti Cacat Ganda Yayasan Sayap Ibu, Yogyakarta. “Tak pernah sekalipun kedua orangtua saya mengunjungi saya. Apakah saya ini anak haram?” gugatnya pada dirinya sendiri. Kepedihan kerap menyergapnya bila ia memikirkan asal-muasalnya yang muram…

Meski demikian, Herlina kerap menelusuri pengalamannya di masa kanak-kanak. Sungguh tidak mudah baginya melacak keberadaannya hingga ia berada di panti anak-anak cacat. “Sampai saat ini, saya belum pernah bertemu dengan wanita yang pernah mengandung dan melahirkan saya,” ungkapnya pedih.

Setiap kali ia memikirkan keberadaannya, air matanya selalu berderai. Bahkan, tak jarang matanya sembab oleh tangis yang tak sejenak memburai. Kendatipun ia tidak mengetahui persis kisah hidupnya, toh ia berkeyakinan bahwa pengalaman adalah guru yang paling berharga. “Nyatanya, saya tetap bisa mensyukuri hidup ini walau saya tidak mempunyai tangan sempurna,” ucapnya sendu.

Tega meninggalkan
Dari penelusuran berliku, diketahui bahwa Herlina merupakan salah satu bayi yang ditelantarkan orangtuanya. Ia ditinggalkan begitu saja oleh ibunya di sebuah rumah sakit, tak lama setelah ia dilahirkan. Tampaknya kecacatan tubuhnya membuat sang ibu tega melakukan perbuatan yang tak sepatutnya itu…

“Saat berusia dua bulan, seorang perawat dari rumah sakit mengantarkan saya ke Yayasan Sayap Ibu,” kisah Herlina polos. Seiring bergulirnya waktu, Herlina kerap mempertanyakan keberadaan dan kecacatannya. Namun, berkat bimbingan yang ia terima di panti, ia sanggup mengubur kepedihannya. “Apalagi, mayoritas anak-anak panti senasib dengan saya. Jadi, mereka adalah keluarga saya,” tandas Herlina.

Dengan bertambahnya usia, Herlina belajar mensyukuri keadaannya. “Hidup saya memang tak pernah lepas dari perjuangan, tapi saya selalu mensyukurinya sebagai anugerah,” lanjutnya.

Di panti, setiap perkembangan Herlina selalu diperhatikan dengan cermat. Tak jarang kedua tangannya yang tidak sempurna mengundang iba teman-temannya. Meski demikian, perkembangan kognitif, motorik, bahasa, perilaku, dan adaptasi sosial Herlina berlangsung baik.

Sejak Herlina berusia dua tahun, pimpinan panti cacat ganda telah mengajarinya melakukan kegiatan sehari-hari dengan kakinya. “Pada usia tiga tahun, saya sudah bisa menggunakan kaki untuk mengambil cangkir dan gelas, serta minum dengan dot,” kenangnya. Bimbingan dari pimpinan panti telah mengubah hidupnya.

Lambat-laun Herlina mampu menulis dengan kaki kanannya. Posisi tubuhnya, saat ia menulis terbilang unik. Sambil duduk di kursi, Herlina membuka-buka halaman-halaman buku pelajaran dengan kakinya. Lantas, ia menggoreskan mata pena di buku tulisnya juga dengan kakinya. Herlina tidak mengalami kesulitan menggunakan kakinya untuk menulis.

“Kedua kaki saya adalah tangan saya,” tegasnya. Seperti kemampuan anak-anak berusia tiga tahun memegang pensil dan krayon, Herlina pun dapat melakukannya dengan kakinya. Ia juga sanggup bermain dengan aneka mainan yang ada di dekatnya. “Tuhan itu Mahaadil terhadap orang-orang yang punya keterbatasan seperti saya,” ungkapnya.

Nyatanya, meski fisiknya cacat, Herlina bisa membantu orang lain. Di panti, ia kerap membantu penghuni lainnya yang mengalami keterbelakangan mental (tunagrahita). “Asrama di sini dibagi menjadi dua kelompok. Untuk para penyandang cacat fisik dan mereka yang mengalami keterbelakangan mental.
Saya harus peka jika ada adik-adik yang membutuhkan bantuan,” imbuhnya.

Paras Herlina yang ceria dan mudah tersenyum selalu menarik perhatian para pengunjung panti. “Pada umumnya para pengunjung panti baik hati dan menghargai kami sebagai ciptaan Tuhan,” tegasnya.

Sungguh bersyukur
Pemimpin panti cacat ganda, pasangan suami-istri Sunaryo dan Susiani, bertindak sebagai orangtua bagi anak-anak yang ditelantarkan orangtuanya, seperti Herlina. Kasih sayang mereka mengalir tanpa pamrih kepada anak-anak asuhnya. “Bapak dan Ibu Sunaryo menjadi orangtua kami,” tukas Herlina.

Herlina sungguh bersyukur, kendati dulu dirinya dibuang oleh orangtua kandungnya, toh ia dikaruniai orangtua seperti Sunaryo dan Susiani. “Meski tidak ada hubungan darah, Bapak dan Ibu memperlakukan saya seperti anak kandungnya sendiri. Berkat bimbingan mereka, akhirnya saya bisa melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri,” lanjutnya.

Sekarang, Herlina sudah mahir mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, seperti mencuci piring dan baju, serta menyapu. Bahkan, dengan keterbatasan fisiknya, Herlina kerap mengepel lantai. “Saya tidak mengalami hambatan berarti dalam beraktivitas. Saya menjalani hidup ini dengan sukacita,” imbuhnya.

Sebagaimana anak-anak muda pada umumnya, Herlina pun menggantungkan cita-citanya setinggi mungkin. “Saya ingin menjadi psikolog,” cetusnya. Dengan menjadi psikolog, ia ingin menolong orang-orang yang tengah dirundung masalah atau orang-orang yang membutuhkan bimbingan.

Keinginan itu telah menancap di benaknya. “Kalau Tuhan memberikan kesempatan kuliah, saya akan mengambil program studi psikologi,” ungkap alumni SMP Rehabilitasi Centrum Solo ini tentang cita-citanya. Dengan cara ini, ia ingin membalas kebaikan orang-orang yang telah menolongnya selama ini.

Sejauh ini, Herlina menyimpan kesan manis tentang para pembimbingnya di Panti Cacat Ganda Sayap Ibu. “Mereka membimbing kami dengan sabar, melebihi orangtua kandung kami sendiri,” ucapnya. Para pembimbing di panti memang mendampingi para penghuni selama 24 jam. Jika anak-anak ingin melepas hajat di malam hari, ibu asrama selalu siap sedia mengantar. Tindakan mulia mereka sungguh tak terbalaskan.

Sikap positif Herlina telah menumbuhkan rasa percaya diri yang besar. Kendati kondisi fisiknya tidak sempurna, keinginan berbuat baik tak pernah surut dari benaknya. “Sekarang, saya mulai memikirkan orang-orang lain yang hidupnya kurang beruntung. Setidaknya, saya ingin menjadi motivator,” harap Herlina.

Sejak duduk di bangku SMP, Herlina menyukai pelajaran olah raga. Baginya, berolah raga bisa menjadi sarana untuk meluapkan emosi. “Saya senang olah raga lari, lompat jauh, dan lompat tinggi,” ujarnya. Awal 2004, Herlina terpilih menjadi atlet lari. Ia terdaftar sebagai peserta lomba lari yang sedianya akan berlaga di Manila, Filipina.

Selama beberapa kali Herlina sempat berlatih lari. Namun, ternyata, niatnya mengikuti lomba lari itu kandas di tengah jalan. “Saya menyesal telah menyia-nyiakan kesempatan itu. Mungkin Tuhan tidak menghendaki,” tuturnya. Herlina batal mengikuti lomba tersebut. “Akhirnya, teman sekelas saya yang mengikutinya,” lanjutnya.

Tangan palsu
Sejak berusia enam tahun, Herlina mulai bersosialisasi di Sekolah Dasar. Pimpinan panti sengaja menyekolahkannya di sekolah umum. Dengan demikian, Herlina terbiasa bergaul dengan orang-orang yang fisiknya normal. “Awalnya, teman-teman merasa asing dengan kondisi tubuh saya. Tetapi, lama-kelamaan, pada umumnya mereka baik dan mau menerima diri saya apa adanya,” ulasnya.

Lalu, Herlina melanjutkan pendidikan di Sekolah Inklusi. Ia berhasil menduduki ranking atas di kelasnya. Prestasi yang diraihnya tentu bukan karena belas kasihan guru. “Kalau masa ujian tiba, saya sering bangun pagi. Saya butuh ketenangan untuk belajar,” kata gadis yang gemar menyanyi ini.

Ada harapan yang sampai saat ini belum terwujud, yakni memakai tangan palsu. “Alangkah bahagia, kalau saya bisa mempunyai dua tangan. Saya percaya, Tuhan akan memberikan yang terindah bagi saya,” tegasnya dengan sorot mata berbinar.

Saat ini, Herlina tengah menanti kepastian untuk memesan sepasang tangan palsu di Negeri Belanda. “Jika Tuhan menghendaki, pimpinan panti akan mengajak saya memesan tangan palsu di Belanda,” lanjutnya. Negeri Belanda menjadi negeri pilihannya. “Karena tangan palsu buatan Belanda lebih bagus, lebih gampang digerakkan,” katanya memberi alasan.

Sambil menunggu keberangkatannya ke Negeri Belanda, saat ini Herlina memperdalam bahasa Inggris. “Saya mulai ikut kursus bahasa Inggris karena ada rencana saya akan melanjutkan studi di sana,” ungkapnya riang. Namun, saat ini fokusnya pada pemesanan sepasang tangan palsu. Seraya menunggu masa indah itu tiba, Herlina meningkatkan doa-doanya. “Tuhan itu sungguh baik. Saya ingin membalas kebaikan-Nya,” tuturnya bersemangat.

Bruder Justinus Juadi FIC




Kunjungan: 2384
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com