Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Profesionalisme Guru dalam Pendidikan Holistik - Hidup Katolik

Profesionalisme Guru dalam Pendidikan Holistik

Kamis, 29 November 2012 08:27 WIB
Profesionalisme Guru dalam Pendidikan Holistik
[examiner.com]

HIDUPKATOLIK.com - Hakikat manusia adalah tubuh, jiwa, dan roh, yang dalam bahasa filsafat kita kenal sebagai body, mind, and soul. Jadi, seharusnya setiap praksis pendidikan memperhatikan hakikat dasariah tersebut. Praksis pendidikan yang memperlakukan peserta didik sebagai tubuh, jiwa, dan roh itulah yang kita sebut pendidikan yang holistik.

Setiap program pendidikan (mulai dari TK hingga PT) harusnya memperhatikan perkembangan seluruh aspek “ke-diri-an” subjek didik, yakni perkembangan fisik (tubuh), perkembangan aspek psikis (cognitive, afektif, moral, sosial), dan sekaligus aspek spiritual (ke-Roh-anian)nya. Ketiga aspek ini diperhatikan secara integratif dan menyeluruh, karena merupakan satu kesatuan utuh (holistik) dan tak dapat dipisahkan.

Artinya, dalam setiap kegiatan belajar-mengajar, ketiga aspek dasariah itu perlu diperhatikan oleh guru. Ketika guru mengajar pelajaran apa saja, ketiga aspek kedirian manusia itu mesti ikut dikembangkan secara proporsional. Inilah yang kita sebut pendidikan yang holistik. Contoh, guru matematika mengajarkan konsep-konsep matematika di kelas. Selama mengajar, guru memperhatikan cara duduk dan cara menulis peserta-didiknya – bila ada yang menulis dengan tubuh condong ke depan membungkuk dan mata hampir menyentuh pulpen, ini tentu diperbaiki oleh guru profesional. Jangan sampai hal ini menjadi kebiasaan.

Sementara olah pikiran berlangsung ketika guru menjelaskan konsep matematika abstrak – hingga guru yakin bahwa setiap siswa benar-benar telah memahami konsep abstrak tersebut dengan baik. Ini olah psikis (jiwa). Dalam kerja kelompok, kerjasama, guru senantiasa mempromosikan kepada setiap anak didiknya bagaimana sikap baik, cara bicara yang simpatik, dan cara memperlakukan orang lain dengan penuh penghargaan. Ini termasuk promosi aspek psikis (jiwa) khususnya afektif, sosial, dan moral.

Kemudian, ketika guru melihat kesempatan untuk bersyukur, senantiasa mengajak pesertadidiknya untuk memikirkan yang Transenden (Pencipta) yang menyebabkan kita mampu memikirkan semua konsep matematika dan sekaligus akan menggunakan konsep ini untuk membantu sesama dalam hidup kita sehari-hari. Ini sudah masuk pada dimensi spiritual (transendental – universal).

Tentu saja, bila setiap guru mengajar dengan penuh semangat seperti itu – dilakukan secara bersama-sama dalam sebuah “gerak bersama” (total action), maka sekolah menjadi tempat mengalami proses pertumbuhan dan pengembangan diri secara utuh dan menyeluruh (holistik). Di sini, sekolah bukan hanya tempat menimba pengetahuan (aspek mind), melainkan juga tempat berlatih mengolah: emosi, afeksi, hidup sosial, dan kerohanian. Guru bukan hanya sebagai pengajar, tapi seorang pendidik profesional yang mendidik dengan hati.

Agar mampu berperan sebagai agen pendidik holistik, guru perlu menjadi profesional. Artinya, guru benar-benar menguasai materi yang diajarkannya, serta tahu menerangkannya dengan cara sederhana kepada setiap peserta-didik – pun peserta-didik yang pemahamannya terbatas. Guru mampu menjelaskan kepada siswa, bagaimana penerapan setiap konsep yang diterangkannya itu pada dunia nyata. Untuk itu, setiap kali guru menerangkan satu konsep abstrak, dia menyediakan dua atau tiga contoh dalam hidup sehari-hari bagaimana konsep itu diaplikasikan.

Maka, pengajaran guru profesional seperti ini pasti akan selalu menarik. Untuk itu, guru perlu berlatih, banyak membaca, terus membarui diri, dan mencoba mengaplikasikan ilmu yang diajarkannya itu dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga guru memberi keterangan teori yang telah didukung dengan contoh dan fakta-fakta dari pengalaman lapangan yang dapat dirasakan dalam hidup sehari-hari.

Mendidik dengan hati, mengandaikan kesediaan berbagi dan mau membuat orang lain benar-benar memahami apa yang kita jelaskan. Dalam pendidikan holistik itu, guru memperhatikan perasaan dan keadaan setiap siswanya. Ketika ada wajah yang lesu, guru tahu ada sesuatu yang terjadi pada siswanya. Ketika wajah siswanya bingung, guru tahu bahwa keterangan mungkin perlu diulangi, atau perlu bimbingan individual bagi siswa tersebut. Ketika seorang anak menjadi diam di kelas, dan diejek anak-anak lain, guru langsung memberikan beberapa tips tentang menghargai orang lain dan berlaku baik kepada teman. Guru menjelaskan bahwa dalam diri tiap orang ada Roh (Citra Dia yang menciptakan setiap orang) yang perlu dihargai tanpa syarat.

Bisa dibayangkan, bagaimana kita berada di ruang kelas di mana tiap guru mengajar secara profesional. Bila situasi seperti di atas dialami anak selama bertahun-tahun, maka isi bawah sadar anak-anak ini berisi kualitas positif: nilai-nilai moral, sosial, etika, kerohanian yang sangat luar biasa. Bila hal ini terjadi di setiap sekolah kita, secara serentak di semua keuskupan di seluruh Indonesia, apa yang sedang kita siapkan? Sebuah generasi pemimpin 20-30 tahun mendatang yang tangguh dan akan mampu menjadi garam dan terang dunia. Inilah harapan terang kebahagiaan (Gaudium et Spes) yang sedang kita nantikan.

Fidelis Waruwu




Kunjungan: 1407
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com