Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Dialog Lingkungan Hidup - Hidup Katolik

Dialog Lingkungan Hidup

Minggu, 24 Mei 2009 10:24 WIB
Dialog Lingkungan Hidup
[http://www.dyndy.net]

HIDUPKATOLIK.com - Kerusakan lingkungan hidup di beberapa wilayah provinsi di Indonesia masih menimbulkan keresahan banyak pihak. Banjir yang terjadi di beberapa daerah, seperti Samarinda, Jakarta, dan bencana Situ Gintung menunjukkan betapa lingkungan hidup kita sudah berada pada ambang batas kehancuran. Berhadapan dengan keprihatinan lingkungan hidup, Gereja Indonesia secara khusus Gereja Regio Kalimantan menggemakan kembali seruan keprihatinan dalam tema APP 2009 ”Membangun Kembali Kalimantan sebagai ciptaan Allah dalam keanekaragaman hidup”.

Kehadiran perusahaan-perusahaan kayu maupun sawit dan juga pertambangan batu bara maupun emas dengan alasan perbaikan ekonomi rakyat, serta-merta merusak lingkungan hidup. Pengrusakan lingkungan hidup pada gilirannya mengakibatkan keterasingan masyarakat dari budaya lokal. Hal ini seringkali juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang lebih berpihak pada kaum kapitalis.

Kerusakan lingkungan hidup berupa banjir dan tanah longsor serta kekeringan tanah, bahkan tindak kekerasan antara warga dengan pihak perusahaan yang berperisaikan aparat kepolisian berupa penembakan warga yang memprotes kegiatan pertambangan, menunjukkan bahwa martabat luhur nilai sejarah dengan begitu mudah dipolitisir.

Agen perubahan
Dalam rangka membangun dialog lingkungan hidup, pada 8 Desember 2007, Paus Benediktus XVI mengajak seluruh keluarga Kristiani membangun lingkungan hidup sebagai bentuk penghargaan terhadap Allah Pencipta yang telah memberikan tanah agar kita menempatinya serta menggunakannya secara kreatif dan bertanggung jawab. Penghargaan terhadap lingkungan hidup berarti bahwa individu-individu tidak menggunakannya secara egois.

Paus mengajak para keluarga Kristiani ikut berpartisipasi secara aktif melestarikan lingkungan hidup. Berhadapan dengan kerusakan lingkungan hidup yang membawa banyak bencana, para keluarga Kristiani diajak hadir sebagai pembawa pesan perdamaian yang ramah bagi lingkungan hidup. Ruang lingkup tanggung jawab keluarga Kristiani pada tempat pertama adalah memberikan tanggung jawab dan pendidikan bagi anak-anak untuk menciptakan kembali ciptaan Allah dalam keanekaragaman hidup yang ramah dan arif.

William Chang (Moral Lingkungan Hidup, Kanisius, Yogyakarta, 2001), menegaskan bahwa masalah kerusakan lingkungan hidup terkait erat dengan krisis moral dalam usaha memahami ciri saling ketergantungan antara manusia dengan lingkungan hidup. Pengelolaan kekayaan alam secara tidak bertanggung jawab menunjukkan adanya kesalahan sikap dasar manusia terhadap lingkungan hidup, terutama konsep keberadaan: hanya manusialah yang layak hidup, sedangkan ciptaan lain hanyalah sarana untuk mencapai tujuan hidup manusia.

Dalam kerangka membangun dialog lingkungan hidup yang ramah dan arif, dibutuhkan kesadaran manusia secara moral untuk bertanggung jawab atas kesejahteraan makhluk ciptaan lain. Manusia wajib melakukan perubahan pola pikir, pola rasa, dan pola aksi terhadap lingkungan hidup serta makhluk ciptaan lainnya. Transformasi ini hanya dapat berjalan, kalau manusia sebagai subjek yang diserahi tugas untuk memelihara lingkungan dan ciptaan lain, memiliki sikap penghargaan dan sikap positif terhadap keberadaan lingkungan hidup dan ciptaan lain. Pada tempat yang lain, umat Kristiani perlu menyadari keberadaannya sebagai bagian dari lingkungan dan ciptaan lain yang ikut bertanggung jawab atas kelangsungan hidup lingkungan bersama ciptaan lain.

Sudah saatnya Gereja bersama seluruh anggotanya diajak tidak memikirkan kepentingannya sendiri, melainkan membuka diri dan menyelami keberadaan makhluk ciptaan lain, serta membangun relasi keterkaitan dengan lingkungan hidup. Umat Katolik diajak membangun kembali dialog dengan lingkungan hidup berupa penghijauan di wilayah-wilayah strategis, ikut menjaga kelestarian lingkungan hidup dan ekosistem lainnya serta berpartisipasi menyuarakan kepada masyarakat dampak negatif kehadiran perusahaan sawit dan pertambangan terhadap lingkungan hidup dan masa depan bangsa. Dengan demikian, umat Katolik sebagai agen perubahan ikut menciptakan kembali Indonesia baru.

Yohanes Kopong Tuan MSF
Ketua Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Agung Samarinda




Kunjungan: 741
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com