Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Yadapen Semarang: Program Manfaat Pasti - Hidup Katolik

Yadapen Semarang: Program Manfaat Pasti

Kamis, 6 Desember 2012 09:13 WIB
Yadapen Semarang: Program Manfaat Pasti
[Dok Yadapen]
Keputusan tertinggi: Sidang Majelis Yadapen dihadiri wakil-wakil dari yayasan-yayasan. peserta Yadapen

HIDUPKATOLIK.com - Yayasan Dana Pensiun (Yadapen) Semarang pada dasarnya memperjuangkan kepentingan karyawan para pemberi kerja yang bergabung di dalamnya. Bentuk perjuangannya adalah mengupayakan jaminan bagi masa depan karyawan, setelah memasuki masa pensiun.

Dana pensiun lembaga Katolik Yadapen berdiri pada 5 Maret l974. Tiga tahun kemudian disahkan Menkeu, dengan Nomor 014/MK.6/l977. Yadapen dikelola dengan menjalankan peraturan-peraturan yang telah disepakati para lembaga kerja yang bergabung, dan disahkan oleh Departemen Keuangan RI.

”Kita tidak boleh membuat keputusan yang hanya menyenangkan para pensiunan, tapi merugikan calon pensiunan. Kami para pengurus Yadapen selalu menjalankan komitmen atau peraturan yang ada,” tandas Sekretaris Yadapen Semarang, Pastor Agustinus Sarwanto SJ saat ditemui di Kantor Penerbit dan Percetakan Kanisius Deresan, Yogyakarta, Jumat, 11/5.

Komitmen
Lebih lanjut Romo Sarwanto menceritakan, Yadapen didirikan karena menyadari bahwa pensiun merupakan hak tiap pegawai tetap lembaga Katolik. Karena kesadaran itu, 45 lembaga Katolik berhimpun, dan sepakat mendirikan Yadapen. Lembaga-lembaga ini mengumpulkan iuran dari pegawai tetap maupun lembaga-lembaga Katolik pemberi kerja. Ini dimaksudkan agar diperoleh jumlah dana yang cukup besar untuk memberi hak pensiun bagi pegawai yang berhak menerimanya.

Pada 1 April l973, pengumpulan iuran dana terwujud. Setahun kemudian Yadapen resmi berdiri. Saat Yadapen berdiri, demikianRomo Sarwanto, masih banyak lembaga Katolik yang belum mampu membayar kewajiban berdasarkan masa kerja yang telah dilalui pegawainya. Agar pegawai tidak dirugikan dalam penerimaan hak pensiunnya, pengurus Yadapen mengadakan fund-raising di Belanda dan Jerman. Berkat pengertian ordo dan kongregasi di kedua negara itu, tentang pentingnya hak pensiun seorang pegawai tetap, terkumpullah dana yang cukup besar untuk tujuan tersebut. Dan, uang yang menjadi milik Yadapen itu sempat disimpan serta dikembangkan oleh Stichting Frans van Lith, sebuah yayasan yang didirikan dan berdomisili di Belanda.

Dalam perjalanannya, Yadapen semakin berkembang. Anggota Yadapen pun bertambah dari tahun ke tahun. Agar Yadapen tetap sehat, tiap dua tahun diadakan rapat Majelis Perwakilan Yadapen. ”Majelis Perwakilan ini merupakan penguasa tertinggi yang bewenang mengangkat dan memberhentikan pengurus serta dewan pengawas, dan menetapkan peraturan dana pensiun Yadapen,” jelas Romo Sarwanto.

Sidang Majelis Yadapen tahun l982 memutuskan bahwa keanggotaan Yadapen tidak hanya terbatas pada lembaga pendidikan Katolik, tetapi terbuka bagi lembaga-lembaga Katolik lainnya, seperti tarekat religius, rumah sakit, percetakan, serta gereja. Saat ini, 125 lembaga Katolik bergabung dalam Yadapen, dengan jumlah anggota sekitar 31.000 orang, 25.000 di antaranya adalah peserta aktif dan 6.000 lainnya pensiunan.

Manfaat Pasti
Romo Sarwanto, yang juga Direktur Utama Penerbit dan Percetakan Kanisius, menjelaskan, tiap lembaga dana pensiun punya peraturannya sendiri-sendiri. Yadapen sendiri menerapkan Program Dana Pensiun Manfaat Pasti. Artinya, besarnya pensiun didasarkan oleh masa kerja, penghargaan per tahun, dan penghasilan dasar pensiun.

Program Manfaat Pasti ini diyakini lebih memihak kepentingan karyawan. Program Manfaat Pasti lebih menguntungkan dibandingkan dengan Program Pensiun Iuran Pasti. Penghasilan tidak kena pajak dihitung setelah menerima manfaat pensiun dalam setiap bulannya, tidak dari kumpulan iuran yang disetorkan.

Melalui Program Manfaat Pasti, peserta akan menerima uang pensiun sampai meninggal. ”Memang ada yang hanya menikmati pensiun dalam waktu singkat lalu meninggal. Tetapi, ada juga yang menikmati pensiun sampai umur 90 tahun. Kalau seorang pensiunan meninggal, pasangannya atau anaknya (sampai umur 21 tahun) akan tetap mendapatkan manfaat pensiunnya. Di sini ada unsur solidaritas,” jelas Romo Sarwanto.

Secara normal besaran pensiun yang diterima adalah 2,2% X MK (Masa Kerja) X PhDp (penghasilan dasar pensiun). Maksimum pokok pensiun adalah 75% dari PhDp yang dicapai kalau seseorang bekerja selama 34,1 tahun. Pokok pensiun minimum adalah 35% dari PhDp yang dicapai kalau seseorang bekerja selama 16 tahun, atau minimum Rp 250.000 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Bagaimana dengan keluhan bahwa pensiun Yadapen itu kecil? Romo Sarwanto menjelaskan, ”Pertama-tama yang harus dilihat adalah masa kerjanya. Makin lama bekerja akan makin besar pensiunnya. Orang yang hanya bekerja 16 tahun tentu pensiunnya lebih kecil dibanding orang yang telah bekerja 30 tahun atau 35 tahun dengan pokok gaji yang sama.”

Kecuali itu, perlu pula dilihat golongan gaji yang bersangkutan yang sah dan tercatat di Yadapen. Kalau seseorang pensiun dengan golongan gaji II-B, tentu pensiunnya akan lebih kecil dibanding dengan orang yang pensiun dengan golongan gaji IV-B, dengan masa kerja yang sama. Jadi, tips supaya pensiunnya besar adalah menjadi anggota Yadapen sejak umur muda, supaya masa kerjanya lama dan tingkat golongan gajinya tinggi. Pemberi kerja dan pekerja itu sendiri tentu berperan besar menentukan hal ini. Kalau dengan tips tersebut manfaat pensiun masih diyakini belum besar, yang bersangkutan atau seluruh karyawan harus berembug dengan pemberi kerja untuk dapat merancang masa depannya setelah pensiun. ”Ada beberapa pemberi kerja yang tidak hanya mengikutkan karyawannya pada program pensiun Yadapen, tapi sekaligus juga menyertakan pada lembaga penjamin masa tua lainnya,” jelas Romo Sarwanto.

Kalau seseorang pada saat ini melihat besaran pensiun yang telah ia terima dua puluh, lima belas atau sepuluh tahun yang lalu dan dibandingkan dengan situasi sekarang, pasti besaran pensiun itu terasa kecil. Karena, inflasi terjadi tiap tahun, nilai rupiahterus-menerus merosot. Hal ini bisa dilihat, misalnya, jika nilai rupiah dibandingkan dengan nilai US $. Tahun 1997-an, 1 US $ kurang lebih sama dengan Rp 2.500 – Rp 3.000. Sekarang, 1 US $ sama dengan Rp 10.300-an. Kalau seseorang pensiun pada tahun 1997 dengan nilai nominal Rp 600.000 dan pada tahun 2009 ini tetap Rp 600.000, atau sedikit mengalami kenaikan, maka besaran pensiun orang tersebut pada tahun 2009 ini menjadi sangatlah kecil. Pada tahun 1997, Rp 600.000 setara dengan US $ 240, sedangkan pada tahun 2009, Rp 600.000 setara dengan US $ 58,25. Pada tahun 1997, Rp 600.000 bisa dipakai untuk membeli beras jauh lebih banyak dibandingkan kalau dipakai untuk membeli beras pada tahun 2009, dengan kualitas beras yang sama. Kalau nilai rupiah stabil dalam jangka waktu yang panjang, para pensiunan akan sangat diuntungkan.

Romo Sarwanto meyakinkan bahwa Program Manfaat Pasti yang dipilih oleh Yadapen sungguh lebih baik dan aman sebagai jaminan hari tua. Peserta yang bekerja hanya 16 tahun berarti membayar iuran 16 X 12 X 15,1% gaji pokok = 2.899,2% = 28,992 gaji pokok = 2, 416 tahun. Dengan hanya menyetor 2, 416 tahun gaji, setelah umur 56 tahun, peserta tersebut akan punya kesempatan menikmati pensiun sampai akhir hidup, meskipun pensiunnya relatif kecil.

Yesuit yang pernah memimpin Yayasan Kanisius Pendidikan Cabang Yogyakarta selama 5 tahun (l995-2000) ini, mengungkapkan, tidak sedikit guru atau pensiunan yang bersyukur atas manfaat pensiun yang mereka terima. ”Mereka sadar bahwa pemberi kerja telah bersama-sama berjuang menjalankan karya kerasulan dengan baik. Banyak uluran tangan, baik yang memungkinkan hidupnya, karya dan masa depan mereka,” jelasnya.

Romo Sarwanto yakin, karyawan/guru, pemberi kerja, dan Yadapen bakal mampu membuat terobosan-terobosan untuk menjamin hari tua para peserta. Saat ini, Yadapen memenuhi manfaat pensiun sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. ”Kita masing-masing sebetulnya sudah bisa menghitung besaran pensiun yang akan kita terima, saat memasuki masa pensiun nanti. Dengan demikian, kita pun bisa merancang masa depan kita,” Romo Sarwanto mengingatkan.

Kalau peserta menginginkan besaran pensiun yang diterima sama dengan pegawai negeri sipil (PNS) atau mungkin lebih, maka tidak mungkin terpenuhi hanya dengan ikut program Yadapen. Tetapi, kalau memang peserta menginginkan demikian, peraturan Yadapen harus diubah dulu, dan konsekuensinya iuran peserta harus ditingkatkan.

Markus Ivan




Kunjungan: 1599
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com