Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Hidup Baru dalam Roh - Hidup Katolik

Hidup Baru dalam Roh

Selasa, 4 Desember 2012 15:41 WIB
Hidup Baru dalam Roh
[mcfchurch.co.uk]

HIDUPKATOLIK.com - Dari beberapa umat yang mengaku diri hidup baru dalam Roh, saya mendapat kesan bahwa mereka menjadi sibuk dengan kelompok mereka sendiri, yaitu dengan anugerah-anugerah Roh Kudus, antara lain bahasa roh, karunia nubuat, dan karunia-karunia lain. Apakah pengalaman akan Roh Kudus itu memang membuat orang menjadi introvert dan bertentangan dengan ajaran Yesus untuk mencintai sesama, terutama yang miskin? Mohon penjelasan.

Sutikno Raharjo, Solo

Pertama,
tidak benar bahwa pengalaman akan Roh membuat orang menjadi terarah pada diri sendiri atau kelompok sendiri (introvert) atau bahkan meninggalkan ajaran Yesus. Peristiwa Pentakosta justru menunjukkan sebaliknya, yaitu pengalaman akan Roh Kudus membuat para murid menjadi pelayan dan pewarta Sabda (ekstrovert) seperti yang dilakukan Yesus (Kis 2:14-40; bdk Luk 4: 1.14.16-19).

Roh Kudus yang dicurahkan ke dalam hati kita, sama sekali tidak mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Yesus. Sebaliknya, Roh Kudus justru yang membuat para murid mengalami secara sungguh hidup dan efektif apa arti hidup dan kebangkitan Kristus untuk hidup mereka saat itu. Pengalaman akan Roh Kudus ini mendorong mereka mewartakan iman dan mempedulikan orang-orang miskin. Khotbah Petrus pada Pentakosta itu menjelaskan keterkaitan antara janji-janji Allah dan ajaran-ajaran dan peristiwa Yesus. Dalam dan melalui kekuatan Roh Kudus, kenyataan tentang kebangkitan dialami oleh banyak orang.

Kedua, menjadi jelas dalam Gereja apostolis bahwa kekayaan Roh Kudus bisa bercampur dengan keegoisan manusiawi, sehingga menimbulkan akibat-akibat negatif. Misalnya, Rasul Paulus kecewa terhadap Gereja di Korintus, bukan karena mereka mempraktikkan karunia-karunia karismatis, tetapi karena mereka memisahkan penghayatan karunia-karunia itu dengan kepedulian mereka pada saudara-saudari yang miskin atau datang terlambat (1 Kor 11:7-22. 33-34) dan pada “orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman” (bdk 1 Kor 11:1-5. 23-25). Keegoisan manusiawi itulah yang membuat mereka menjadi puas dengan diri sendiri.

Pengalaman-pengalaman yang membuat orang menjadi sangat menggebu-gebu tidaklah selalu bisa dipastikan sebagai pengalaman kristiani. Pengalaman semacam itu bisa ditemukan dalam tradisi aneka agama. Di bawah pengaruh pengalaman itu, orang bisa mengalami pertobatan dan pencerahan. Apa yang menggerakkan? Bisa jadi sebuah kekuatan yang tidak dikenal, yang begitu menguasai seseorang. Kekuatan itu bisa membangun, tetapi juga bisa merusak. Pengalaman yang demikian itu banyak diwujudkan dalam penyembuhan, bahasa roh, menyanyi, menari, melompat-lompat, dan gerakan ekstatis. Tampaknya, Rasul Paulus sadar akan hal ini dan mengingatkan jemaat di Korintus bahwa sebelum mereka percaya kepada Allah, mereka sudah “ditarik kepada berhala-berhala bisu” (1 Kor 12:2).

Apa yang membuat pengalaman itu menjadi pengalaman kristiani ialah jika Roh Kudus menggerakkan orang-orang itu untuk mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan (1 Kor 12:3). Pengakuan kristologis seperti itu haruslah mempunyai akibat konkret yaitu, mereka tidak mengabaikan orang-orang yang datang terlambat (1 Kor 11:17-34) dan mereka peduli pada pembangunan persekutuan jemaat (1 Kor 14: 4.12.26.31), serta mereka menjadi sebuah Gereja yang terbuka, siap membagikan karunia-karunia dengan dunia (1 Kor 14:16.24 dst). Dengan demikian, jelaslah bahwa pelayanan Roh Kudus berkaitan erat dengan ajaran-ajaran Yesus. Itulah sebabnya, mengapa karya Roh Kudus haruslah merupakan ungkapan konkret dari kasih (1 Kor 13), seperti yang diajarkan Yesus.

Ketiga, tolok ukur lain untuk melihat keotentikan pengalaman akan Roh ialah kesiapan seseorang untuk mengakui bahwa kelemahan dan penderitaan adalah bagian dari proses menjadi murid Yesus (bdk Gal 4:12-20). Menurut Paulus, tanda sejati seorang rasul (bdk 2 Kor 12:12) bukanlah sikap pamer akan kuasa dunia, penglihatan, ekstasi, mukjizat, bahasa roh, dan kefasihan berbicara (2 Kor 11:5.13, 12:11), tetapi pengakuan akan Kristus yang disalibkan yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati. Karena itulah, Paulus membanggakan diri menjadi “lemah dalam Kristus” (2 Kor 13:4). Jadi, pengalaman akan Roh Kudus justru mewujudkan ajaran-ajaran Yesus dan mendekatkan kita pada Yesus.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM




Kunjungan: 1150
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com