Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Krisis Ekonomi - Politik dan Konsumtivisme - Hidup Katolik

Krisis Ekonomi - Politik dan Konsumtivisme

Minggu, 17 Mei 2009 11:39 WIB
Krisis Ekonomi - Politik dan Konsumtivisme
[betterphoto.com]

HIDUPKATOLIK.com - Liputan Kompas (1/5/09) mengenai budaya konsumerisme menarik dicermati, dari segi kecenderungan konsumtivisme yang menguat dan peran iklan dalam menstimuli orang untuk mengonsumsi.

Kompas menunjukkan dilema yang dihadapi seorang suami, antara menemani istri berbelanja barang yang diidamkannya berkat stimuli iklan yang menawarkan diskon hingga 70%, atau mengikuti acara family gathering di kantornya. Akhirnya, sang suami tersebut memilih untuk mengikuti acara kantornya dengan ditemani istri. Akan tetapi, rupanya acara yang melelahkan, tidak meluruhkan niat sang istri untuk melanjutkan “perjalanannya” berbelanja barang yang diidamkannya.

Apa kata Lasswell?
Harold Lasswell pada awalnya adalah ilmuwan di bidang politik yang kutipan pernyataannya menjadi referensi bagi kajian ilmu komunikasi, yaitu “Who says/gets what in which channel to whom and with what effect” (1948) berkenaan dengan propaganda. Rogers (1997: 210) menyebutkan, bahwa propaganda, awalnya memiliki arti netral, yaitu diseminasi atau menyebarluaskan suatu gagasan. Dalam perkembangannya, setelah Perang Dunia I, kata itu memiliki arti yang bersifat tidak jujur, manipulatif, dan untuk mencuci otak (brainwash). Dalam perkembangannya, Lazarsfeld dan Hovland menyebut propaganda dengan nama yang lebih berkesan positif, yaitu persuasi (Rogers, 1997: 211). Lasswell, dalam bukunya mengatakan bahwa kondisi depresi ekonomi dan meningkatnya konflik politik mempengaruhi penyebarluasan psikosis dan membuat orang menjadi rentan terhadap propaganda (dalam versi Hovland dan Lazarsfeld, propaganda menjadi kurang lebih sama dengan persuasi).

Lebih lanjut Kompas memaparkan, berkat persuasi melalui iklan, selama empat hari orang rela antre, bahkan hingga dua hari untuk mendapatkan sepatu bermerek Crocs. Persuasi disampaikan oleh media bukan hanya pada masa menjelang penjualan, tetapi juga pada masa sebelumnya, sehingga membuat konsumen familiar dengan sepatu tersebut. Dengan diskon hingga 70%, membuat harga sepatu turun harga menjadi Rp 300 ribu saja. Dan nilai penjualan total yang diperoleh selama empat hari itu adalah Rp 18,6 miliar!!

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dengan memperhitungkan krisis ekonomi global memprediksi, pasar otomotif akan turun sebesar 30%. Akan tetapi, data penjualan pada trimester pertama menunjukkan penurunan hanya terjadi 2,6% dibandingkan trimester tahun sebelumnya.

Dari data tersebut, kita melihat apa yang dinyatakan oleh Lasswell pada 61 tahun yang lalu, masih terbukti hingga saat ini: di Indonesia, yaitu kondisi depresi ekonomi dan ketidakpastian politik membuat konsumen menjadi lebih rentan terhadap persuasi, apalagi kalau dalam persuasi tadi simbol status konsumen sekaligus digugah.

Sebelas tahun lalu
Persis pada bulan Mei sebelas tahun yang lalu, kita mengalami depresi ekonomi dan krisis politik, dan menorehkan luka mendalam, baik fisik maupun psikologis dan masih terekam dalam memori sebagian dari kita. Depresi ekonomi yang muncul karena krisis ekonomi berkepanjangan yang melanda wilayah Asia, merontokkan prediksi para ekonom dunia akan munculnya macan-macan Asia dalam dunia bisnis dan perdagangan.

Kondisi depresi ekonomi itu diwarnai pula dengan ketidakpastian politik yang ditandai dengan Tragedi Mei 1998, dengan peristiwa kekerasan yang sekalipun sungguh terjadi tetapi disangkal oleh banyak pihak. Kekerasan fisik seperti penculikan, penembakan, penjarahan, penganiayaan, aksi pembakaran sejumlah manusia yang tidak seharusnya dikorbankan, pelecehan seksual hingga perkosaan.

Juga kekerasan psikologis pada mereka yang trauma karena dianggap sebagai “yang lain” karena memiliki warna kulit yang berbeda dengan mereka yang menyebut diri sebagai pribumi, dan karenanya mendapatkan perlakuan berbeda.

Propaganda jenis baru
Bercermin pada masa lalu, kita membaca sekali lagi propaganda yang mencoba mengatakan bahwa peristiwa itu tidak sungguh-sungguh terjadi, ada banyak fiksi di balik narasi yang disampaikan oleh para korban, keluarga korban, dan para pendamping mereka.

Di saat yang sama, kita menyaksikan strategi propaganda yang mengajak masyarakat untuk melupakan, bahwa mereka yang menjadi calon pemimpin negeri ini adalah mereka yang terlibat langsung dalam peristiwa tersebut, atau terlibat dalam penyangkalan, pembiaran, atau menepuk dada dengan mengatakan ketidakterlibatannya dengan alasan: mereka bersih, santun, dan beriman. Akan tetapi, di mana mereka ketika peristiwa itu terjadi?

Apakah santun, bersih, dan mengaku tidak korupsi cukup menjadi modal bagi mereka untuk kita pilih sebagai pemimpin negeri ini? Perubahan seperti apa yang para calon pemimpin tawarkan di tengah kepengapan politik dan ketidakberdayaan ekonomi saat ini, patut kita jadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan memilih yang akan terjadi dua bulan lagi.

Puspitasari




Kunjungan: 326
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com