Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Gereja di Papua - Hidup Katolik
Home » Tajuk

Gereja di Papua

Minggu, 24 Mei 2009 10:51 WIB
Gereja di Papua
[test.cathnewsindonesia.com]
Monumen Jubelium 50 Tahun Gereja Katolik di Lembah Baliem, Dekenat Jayawawijaya, Papua.

HIDUPKATOLIK.com - Melihat dan merasakan secara langsung bagaimana Gereja menyentuh dan memoles bumi Papua, senantiasa menggetarkan hati. Di pedalaman Papua, di antara lembah dan gunung, di tepian aliran sungai, di tempat-tempat yang tidak mudah dijangkau oleh transportasi modern sekalipun, kita saksikan kehadiran Gereja. Di tempat paling terpencil kita temukan pastor, suster, dan awam Katolik yang bekerja penuh semangat melayani umat di sana, tidak kenal lelah, dari hari ke hari, bertahun-tahun.

Dalam kondisi yang tidak mudah itu, seluruh umat beriman merasakan bagaimana Roh Tuhan terus bekerja menguatkan setiap langkah hidup mereka. Mereka yakin bahwa tanah Papua adalah karya tangan dan jari-Nya. Meski segala persoalan dan tantangan berskala raksasa hadir dan menyelinap di Papua, Tuhan memberikan bantuan untuk Gereja. Seakan Gereja menjadi kepanjangan tangan-Nya yang masih terus berkerja dalam proses penciptaan di Pulau Cenderawasih ini.

Terlepas dari kebenaran iman yang digambarkan sedikit emosional di atas, kita harus beranjak pada iman yang rasional. Dengan demikian, iman surgawi dan Ilahi harus dibarengi dengan iman duniawi yang real dan konkret. Inilah proyek iman yang sedang diperjuangkan oleh Gereja di tanah ini.

Banyak pertanyaan yang terdengar sekular tetaplah merupakan pertanyaan iman: Bagaimana umat dipersiapkan untuk menghadapi gelombang kemodernan? Bagaimana pastoral Gereja dibangun untuk menghadapi ekonomi modern dan globalisasi? Bagaimana Gereja memainkan secara tepat di tengah-tengah kancah perubahan politik nasional dan internasional?

Semua jawaban atas pertanyaan tadi adalah iman yang menjadi nyata. Dan semuanya itu jauh sekali dari romantisme kehadiran Gereja di tengah-tengah hutan-hutan dan pegunungan Papua yang sepi dan gelap di pedalaman. Meski terasa kering, pertanyaan-pertanyaan di atas menjadi pergumulan Gereja di benua ini. Semuanya membutuhkan perjuangan yang dipenuhi dengan jerih payah dan keringat.

Situasi ekonomi, sosial, dan politik sudah berubah. Sebelumnya, masyarakat Papua di pantai Mimika yang peramu bebas berburu dan mencari makan di hutan dan pantai. Tetapi, kini, lahan dan hutan diciptakan oleh dana Freeport 1 %. Konon, perusahaan pertambangan emas yang terbesar di dunia ini memberikan bantuan satu persen dari keuntungannya. Sekarang, tidak ada lagi hutan dan pantai yang bebas murni. Orang Papua kini menangkur sagu dan berburu di ’hutan dana 1 %’ atau memancing ikan di ’laut dana 1 %’.

Realita yang serupa juga berlangsung pada masyarakat Papua pegunungan. Tidak ’semakmur’ dibandingkan penduduk pantai yang menikmati dana 1 %
Freeport, masyarakat pegunungan juga mengalami perubahan sosial-ekonomi dengan segala guncangan sosial-budayanya.

Suku Amungme dianggap sebagai suku yang memiliki hak ulayat atas tanah operasional Freeport. Sebelumnya, ia dikategorikan sebagai suku yang sangat tertinggal dalam banyak bidang kehidupan. Sekarang, secara sosial-ekonomi, ia meningkat drastis tetapi ini tidak diimbangi dengan persiapan mental dan kebudayaan.

Berbagai ironi yang berlangsung pada masyarakat dan umat Papua menjadi titik pijak arah dan kebijakan pastoral Gereja. Gereja Papua tidak berasumsi
mampu menyelesaikan segala-galanya. Kemampuan Gereja terbatas. Gereja memang bukan bermaksud hadir sebagai tandingan pemerintah atau Lembaga
Swadaya Masyarakat.

Kenyataan bahwa Gereja bukan sekadar kelompok pejuang sosial, tentu bukan berarti Gereja boleh melonggarkan komitmen mereka. Pastoral konkret dan material dibutuhkan. Pendekatan sosial ekonomi dan bahkan gerakan politik juga tidak jarang menjadi vital dalam berbagai penanganan persoalan di tanah ini.

Bagaimanapun yang harus menjadi prioritas paling tinggi untuk Gereja adalah peranan moral dalam berbagai silang sengketa. Di tengah-tengah pertentangan
berbagai kekuasaan, Gereja harus bisa dipercaya oleh semua pihak. Ia harus menjadi mediator yang berintegritas. Ini tentu tidak mudah. Dalam situasi dilematis– tidak bisa tidak – Gereja harus berani berpihak pada yang lemah dan mendapat perlakuan tidak adil. Hingga sekarang – syukurlah – dalam banyak kasus di Papua, Gereja Katolik mempunyai kinerja moral yang
bisa dibanggakan.

Redaksi




Kunjungan: 786
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com