Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Perlu Pengorbanan - Hidup Katolik

Perlu Pengorbanan

Minggu, 12 April 2009 15:48 WIB
Perlu Pengorbanan
[Dok.HIDUP]
Pastor Alexius Kurdo Irianto Pr

HIDUPKATOLIK.com - Makna paling mendasar dari Tri Hari Suci dan Paskah adalah pengorbanan. Apakah kita mau memberikan diri kita secara utuh bagi sesama?

Hal ini diungkapkan Pastor Paroki St Pius X Blora, Ke­uskupan Surabaya dan aktivis sosial Alexius Kurdo Irianto Pr saat diwawancara HIDUP lewat te­lepon, Rabu, 1/4. Berikut petikannya:

Apa makna Paskah bila dikaitkan de­ngankehidupan masyarakat saat ini?
Paskah hakikatnya adalah sebuah perubahan dari gelap ke terang, dari kematian ke ke­hidupan, dari putus asa ke harapan, dari cerai berai ke persatuan kembali. Saat ini, kehidupan makin memprihatinkan. Kentalnya nuansa kematian, kehilangan pekerjaan, pengingkaran hati nurani, penderitaan diperdagangkan, bencana alam yang dijadikan proyek, mewarnai situasi sosial masyarakat. Dalam suasana inilah, Paskah menjadi harapan menuju keadaan lebih baik.

Untuk mewujudkan harapan itu, apa yang harus dilakukan Gereja?
Gereja hendaknya mau mewartakan terang dan kehidupan baru. Dalam mewartakan, kita tidak boleh takut menderita. Kita harus mau berkorban. Pengorbanan mengandung dua hal penting, yaitu cinta dan pilihan be­bas. Paskah tidak mungkin terjadi tanpa pengorbanan Yesus yang mau menderita de­mi cinta-Nya pada manusia. Ia melakukan itu dengan pilihan bebas. Yesus bisa saja menolak, namun Ia tetap melakukannya de­ngan tulus dan suka rela.

Sebagian umat secara pribadi sudah me­laksanakannya. Namun, sebagian lagi masih ragu-ragu. Sedangkan Gereja terkadang juga masih ragu memberikan dukungan penuh bagi karya kemanusiaan. Secara institusional, Gereja sudah menyerukan pengorbanan dan kepedulian terhadap sesama melalui dokumen-dokumennya. Namun, realisasinya masih kurang maksimal.

Bagaimana tanggapan Pastor terhadap umat yang sibuk dengan persekutuan doa, dan aktivitas kerohanian lainnya te­tapi kurang terlibat dalam masyarakat?
Kursus-kursus, retret, doa, dan pembinaan-pembinaan semacam itu, menurut saya, menjadi semacam pom bensin. Agar dapat te­rus menjalani peziarahannya, umat perlu isi bensin. Gereja adalah sebuah peziarahan yang dinamis, dan bensin yang sudah didapat tadi harus jadi bahan bakar bagi karya nyata umat di tengah masyarakat.

Pembinaan-pembinaan atau pembekalan seperti itu hendaknya memberi kekuatan bagi umat untuk bergerak keluar dari dirinya sendiri dan melihat wajah Allah dalam diri se­sama, terutama mereka yang menderita.

Apakah Paroki Blora sudah melakukan aksi nyata kepedulian sosial?
Blora sendiri termasuk daerah kering dan se­lalu mengalami kesulitan air bersih. Kami di sini sedang mengadakan gerakan air bersih. Paroki mencoba menawarkan air bersih ke desa-desa. Kami juga mencoba membuat sumur. Memang banyak umat yang mengalami kesulitan air bersih. Namun, lewat situasi inilah kami mencoba menghayati arti pengorbanan. Kami mau memberikan sesuatu bagi sesama dari keterbatasan kami.

Ada juga karya sosial bagi teman-teman mantan penderita kusta. Kami mencoba se­makin memperhatikan mereka. Kami juga memperhatikan soal pendidikan Katolik. Le­wat pendidikan inilah, bekal umat untuk terjun ke masyarakat menjadi lebih baik. Kami bersama para guru dan murid mencoba memulai gerakan anti menyontek.

Kelihatannya kecil tetapi bagi kami, ge­rakan ini sangat berarti untuk berperan serta dalam kehidupan masyarakat luas, dalam memberantas budaya pembohongan dan pembodohan publik. Ketiga hal ini masih dalam tahap belajar.

Apa pendapat pastor mengenai paroki-paroki di kota besar yang seringkali menge­luarkan anggaran berlebih untuk me­rayakan Tri Hari Suci dan Paskah?
Boleh-boleh saja. Toh, itu juga untuk mendukung ke­nyamanan umat beribadah. Namun, apakah mereka mau memberikan tiga kali lipat dari anggaran itu untuk sesama dari latar belakang agama berbeda yang ke­kurangan? Jika mereka mau, mereka sudah menghayati makna Tri Hari Suci dan Paskah yang paling esensial, yaitu pe­ngorbanan.

Dalam Kamis Putih, ada dua hal penting, yaitu pendirian Ekaristi dan pembasuhan kaki. Dua hal ini berarti, cara beribadat tidak bisa dipisahkan dari cara hidup. Pemecahan roti sebagai simbol pemberian tubuh dan darah, pembasuhan kaki sebagai simbol pe­ngabdian dan pelayanan total pada sesama.

RB Yoga Kuswandono




Kunjungan: 821
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com