Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Mayor Sus Yos Bintoro Pr: Pastor Langka di Lingkungan TNI AU - Hidup Katolik

Mayor Sus Yos Bintoro Pr: Pastor Langka di Lingkungan TNI AU

Senin, 10 Desember 2012 15:05 WIB
Mayor Sus Yos Bintoro Pr: Pastor Langka di Lingkungan TNI AU
[HIDUP/Agus Y. Ranu]
Pastor Mayor (Sus) Yos Bintoro Pr

HIDUPKATOLIK.com - Meski mengenakan pakaian dinas militer, Pastor Mayor (Sus) Yos Bintoro Pr disapa para karbol (calon perwira AU) dengan ucapan, ”Selamat pagi, Romo”. Bukan layaknya militer, ”Selamat pagi, Mayor”.

Hal itu dialami Romo Yos, sapaan akrabnya, setiap kali ia memasuki Kesatrian Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta untuk mengajar. Terhitung sejak 1 Oktober 2007, kepangkatan Romo Yos telah naik satu tingkat, dari kapten menjadi mayor.

Mendapat sapaan demikian, Romo Yos bersyukur kepada Tuhan. Ternyata, para karbol melihat dirinya bukan lantaran pangkatnya. Namun, mereka melihat dirinya sebagai Gereja melalui karya pendidikan yang dijalankannya di lingkungan AAU.

”Hal-hal indah seperti itulah yang meneguhkan saya dalam pelayanan rohani di lingkungan AAU,” ucap pembina calon perwira karier AAU Yogyakarta ini, saat ditemui di Paroki St Mikael TNI AU Yogyakarta, Kamis, 21/5.

Dikenal akrab
Romo Yos tidak saja dikenal akrab oleh mereka yang Katolik. ”Saya juga dipercaya oleh mereka yang bukan Katolik,” tutur perwira rohani Katolik ini.

Sejak 1997, ia bertugas sebagai pastor militer di AAU Yogyakarta. Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja SJ menugaskannya pertama kali sebagai pastor militer. Saat itu, teman-teman dekatnya mengingatkannya agar bersiap-siap frustrasi menjadi pastor tentara.

Romo Yos mengakui, di masa pencariannya berkarya sebagai pastor militer, ia sempat frustrasi selama empat tahun. ”Saya menjadi tentara kok begini, sia-sia,” pikirnya saat itu.

Seiring waktu, pastor kelahiran Jakarta, 30 November l967 ini sadar bahwa tugas di TNI AU tidak cukup hanya memberikan pembinaan rohani atau sekadar pelayanan pastoral saja. Namun, saatnya berbuat sesuatu untuk menyiapkan apa yang dibutuhkan TNI AU ke depan.

Di saat putus asa, ia berdoa dengan lelehan air mata. ”Apa benar Engkau mengutus aku di tempat ini? Kalau benar Engkau mengutus aku, aku minta tanda adanya gereja dan pastoran,” pintanya.

Doa Romo Yos terkabul. Tahun 2001, ia mampu merenovasi gudang di kawasan Pangkalan TNI AU untuk dijadikan bangunan gereja beserta pastoran. Dua tahun berselang, TNI AU menghibahkan bangunan gereja itu kepada Gereja Katolik. ”Jadi, bangunan Gereja St Mikael ini sekarang milik Gereja Katolik,” jelasnya.

Pusat studi
Kebanyakan gereja dibangun dan bertumbuh dengan mengandalkan dana umat. Tetapi, Gereja St Mikael TNI AU berdiri dengan cara tersendiri. ”Kami harus mencari dana secara kreatif agar dalam waktu yang ditentukan, gereja sudah berdiri,” katanya.

Ia menyadari, selesainya pembangunan Gereja Katolik di lingkungan Pangkalan TNI AU tak lepas dari campur tangan Tuhan. ”Dalam pendanaan, banyak hal di luar akal sehat manusia terjadi. Kalau Tuhan menginginkan, apa pun akan terjadi,” ucapnya.

Arah Gereja di Kompleks Pangkalan TNI AU bukan seperti paroki, namun memiliki kekhasan tersendiri. Pertama, Gereja sebagai pembangunan karakter. ”Yang kami siapkan adalah Gereja yang memberikan pembentukan karakter bagi calon pemimpin masa depan, khususnya bagi TNI AU. Jadi, pembinaan karakter menjadi fokus Gereja ini,” jelasnya.

Kedua,
Romo Yos terilhami hasil Sidang KWI 2004 mengenai Habitus Baru. Ia melihat eko pastoral harus jalan untuk pembinaan karakter anggota TNI AU. Karena itu, Gereja ini dijadikan percontohan dalam kaitan ramah lingkungan, baik lingkungan masyarakat maupun lingkungan hidup. Gereja ini menerapkan gerakan mengolah sampah dan dekat dengan kehidupan organik.

”Yang kami siapkan adalah Gereja zona hijau. Kami membuat pupuk kompos sendiri dari sisa makanan pastoran. Kami juga punya warung organik,” tutur imam yang gemar berkebun, termasuk mengolah sampah organik ini.

Pastoran Katolik TNI AU di Pangkalan Adisutjipto Yogyakarta juga dilengkapi dengan perpustakaan yang mengoleksi 2.000 buku. Buku-buku yang dipajang rapi di almari terdiri dari buku ekonomi, sosial, politik, budaya, keamanan, filsafat, sosiologi, dan psikologi. Ada juga buku-buku tentang hubungan antaragama, rohani, Kitab Suci, kepemimpinan, character building, kajian militer, kekuatan udara, biografi, termasuk novel.

”Di lingkungan perwira menengah (pamen) TNI AU, yang punya perpustakaan selengkap ini baru di sini. Kelak, perpustakaan dan seluruh isinya ini akan saya serahkan kepada Uskup untuk kekayaan harta benda keuskupan,” katanya.

Romo Yos mulai menyiapkan hal tersebut, mengingat arah Gereja TNI AU ke depan adalah pembangunan karakter. ”Kami akan menjadikan Gereja ini sebagai pusat studi kebangsaan, keamanan, dan perdamaian,” kata pastor yang tengah studi di Program Pasca Sarjana Perdamaian dan Resolusi Konflik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Menurut Romo Yos, untuk mendirikan pusat studi tersebut, membutuhkan proses panjang. ”Saya harus fokus pada pencarian. Mungkin rencana mendirikan pusat studi ini baru terealisir sepuluh tahun lagi,” duga imam yang saat ini mulai menulis buku.

Ia bangga menjadi pembina calon perwira karier di AAU. ”Mereka kan calon marsekal (jenderal). Tidak terbatas yang Katolik. Jadi, saya turut andil memberikan warna pada kehidupan mereka,” ucapnya.

Romo Yos berpendapat, karya Gereja tidak mungkin hanya kategorial saja, namun harus bersama teritorial. Atau paling tidak, berhimpit dan bersinergi dengan teritorial. ”Jadi, saya tidak boleh jual mahal, hanya menempatkan diri sebagai romo tentara saja. Saya juga romo umat, sehingga umat di sekitar pangkalan ini wajib saya layani,” ucap pastor yang mengalami kecelakaan lalu lintas di Yogyakarta pada 2 Mei lalu.

Pastor langka
Yos memang pastor langka. Ia merupakan satu-satunya pastor militer yang dimiliki TNI AU. Tiga pastor seangkatannya yang dulu sama-sama disiapkan menjadi pastor militer, tidak lolos dalam seleksi masuk. ”Kan romo-romo tidak disiapkan untuk punya kemampuan fisik seperti militer,” kata romo yang pernah ditugaskan dalam Operasi Satuan Tugas Pembina Mental di Timor Timur, selama delapan bulan ini.

Romo Yos heran, dirinya bisa lolos seleksi kemiliteran. Padahal, di masa kanak-kanak, fisiknya paling rapuh dibanding empat kakaknya. ”Guru SD dan orangtua saya tahu persis, dulu fisik saya lemah. Saya sering epilepsi perut dan sakit kepala,” kenangnya.

Karena sering sakit, anak kelima dari enam bersaudara pasangan KRT Rafael Ignatius Djoko Sukaryo Martokusumo dan Ray Maria Dolores Mursyanti ini terbilang tidak berprestasi di sekolah.

Namun, berkat doa-doa ibunya yang dilambari laku tirakat, serta tekad Yos untuk sembuh, sejak kelas V SD kondisinya membaik. Sejak itu, Yos percaya diri mengejar ketertinggalannya.

Yos tidak pernah main-main dengan panggilannya sebagai pastor militer. Apalagi, sebagai tentara, ia menghadapi godaan yang luar biasa, mengingat jenjang karier militer cenderung naik. Sementara sebagai imam, ia melihat kebalikannya: jalannya ke bawah. Jika tidak dihayati secara tepat, panggilan sebagai imam akan kehilangan orientasi. ”Di seminari, kami diajarkan jika ada dua pilihan: yang enak dan tidak enak, kami harus memilih yang tidak enak. Itu menjadi prinsip hidup saya,” tutur imam yang juga mengajar di Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta ini.

Kini, ia merasa takut jika ada yang mengatakan bahwa bertugas sebagai pastor militer itu enak. Bisa jadi, mereka menganggap demikian karena karya Romo Yos di lingkungan TNI AU mulai tampak dan bisa dirasakan buahnya, baik oleh anggota TNI AU maupun masyarakat di sekitar Pangkalan Adisutjipto.

”Dulu, saya berkarya dengan ’gigi satu’. Sekarang, dengan ’gigi empat’,” tandasnya memungkasi perbincangan.

Biodata
Nama : Pastor Mayor (Sus) Yos Bintoro Pr
Lahir : Jakarta, 30 November l967

Pendidikan:
• S1 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta (1987-1992)
• Sedang studi S2 Program Pasca Sarjana Perdamaian dan Resolusi Konflik di UGM, Yogyakarta

Pekerjaan:
Ditugaskan sebagai pastor militer pertama yang mengikuti pendidikan reguler ketentaraan, dalam sejarah Gereja Katolik di Indonesia
• Perwira Menengah TNI AU Organik (Perwira rohani Katolik)
• Dosen/pembina pada Akademi Angkatan Udara
• Dosen tidak tetap MKU pada Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Markus Ivan




Kunjungan: 4184
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com