Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


TMW Ibu-Ku Giri Wening: Menjadi Berkat dan Terberkati - Hidup Katolik

TMW Ibu-Ku Giri Wening: Menjadi Berkat dan Terberkati

Kamis, 20 Desember 2012 14:57 WIB
TMW Ibu-Ku Giri Wening: Menjadi Berkat dan Terberkati
[Hieronymus Budi Santoso]
Gotong royong: Masyarakat Desa Sengon Kerep bahu-membahu memecah batu untuk memperindah taman doa

HIDUPKATOLIK.com - Suatu ketika, Yohanes Suroyo, seorang Katolik warga Giri Wening, Desa Sengon Kerep, Klaten, Jawa Tengah, melihat sinar putih kebiru-biruan yang jatuh di belakang rumahnya. Ia penasaran.

Tiap tengah malam, Suroyo bangun dan berdoa. Berbulan-bulan setelah doanya tak kunjung mendapat jawaban atas makna sinar yang dilihatnya, ia dikejutkan dengan sosok bayangan putih bersinar. Bayangan ini menitipkan pesan padanya dengan berkata, ”Berilah patung di tempat ini, supaya dengan perantaraan ibu-Ku nama-Ku dikenal.”

Suroyo pun berbicara dengan teman-temannya sesama Katolik. Muncul ide untuk membuat Gua Maria di belakang rumahnya. Salah seorang temannya, Petrus Cipto Nugroho mengusulkan untuk membuat Gua Maria kecil sebagai usaha merintis Gua Maria yang sebenarnya.

Berangkat dari obrolan kecil inilah, warga Katolik di desa yang termasuk dalam wilayah Paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi, Klaten, ini mulai bergerak bersama-sama membangun sebuah Gua Maria. Mereka dibantu Pastor Y.R. Susanto SCJ dan Pastor Gerardus Zwaard SCJ.

Tanah tempat Gua Maria adalah tanah milik keluarga Gito Suwarno. Tanah seluas 2.088 m2 ini dihibahkan kepada Gereja Wedi untuk tempat ziarah. Sebelum dihibahkan, tempat ini merupakan ladang tadah hujan. Di musim kemarau, ladang ini menjadi ladang tidur dan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan warga. Bila musim hujan datang, tumbuh rerumputan yang subur, sehingga warga sekitar menggunakannya sebagai tempat menggembalakan kambing.

Merintis Gua Maria
Saat proses perintisan gua, ada salah satu warga yang tergerak hatinya dengan menyumbangkan patung Maria berukuran 40 cm. Patung ini diberkati Pastor Paroki Wedi, Yanuar Ismadi. Setelah usaha perintisan dimulai, banyak hal terus dibenahi untuk membuat tempat ziarah ini menjadi tempat doa yang lebih baik. Patung Bunda Maria yang pertama diganti patung baru berupa ukiran batu setinggi dua meter dengan berat satu ton.

Patung ini menggambarkan Bunda Maria sedang menggendong putranya. Patung ini dibuat seorang perajin muslim di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Bersama masyarakat yang tidak semuanya beragama Katolik, warga bergotong-royong mengganti patung. Mereka menurunkan patung dari truk dan menggotongnya sampai ke lokasi gua.

Setelah mengangkat patung, mereka membagi tugas. Para lelaki memecah batu dan para perempuan menggendong batu. Batu-batu dibawa ke atas untuk penataan lokasi hingga tampak indah.

Patung Bunda Maria yang ditahtakan di tempat itu adalah patung Bunda Maria yang membopong putra-Nya. Patung itu dipilih karena terinspirasi dari jawaban doa Yohanes Suroyo. Pesan dalam doa itu diterjemahkan dalam bentuk patung Bunda Maria dan Bayi Yesus. Warga memaknai Bunda Maria dan Yesus adalah dua sosok yang bersatu erat dan tak terpisahkan. Pada patung itu, Bunda Maria menunjuk Hati Kudus Putra-Nya pada tiap orang.

Pada 9 Juli 2010, setelah patung diangkat dan ditahtakan pada tempatnya, diadakan doa bersama seluruh umat yang hadir. Pada kesempatan itu, patung Bunda Maria diberkati oleh Pastor Agustinus Riyanto SCJ. Saat itulah, Gua Maria ini diberi nama Taman Maria Giri Wening. Kata ”Giri Wening” berarti Gunung Keheningan.

”Tempat ini akan menjadi berkat dan terberkati kalau umat di sini setiap hari menggunakan tempat ini untuk berdoa,” pesan Pastor Agustinus Riyanto SCJ. Lebih lanjut ia mengungkapkan, tempat ini hendaknya ditata dengan prinsip selalu menyatu dengan alam dan memelihara apa yang ada di sekitarnya. Termasuk, tidak menebang pohon yang ada. Tuhan melalui Bunda Maria akan memberikan yang terbaik bagi umat-Nya dan dengan kuasa-Nya mampu mengubah penderitaan menjadi berkat bagi banyak orang.

Selain patung Bunda Maria, puncak golgota pada stasi jalan salib di tempat ini dibuat berbeda dengan yang lain. Salib di Golgota hanyalah salib, tanpa corpus (tubuh) Yesus. Di Giri Wening, para peziarah hendak diajak merenungkan Yesus yang bangkit. Karena itu, di tempat ini terdapat patung kebangkitan. Di tempat ini, letak puncak Golgota, taman, dan kubur dibuat sangat berdekatan.

Selain itu, juga didirikan pendopo yang dipakai untuk istirahat bagi para peziarah. Kadangkala, juga dipakai untuk perayaan Ekaristi untuk sekelompok kecil umat. Beberapa uskup pernah berziarah di tempat ini. Di antaranya, Uskup Agung Semarang Johannes Pujasumarta dan Uskup Weetebula Mgr Edmund Woga CSsR. Mgr Puja saat berkunjung di tempat ini berkata, ”Memang benar, tempat ini sesuai dengan namanya, Giri Wening. Di sinilah saya menemukan keheningan.”

Keheningan tempat ini terasa karena letaknya yang jauh dari kebisingan. Taman Maria Wahyu Ibu-Ku dapat dicapai dari beberapa arah. Para peziarah dari Jakarta atau Bandung dapat menuju tempat ini dengan mengambil arah perjalanan menuju Yogyakarta. Kemudian, dilanjutkan ke arah Klaten. Sesampainya di pertigaan Bendo Gantungan, belok ke kanan. Sementara itu, sebaliknya, bila ada peziarah yang datang dari Surabaya atau Malang, bisa mengambil arah perjalanan menuju Solo. Setelah itu dilanjutkan ke arah Klaten. Nanti, akan sampai di pertigaan Bendo Gantungan kemudian belok ke kiri.

Perjalanan dilanjutkan menuju ke arah Pasar Wedi. Setelah itu, peziarah akan menemukan perempatan Desa Gunungan. Dari perempatan itu, peziarah mengambil jalan lurus ke arah selatan hingga menemukan Desa Sampang. Desa ini bersebelahan dengan Desa Sengon Kerep tempat taman doa ini berada.

Hieronymus Budi Santoso




Kunjungan: 362
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com