Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Ziarah Kristiani di Dunia yang Terkoyak - Hidup Katolik

Ziarah Kristiani di Dunia yang Terkoyak

Minggu, 30 Desember 2012 10:50 WIB
Ziarah Kristiani di Dunia yang Terkoyak
[bp.blogspot.com]
Ziarah: Tanah Suci, tempat ziarah paling kuno

HIDUPKATOLIK.com - “Saya datang sebagai peziarah perdamaian. Kebiasaan ziarah merupakan bagian amat penting bagi banyak agama, termasuk Islam, Yahudi, dan Kristiani.”

"Peziarahan juga me­rupakan gambaran dari kehidupan kita yang bergerak menuju Allah dan dengan demikian juga menuju persekutuan dengan semua manusia.” De­mikian Paus Benediktus XVI ketika berkunjung ke Tanah Suci, tahun 2009. Se­bagai peziarah, Paus menegaskan se­tidaknya dua dimensi terpenting dari tradisi ziarah itu sendiri.

Pertama, kebiasaan ziarah sudah berumur amat panjang, tetapi ke­biasaan ini selalu diperbarui sesuai de­ngan keadaan zaman. Paus sendiri mengadakan ziarah bukan sebagai bentuk kesalehan pribadi, melainkan se­bagai upaya baru demi perdamaian umat manusia, mengingat konflik yang me­landa Tanah Suci selama beberapa de­kade terakhir.

Kedua,
dalam kerangka inilah Paus memahami ziarah sebagai upaya mendekati Tuhan dan juga mende­katkan seluruh umat manusia sebagai ciptaan-Nya. Lebih lanjut, tradisi ziarah mengingatkan manusia akan hakikat hidup sendiri sebagai perjalanan menuju ke­penuhan dalam Tuhan (1 Petrus 1:1;
2:11; Ibr 11:13). Singkatnya, ada dimensi personal, komunal, dan eskatologis dalam tradisi ziarah.

Popularitas ziarah
Mengingat kekayaan tradisi seperti ini, dapat dimengerti, ziarah menjadi kebiasaan yang makin populer. Bahkan di Eropa yang sekuler, tiap tahun ada
sekitar 60 sampai 70 juta peziarah yang berkunjung ke sekitar enam ribu tempat ziarah yang tersebar di benua ini.

Bagi orang Katolik, dua gugus tempat ziarah utama dan paling kuno tentu saja Tanah Suci dan Roma. Status istimewa dari dua tempat ini terlihat ke­tika Perayaan Jubileum tahun 2000 dipusatkan di kedua tempat ini.

Meski ada beberapa tempat yang istimewa karena sejarah dan perannya dalam tradisi Kristiani, kebiasaan ziarah bersifat selalu meluas seiring dengan
pertumbuhan komunitas Kristiani itu sendiri. Maka, banyak tempat ziarah baru
bermunculan di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Utara.

Dalam lingkungan Gereja Katolik, antusiasme untuk berziarah bertambah be­sar sejak akhir abad ke-19 sampai se­karang, termasuk ke situs-situs baru se­perti Lourdes, Fatima, Medjugorje, Knock (Irlandia), dan La Salette. Walaupun Gereja-gereja Protestan biasanya bersikap kritis terhadap praktik ziarah, tetapi ribuan peziarah dari Ge­reja-gereja Kristen juga berbondongbondong berziarah ke Tanah Suci.

Tujuan ziarah bukan hanya untuk memperdalam pengetahuan Kitab Suci, melainkan untuk mendapatkan pengalaman spiritual tertentu. Menurut data, ada empat juta peziarah yang berkunjung ke Israel setiap tahun.

Mengenai alasan orang Protestan berkunjung ke Tanah Suci, N.T. Wright,
se­orang ahli Kitab Suci dan uskup dari Ge­reja Anglikan berkomentar: “Di tempat-tempat Tuhan mewahyukan diri dan manusia berjumpa dengan-Nya,
pengingatan dan bekas-bekas seluruh peristiwa ini tetap tinggal dan bisa dikenali dan dicecapi oleh mereka yang mempunyai relasi dengan Tuhan.” (bdk
The Way of the Lord).

N.T. Wright kemudian berkisah tentang pengalaman pribadinya di Basilika Holy Sepulchre (yang dibangun di atas Kalvari) pada Jumat Agung 1989. Waktu itu Basilika ini penuh sesak dengan pe­ziarah, maka ia mencari tempat yang agak sepi di pojok basilika ini.

Tiba-tiba, dia dicekam oleh ke­sadaran mendalam bahwa seluruh beban penderitaan dunia terkumpulkan di tempat itu, tempat Yesus wafat. Ia juga tersadar akan segala penderitaan dan perjuangan hidupnya sendiri. Yang istimewa adalah bahwa dia juga merasa tersembuhkan di situ, justru karena pengalaman ini muncul di tempat Yesus wafat.

Singkatnya, ia merasakan kehadiran Ye­sus dalam intensitas yang tak dia sangka-sangka di sebuah tempat suci, dan pada saat itulah ia sadar telah menjadi seorang peziarah. Dalam dunia yang makin beragam, kebiasaan ziarah
ternyata sekarang juga menarik banyak orang dari lingkungan yang amat berbeda.

Santiago de Compostela, sebuah tempat ziarah kuno Santo Yakobus di Spanyol Utara menjadi makin populer akhir-akhir ini dengan jumlah peziarah
se­kitar 100 ribu per tahun. Angka ini me­nakjubkan, mengingat sekularisme
yang telah melanda Eropa. Ribuan peziarah religius dan “sekuler” tertarik pada
Santiago antara lain karena keunikan tempat ini.

Mereka mengalami pengalaman spiritual cukup mendalam selama jalan kaki atau naik sepeda ribuan kilometer di sepanjang jalan menuju Santiago. Hape Kerkeling, seorang pe­lawak ternama dari Jerman, memutuskan berjalan kaki ke Santiago karena dilanda keletihan dan krisis hidup. Di jalan ke Santiago inilah dia me­nemukan makna hidup itu sendiri dalam sebuah proses yang akhirnya juga mengantarnya kepada pengalaman spiritual akan Tuhan (bdk Kerkeling, I’m Off Then, 2006).

Popularitas ziarah ke Santiago juga digambarkan oleh sebuah film Hollywood
terbaru, The Way (2012). Film ini berkisah tentang perjalanan ziarah se­orang bapak yang diperankan oleh Martin Sheen. Ia pergi ke Santiago de Compostella untuk meneruskan perjalanan ziarah anaknya, yang dipe­rankan oleh Emilio Estevez, anak Martin Sheen sendiri.

Alkisah, anak ini mati di tengah perjalanan ziarah ke Santiago ini. Perjalanan ini unik karena mempersatukan ayah dan anak dalam perjalanan spiritual yang tak direncanakan. Film ini memberi ilustrasi bagaimana orang zaman sekarang, sekalipun se­kuler, tetap merindukan spiritualitas yang bisa dibantu oleh tradisi ziarah.

Teologi ziarah
Meski tradisi ziarah sekarang menjadi amat populer di lingkungan Kristiani, namun lahirnya tradisi ini tidaklah mulus. Ada perdebatan di sana. Tentu saja Kitab Suci berkisah tentang partisipasi Yesus dalam praktik ziarah Yahudi ke Bait Allah di Yerusalem.

Namun, Yesus sendiri akhirnya memahami diri sebagai Bait Allah yang baru. Juga, dalam percakapannya de­ngan perempuan Samaria, Yesus mengatakan
bahwa akan tiba saatnya ketika Allah disembah bukan di Gunung Ge­rizim (yang disucikan oleh orang Samaria) atau di Yerusalem, melainkan disembah
dalam roh dan kebenaran” (Yoh 4: 21-24).

Makna Kota Yerusalem sendiri juga menjadi nisbi karena jemaat Kristen lebih merindukan datangnya “Ye­rusalem baru” sebagai momen eskatologis. Karena alasan-alasan inilah, pada abad-abad pertama muncul perdebatan tentang boleh tidaknya berziarah ke tempat suci di Yerusalem dan Palestina.

Akhirnya, Gereja tidak hanya me­nerima tetapi mengembangkan tradisi ziarah ini dengan sepenuh hati. Terutama sejak zaman Kaisar Constantinus (abad empat) dan ibunya, Santa Helena, kawasan Yerusalem dibangun sebagai tempat ziarah utama de­ngan gereja-gereja yang megah.

Kata-kata Yesus dalam Injil Yohanes di atas juga membuat Gereja sadar bahwa ziarah akhirnya harus dipahami bukan hanya sebagai kunjungan ke tempat suci. Ziarah merupakan bagian dari perjalanan kemuridan Kristiani yang lebih luas, yakni hidup mengikuti Yesus yang ber­tumbuh kembang.

Mengapa perjalanan kemuridan bisa dibantu oleh ziarah ke tempat suci tertentu? Antara lain karena, menurut paham teologi Katolik, perjumpaan spiritual dengan misteri Allah itu selalu ter­jadi dengan bantuan kenyataan material, inderawi, dan manusiawi yang amat konkret. Bukankah keselamatan
Kristiani berhubungan dengan per­istiwa-peristiwa sejarah yang konkret?

Tradisi ziarah sejatinya mengungkapkan prinsip sakramentalitas dalam teologi
Katolik, yakni menghormati misteri Allah yang hadir menjumpai manusia melalui banyak realitas dengan banyak cara. Dalam dinamika inilah, tempat-
tempat ziarah menjadi wahana per­jumpaan manusia dengan Allah.

Benarlah bahwa Allah harus disembah dalam “kebenaran dan roh” dan
kehadiran-Nya tak bisa dipatok pada tempat tertentu. Gereja juga menolak
pandangan dualistik bahwa yang rohani itu tidak boleh diperantarai oleh yang
material.

Seperti dikatakan N.T. Wright di atas, ada tempat-tempat yang memang
istimewa, yang telah disentuh oleh kehadiran Allah dalam cara yang
amat unik. Antara lain lewat per­istiwa khusus atau orang suci yang terhubungkan dengan tempat itu. Karena itulah, tempat-tempat ini juga punya peran istimewa dalam membawa orang pada per­jumpaan rohani dengan Allah.

Dalam logika sakramentalitas ini, aspek komuniter dari perkembangan tradisi
ziarah dalam Gereja Katolik juga menjadi penting. Maka, jauh sebelum Yerusalem dibangun sebagai tempat ziarah utama, tradisi ziarah lokal ke makam para martir dari komunitas Kristiani tertentu sudah muncul. Misalnya, ziarah ke makam Santo Polikarpus di Smyrna pada abad kedua.

Hal ini dapat dipahami justru karena iman Kristiani berkarakter komuniter, bukan individualistik. Artinya, Tuhan bekerja juga dalam komunitas atau
per­sekutuan umat beriman secara bersama-sama, bukan hanya dalam diri
individu orang beriman yang terpisah, seperti diceritakan dalam Kisah Para
Rasul.

Apa yang terjadi dalam dinamika komunitas ini, termasuk kemartiran atau kekudusan anggota-anggotanya adalah sentuhan rahmat Tuhan yang konkret
dan boleh dirayakan atau dijadikan sarana pengenangan dan perjumpaan
dengan Tuhan bagi seluruh komunitas.

Gereja memang tidak pernah mewajibkan praktik ziarah, tetapi kebiasaan ini bisa membantu hidup Kristiani kalau dihubungkan dengan nilai-nilai di atas. Bukankah banyak peziarah mengalami pertumbuhan rohani dan iman yang cukup mendalam, antara lain karena dimensi eskatologis dari pengalaman ziarah.

Artinya, lewat pengalaman rohani selama ziarah, kita mencicipi kebahagiaan
kekal. Karena itulah, kita tidak menganggap kesucian tempat tertentu atau mukjizat di tempat tertentu sebagai sesuatu yang absolut, tetapi seyogianya mengarahkan kita pada tujuan akhir hidup kita pada Tuhan.

Dalam hal ini, aspek turisme pasti dapat dipahami sebagai kebutuhan manusiawi untuk penyegaran dari rutinitas hidup sehari-hari, tetapi komersialisasi dan konsumerisme yang berlebihan tentu saja berlawanan dengan semangat ziarah spiritual ini.

Ziarah untuk perdamaian
Kembali ke inspirasi Paus Benediktus, praktik ziarah Kristiani pada zaman ini, ter­utama ke Tanah Suci, tidak boleh dilepaskan dari usaha perdamaian dan dialog, justru karena konflik dan kekerasan yang makin membara di kawasan
ini, seperti yang kita saksikan hari-hari ini di Gaza, Suriah, dan Mesir.
Pesan yang sama diserukan di lingkungan Asia oleh Kongres Asia mengenai ziarah (2007).

Kongres ini mengajak umat Katolik Asia untuk menggunakan tempat ziarah sebagai tempat dialog, mengingat banyak orang non-Kristiani juga mengunjungi
tempat-tempat ziarah Katolik ini. Dalam konteks ziarah lintas iman seperti ini, seharusnya kita lebih merasakan kesatuan sebagai umat Allah yang sedang berziarah bersama menuju Tuhan.

Ada cukup banyak tempat ziarah di Asia dan Indonesia yang memiliki karakteristik ini, misalnya Velankanni di India (yang juga ada di Medan), Ganjuran dan Sendangsono di Yogyakarta. Sehubungan dengan hal ini, Uskup
Filipina ini juga mempertanyakan mengapa ziarah orang Kristiani Asia lebih berorientasi ke Eropa dan Tanah Suci, padahal perjalanan seperti ini berbiaya
tinggi? Mungkin sudah saatnya Gereja kita memberi perhatian akan pentingnya
tradisi ziarah lokal bagi dialog, tempat Gereja membuka diri dan menyapa semua orang.

A. Bagus Laksana SJ




Kunjungan: 1360
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com