Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Wisma Domus Pacis: Menikmati Kedamaian Saat Senja - Hidup Katolik

Wisma Domus Pacis: Menikmati Kedamaian Saat Senja

Selasa, 18 Desember 2012 14:18 WIB
Wisma Domus Pacis: Menikmati Kedamaian Saat Senja
[Dok. Komsos KAS]
Kunjungan: Para romo di Wisma Domus Pacis berkunjung ke rumah salah satu umat

HIDUPKATOLIK.com - Pagi hari, usai sarapan bersama, beberapa imam Diosesan yang tinggal Wisma Domus Pacis (DP) DI Yogyakarta akrab bercanda.

Walau sebagian di antara mereka sudah berusia senja dan ada yang tengah sakit, semangat menjalani hidup masih terpancar, sebagaimana kata ”Domus Pacis” yang berarti ”Rumah Kedamaian”. Suasana kebersamaan tidak saja berlangsung di ruang makan, tetapi juga saat petang mengikuti Ekaristi di ruang doa.

Wisma DP dikelola para staf Keuskupan Agung Semarang (KAS) sebagai tempat pemulihan kesehatan bagi para imam Diosesan KAS yang sedang sakit. Di tempat ini, juga tinggal para pastor sepuh yang memasuki masa pensiun. Wisma DP terletak di depan Gereja Yohanes Rasul Pringwulung, Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, DI Yogyakarta.

Bila dilihat dari depan, Wisma DP tampak sunyi. Namun, begitu memasuki ruangan tampak aktivitas para penghuninya. Ada pastor yang tengah berdoa di kamarnya, ada yang tengah membaca, mengisi Teka-Teki Silang (TTS), dan lainnya. Sejumlah karyawan pun terlihat sibuk mengerjakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing.

Pastor Minister DP, Augustinus Toto Supriyanto menjelaskan, wisma ini diresmikan Mgr Ignatius Suharyo pada 2001. DP dibangun di atas tanah seluas 4.840 meter persegi. Kawasan ini terdiri dari dua unit bangunan. Bangunan utama terdiri dari sepuluh kamar, ruang doa, dapur, ruang cuci, kamar tamu yang sekarang beralih fungsi menjadi tempat parkir motor tamu, ruang makan, dan ruang pertemuan.

”Ruang doa dan ruang cuci yang sekarang ada, semula adalah kamar tidur. Sedangkan satu unit bangunan lain digunakan untuk Kantor Seksi Komunikasi Sosial (Komsos) KAS,” jelas Romo Toto.

Pastor yang juga menjabat sebagai Kepala Paroki Pringwulung ini selanjutnya menerangkan, tempat ini dihuni tujuh imam Diosesan. Mereka adalah Pastor J. Suyadi, Pastor Y. Harjaya, Pastor D. Bambang Sutrisno, Pastor F.X. Suharto Widodo, Pastor P. Noegroho Agung SW, Pastor Joko Sistiyanto, dan Pastor A. Tri Wahyono.

Romo Yadi dan Romo Harjaya berstatus sebagai pensiunan dan tengah dalam masa pemulihan kesehatan. Sedangkan Romo Suharto dan Romo Tri menjalani pemulihan kesehatan. Sementara Romo Agung dan Romo Joko bekerja sebagai Ketua dan Staf Harian Komsos KAS. Keduanya sekaligus bertugas mendampingi romo-romo sepuh (tua).

Romo Bambang diserahi tugas khusus sebagai misioner kemasyarakatan. ”Wisma ini dikelola tiga romo. Saya sebagai minister, dibantu Romo Agung dan Romo Gito Wiratmo dari Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan,” terang Romo Toto.

Pembenahan
Salah satu imam, yaitu Romo Yadi mengatakan bahwa sebelum pensiun, ia berkarya di Paroki Santa Perawan Maria Regina Purbowardayan, Solo, Jawa Tengah. Sejak 2004, ia sudah mulai masuk keluar wisma DP. ”Itu karena saya sering memeriksakan kesehatan di RS Panti Rapih Yogyakarta,” tuturnya.

Pastor yang sudah mengenakan kursi roda ini merasakan, dulu pelayanan yang didapatkan belum sebaik sekarang. Banyak hal perlu dibenahi. ”Waktu permulaan masuk, saya merasa seperti dipenjara,” kenangnya sedih.

Maka, secara bertahap, bersama sejumlah pastor penghuni DP lainnya, Romo Yadi berupaya ”merombak” pola pelayanan di tempat itu. ”Dulu, ada romo sepuh yang tinggal di sini, menulis surat keluhan ke keuskupan untuk minta kembali pulang ke Seminari Kentungan,” tuturnya.

Romo Bambang mengakui, kamar-kamar yang disediakan untuk romo-romo sepuh ini bagus, tak beda dengan kamar pasien kelas utama RS Panti Rapih. ”Tapi, dulu kualitas hidangan yang disuguhkan kepada kami sangat rendah. Makanannya tidak enak,” ungkapnya.

Romo yang lama berkarya di Museum Misi Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, ini mengatakan, dulu karyawan yang direkrut dan ditempatkan di wisma ini hanya atas dasar karitatif alias belas kasihan saja. Padahal mereka tidak bisa kerja.

Kini, setelah terjadi perombakan karyawan, suasana di Wisma DP menjadi menyenangkan. Hubungan antara romo dengan para karyawan pun terjalin baik. Para karyawan yang berjumlah empat orang diberi kesempatan libur beberapa hari saat hari-hari besar.

Banyak program dijalankan bersama oleh komunitas romo yang tinggal di wisma ini, seperti mengunjungi romo-romo muda di paroki-paroki termasuk berkunjung ke umat sekitar paroki setempat. Dan, para romo sepuh ini pun merasa bahagia karena di wisma sering dikunjungi rombongan umat.

”Kini, di wisma ini segala sesuatunya mulai tertata dan makin menyenangkan. Kalau dulu makin tua merasa kian merana, sekarang makin tua tinggal di sini semakin gembira,” ucap Romo Yadi. Baik Romo Yadi maupun Romo Bambang berharap dirinya masih diperlukan umat untuk membantu pelayanan pastoral.

”Walau kaki saya semper (lumpuh), saya tetap bersyukur. Sebab, kalau saya tolak apa yang tidak saya suka ini, nanti malah stres berat. Kalau kaki saya semper, kebetulan, malah seperti priyayi. Tidak pethakilan (berulah, Red.) seperti masa muda dulu,” seloroh Romo Yadi sembari tertawa. Saat ini, ia sedang menjalani terapi pijat karena saraf bagian tulang belakang terjepit.

Lain lagi dengan Romo Tri yang masuk Wisma DP belum genap tiga bulan karena stroke. Selama tinggal di sini, ia bisa istirahat penuh. ”Tahun 2006, selama delapan bulan saya pernah tinggal di sini karena stroke pertama. Sejak Agustus, saya kembali lagi ke wisma ini karena serangan stroke kedua,” tuturnya. Romo yang terakhir bertugas di Paroki St Alfonsus Ligouri Nandan, Yogyakarta, ini mengalami kelumpuhan pada anggota badan dan kehilangan sebagian ingatannya.

Pastor Toto yang bertanggung jawab menangani para romo sepuh di Wisma DP bertekad untuk mengupayakan suasana yang lebih nyaman di komunitas DP. ”Diharapkan, mereka kerasan dan tetap ’happy’ di usia senja dalam mengembangkan dan menghidupi persaudaraan imami,” tukasnya.

H. Bambang S.




Kunjungan: 1022
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com