Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Takhayul Modern - Hidup Katolik
Home » Tajuk

Takhayul Modern

Minggu, 28 Juni 2009 08:10 WIB
Takhayul Modern
[futurity.org]

HIDUPKATOLIK.com - Dalam Injil Lukas, sebanyak empat kali Yesus mengucapkan kalimat: ”Imanmu telah menyelamatkan engkau”. Pertama, kalimat ini disampaikan kepada seorang perempuan pendosa, yang mengurapi kaki Yesus di rumah seorang Farisi. Kedua, kepada seorang perempuan yang sudah 12 tahun menderita pendarahan, dan sembuh setelah menjamah jumbai jubah Yesus dari belakang. Ketiga, kepada satu dari 10 orang penderita kusta yang Ia sembuhkan. Keempat, kepada seorang pengemis buta di dekat Kota Jerikho.

Iman atau keyakinan, adalah inti dari ajaran semua agama di dunia. Termasuk keyakinan dari agama-agama primitif dalam masyarakat tradisional yang sangat
sederhana. Dalam iman Katolik, dikenal roti yang disebut Hosti dalam Perayaan Ekaristi. Roti dalam Perayaan Ekaristi adalah salah satu sakramen dalam iman Katolik. Gereja Katolik secara fisik mengaturnya dalam Kanon 899 – 933, Kitab Hukum Kanonik.

Artinya, dalam iman Katolik, roti yang disucikan hanyalah Hosti suci. Selain Hosti suci, tidak ada roti lain yang disucikan. Dalam agama apa pun, selalu terjadi kreativitas. Baik kreativitas yang mengarah pada kemajuan, maupun ke arah kesesatan. Hosti suci sendiri, yang berawal dari perjamuan terakhir, sebenarnya juga merupakan bentuk kreativitas (pembaruan, Perjanjian Baru), dari roti tak beragi dalam perayaan Paskah umat Yahudi. Roti Paskah sendiri juga merupakan kelanjutan dari roti purba zaman neolitikum (10.000 SM), yang sudah disucikan oleh masyarakat Mesopotamia.

Menyucikan makanan, bukan hanya tradisi Timur Tengah. Di semua etnis di dunia, selalu ada tradisi memuja bahan pangan. Sebelum kedatangan bangsa Spanyol, masyarakat Maya dan Aztec di Amerika Selatan punya tradisi membuat patung dewa Huitzilopochtli dari tepung (pati) biji bayam (grain amaranth), dicampur dengan madu. Patung ini mereka sucikan, dipotong, dan dibagi-bagi untuk dimakan. Di Hawaii, Poe yang terbuat dari talas, juga disucikan sebagai penjelmaan roh nenek moyang. Di Jawa, padi dipercaya sebagai titisan Dewi Sri, dan di Sunda Dewi Pohaci.

Tradisi menyucikan roti, berkembang lebih jauh, dan lebih rumit pada sekte Amish di AS dan Kanada. Sekte yang didirikan oleh Jakob Ammann (1656 -
1730), seorang penganut Gereja Mennonite Swiss, ini mengembangkan tradisi membuat roti selama 10 hari, yang kemudian dibagi-bagikan di antara teman dan kerabat mereka. Tradisi inilah yang entah oleh siapa, pada tahun 1990-an, dikembangkan menjadi ”roti berantai”, semacam surat berantai, yang dikait kaitkan dengan nama Padre Pio, bahkan dengan Vatikan.

Sebelum ada teknologi internet, surat berantai ditulis tangan atau diketik menggunakan mesin ketik, dan dikirimkan melalui pos. Diperkirakan, pada tahun 1990-an, ”roti berantai” Padre Pio ini masuk ke berbagai situs internet. Secara berantai pula, adonan roti ini dikirimkan melalui jalur pertemanan atau kekerabatan dalam komunitas Katolik. Surat berantai adalah bentuk takhayul modern. Demikian pula halnya dengan ”roti berantai” Padre Pio.

Batas antara iman dengan takhayul memang sangat tipis. Termasuk takhayul modern. Semua orang Katolik tahu, bahwa satu-satunya roti yang disucikan dalam iman Katolik, hanyalah Hosti suci dalam Perayaan Ekaristi. Namun, ”roti berantai” Padre Pio mampu masuk dan berkembang ke dalam komunitas Katolik. Selain dikait-kaitkan dengan Padre Pio dan Vatikan, ”roti berantai” ini juga disertai dengan ancaman. Ancaman ini persis sama dengan pola ancaman pada surat berantai. Ironisnya, banyak umat Katolik yang terperangkap dengan Roti Padre Pio.

”Roti berantai” Padre Pio memang bukan sesuatu yang serius dalam komunitas Katolik. Ibarat dengung nyamuk di telinga, atau semut yang merayapi tangan. Tidak terlalu penting, tetapi terasa mengganggu. Paling sedikit akan menimbulkan pertanyaan di kalangan umat, yang tiba-tiba menerima kiriman paket adonan Roti Padre Pio, lengkap dengan petunjuk membuat, doa, serta ancamannya. Harus diapakan kiriman ini?

Beberapa pastor paroki menjawab pertanyaan umat tentang roti berantai ini dengan singkat: ”Mau dibuang silakan, dibuat dan dimakan juga tidak apa-apa.”

Jawaban beberapa pastor paroki itu selain benar, juga bijak. Fenomena roti berantai bukan menyangkut sesuatu yang urgen. Namun, umat cenderung menuntut jawaban yang lebih tegas, bahkan untuk hal-hal yang paling sepele sekalipun. Meskipun Yesus sebanyak empat kali, mengatakan hal yang sama kepada empat orang yang berbeda: ”Imanmu telah menyelamatkan engkau”, tetap saja banyak orang yang masih meragukan imannya sendiri: ”Benarkah ini Roti Padre Pio? Benarkah ini dari Vatikan? Benarkah kita tidak boleh menolaknya?”.

Redaksi




Kunjungan: 661
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com