Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Media dan Pemilu 2009 - Hidup Katolik

Media dan Pemilu 2009

Minggu, 19 Juli 2009 10:09 WIB
Media dan Pemilu 2009
[jpnn.com]

HIDUPKATOLIK.com - Anda menonton serangkaian debat calon presiden dan calon presiden kita pada tengah Juni hingga awal Juli kemarin? Ada yang mengatakan, debat ini bisa memberikan kepada kita gambaran atas kemampuan para kandidat presiden. Tetapi, ada juga yang mengatakan bahwa pandai bersilat lidah belum tentu menunjukkan kehebatan dalam penataan kerja-kerja sebagai presiden nantinya.

Oke, jadi menurut Anda, siapa sebenarnya yang jadi pemenang dari debat-debat tersebut? Pasangan nomor satu? Pasangan nomor dua atau pasangan nomor tiga?

Saya tak butuh jawaban angka manapun, karena menurut saya, yang justru menjadi uara dari debat-debat ini adalah media televisi yang menyiarkan rangkaian debat tersebut.

Lho, mengapa begitu? Ya, Anda bisa bayangkan untuk tayangan iklan sepanjang satu menit saja pada jam prime time, seperti pada saat menayangkan debat, harganya mencapai puluhan juta rupiah. Nah, kalau ada acara selama dua jam seperti ini, berapa kiranya perolehan iklan yang didapat oleh stasiun televisi yang menayangkan debat?

Anda mungkin ingat, betapa Anda merasa kesal, sedang seru-serunya memaparkan visi misi atau menjawab pertanyaan moderator, tahu-tahu iklan. Dan, siapa tahu, justru iklannya cukup lama dan lebih membekas di benak penonton ketimbang isi pesan dari debat itu sendiri.

Pemilu ini memang berbeda dengan pemilu sebelum-sebelumnya. Di satu sisi, pemilu ini memang lebih rumit, lebih demokratis, namun tak mudah juga dipahami oleh kalangan masyarakat bawah. Namun, dengan kekisruhan soal Daftar Pemilih Tetap (DPT) di pemilu legislatif dan pemilu presiden, juga menimbulkan kebingungan tersendiri.

Namun, di luar itu semua, media massa adalah institusi yang paling mendapatkan keuntungan dari pemilu seperti ini. Iklan-iklan politik yang sudah ada sejak akhir tahun 2008 lalu, telah menggelontorkan uang miliaran rupiah ke pundi-pundi stasiun televisi, sejumlah media cetak yang kena ciprat, dan media radio yang dapat iklan politik sekadarnya.

Di satu sisi, hal ini dikritik sebagai pemilu yang termediasi (mediated election) di mana publik atau warga melihat pemilu lewat corong media massa. Ia telah menghasilkan gambar-gambar yang fragmentatif (fragmented pictures) seperti mozaik, dan yang telah tampil lewat layar kaca tentu saja telah melewati sejumlah proses seleksi, dibumbui sejumlah bias, dan tuntutan atas rating.

Kita bisa melihat ketika debat calon presiden atau wakilnya kurang seru, tapi lebih seru adalah mendengar debat dari pengamat debat (yang datang dari tiga kubu tersebut) untuk saling menjatuhkan pihak lawannya. Makin keras bersuara, dianggapnya makin seru... wah... wah... wah....

Media massa memang cukup berbeda dengan apa yang kita pernah kenal di masa lalu. Media massa saat kini ditarik-tarik oleh dua kutub kepentingan: di satu sisi, ada media yang masih ingin menyajikan isi media yang berkualitas, memberikan pencerahan, memberi informasi yang bermanfaat, tapi di sisi lain, ia juga ditarik-
tarik dengan kepentingan bisnis; bagaimana menjaring iklan, menghasilkan berita yang menarik (baca: sensasional, macam kematian penyanyi Michael Jackson yang berhari-hari menghiasi isi media kita).

Para pelaku media dewasa ini dituntut untuk cerdas meniti di antara dua kutub ini. Ia harus menghasilkan informasi yang dianggap menarik dan bermutu, tetapi di sisi lain, ia juga harus ramah pada pengiklan dan mengusahakan seluas-luasnya ruang untuk beriklan.

Mana media yang bisa meniti mulus di antara dua kutub ini? Tak banyak. Tak perlu menyebut nama medianya. Tetapi, dengan penonton atau pembaca yang makin cerdas, mereka akan mudah melihat bagaimana suatu media itu independent atau tidak. Media yang lebih independen akan lebih dihargai, sementara media yang kurang independent, akan cenderung dicibir (atau malah diberi tepuk tangan?).

Apa yang mempertemukan media dan pemilu 2009 ini? Keduanya tertarik dengan konsep yang kita sebut sebagai kepentingan publik. Media meliput ini dan itu, karena ia sedang mewakili kepentingan publik. Wartawan datang ke tempat di mana orang biasa cenderung menjauhinya (lokasi bencana, lokasi konflik, dan lain-lain). Sementara itu, pemilu juga adalah cerminan kepentingan publik untuk memilih pemimpinnya. Jadi, nilai sama untuk dua hal ini: kepentingan publik. Namun, pertanyaannya? Betulkah pemilu ini mencerminkan hasil dari pilihan publik yang merasa terwakili kepentingannya? Dan juga, betulkah media yang ada sekarang ini mewakili kepentingan publik? Atau bukannya kepentingan si pemilik? Atau bukannya kepentingan si pengiklan?

Jawaban-jawaban itu akan terasa jadi sangat panjang.

Ignatius Haryanto




Kunjungan: 381
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com