Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Kaul Kekal? - Hidup Katolik

Kaul Kekal?

Minggu, 26 Juli 2009 15:41 WIB
Kaul Kekal?
[ofm.or.id]

HIDUPKATOLIK.com - Ada fenomen pesta kaul kekal (termasuk tahbisan imamat yang implisit kekal), tidak lagi menemukan makna terdalamnya. Kaul kekal dirayakan sebagai upacara biasa-biasa saja, rutin, tahunan, dengan kehilangan makna kekekalannya. Orang hanya berdoa semoga kekal kaulnya karena fakta menunjukkan, tidak sedikit yang mengucapkan kaul kekal malah tidak kekal menjalani hidupnya.

Karena cemas akan tidak kekalnya kaul/imamat, beberapa awam tidak mau diberkati pastor muda! Mereka sangat mengharapkan agar pernikahan mereka abadi (seperti foto abadi pernikahan) dan diberkati mereka yang abadi juga dalam janji/kaulnya.

Maka, ada usul agar upacara kaul kekal dilakukan secara tertutup dan sederhana. Pesta besar akan dilaksanakan kalau pengaul sudah merayakan kaulnya yang ke-40 atau ke-50 tahun. Artinya, tampaknya ada jaminan yang sungguh kekal.

Usul lain, agar lebih baik mengucapkan kaul sementara saja. Tidak perlu kaul kekal karena sadar dan tahu diri sebagai makhluk yang terbuat dari “tanah liat” (gampang rapuh).

Kaul adalah janji yang dibuat kepada Allah untuk suatu kebaikan. Dasarnya adalah janji. Janji adalah sebuah pernyataan harapan kini untuk sesuatu yang baik, yang akan dipenuhi di masa depan. Ada optimisme di sini dan sekarang, hic et nunc, untuk masa depan. Bahwa nanti tidak terpenuhi, itu menjadi masalah lain. Tetapi sekarang, ada optimisme dan keyakinan untuk menepatinya.

Tingkat kepastian akan terpenuhinya harapan itu makin besar dengan membuat janji karena mengandaikan keseriusan pribadi untuk menepatinya di masa depan. Setelah mempertimbangkan kemampuannya, orang membuat janji sebagai sebuah jaminan. Tanpa keyakinan akan kesanggupannya, janji menjadi cacat secara moral. Pembuat janji yakin, bahwa ia bisa menepati janjinya dan si penerima janji pun percaya bahwa hal itu akan dilaksanakan. Faktor saling percaya menjadi jaminan.

Janji memuat kewajiban moral. Si pembuat janji terikat secara moral untuk melaksanakannya. Jika ia tidak melaksanakannya, ia melanggar keadilan khusus bagi si penerima janji. Si penerima janji dikecewakan karena tidak mendapatkan haknya. Untuk itu, keutamaan ketaatan dan kesetiaan terhadap janji perlu dikembangkan.

Dalam konteks Kristiani, janji yang diucapkan kepada Allah untuk membaktikan diri kepada-Nya melalui Gereja dan komunitas tarekat tertentu, disebut kaul. Dalam hal ini, kaul adalah suatu bentuk pernyataan dan pengakuan iman (credo) kepada Allah bahwa Allah setia menemani dalam usaha pengaul untuk melaksanakan niat-niat suci (antara lain ketaatan, kemiskinan, dan kemurnian). Kaul adalah sebuah doa dan berkat. Pengkaul berdoa semoga niat-niat sucinya didengarkan Tuhan dan ia memperoleh berkat berlimpah untuk menjalankan niat-niatnya.

Kaul dilaksanakan secara bebas, tanpa paksaan. Pengkaul secara sadar dan rela hati, dengan segala pertimbangan matang, mengucapkan janji entah secara privat atau secara publik di hadapan seorang pemimpin (Gereja) yang berwenang. Ia sadar akan konsekuensi moral, legal, dan religius yang akan dipikulnya jika ia melanggarnya. Tetapi, ia secara bebas, berani melakukannya.

Sikap berani mengandaikan adanya sikap rendah hati. Ia tidak menggantungkan kesanggupannya pada kemampuan pribadinya saja, tetapi lebih-lebih pada kasih setia Tuhan yang menemaninya.

Ia mau mengucapkan kaul untuk memperkuat kehendak, memantapkan niat secara lebih stabil dari kecenderungan fluktuasi hati. Masa depan diraih dengan kemantapan iman dan kepercayaan diri. Bahwa nanti ada kemungkinan untuk tidak menepatinya adalah soal lain lagi. Tetapi, harus ada usaha yang tekun dan serius dari hari ke hari untuk menghidupkan dan mengamalkannya dalam kurun waktu tertentu (kaul sementara).

Jika demikian, masih perlukah kaul kekal? Persoalan kaul kekal adalah persoalan kecakapan dan kepastian. Setelah mengukur kemampuannya dari pengalaman berkaul sementara setiap tahun, akhirnya pengkaul dengan kepastian penuh memberikan keputusan final bahwa ia mau dan taat kepada kaul yang akan diucapkannya untuk seumur hidupnya.

Ketidakpercayaan diri dan keragu-raguan yang berkepanjangan (bertahun-tahun) menandakan kekurangmatangan kepribadian dan tidak mendatangkan kebahagiaan. Bahwa ada keragu-raguan tertentu merupakan hal yang manusiawi, namun jika berkepanjangan, terus-menerus dari tahun ke tahun, tidak akan memberikan buah yang maksimal dan makin melemahkan kehendak dan semangat! Jadi, keragu-raguan pun ada batasnya. Gereja memberikan batas waktu kaul sementara selama sembilan tahun. Sesudah itu, “Jika ya, katakan ya, jika tidak, katakan tidak, selebihnya berasal dari si jahat.” Kebahagiaan akan muncul kalau sudah ada penegasan rohani dalam diri untuk berbuat sesuatu.

Pesta yang dirayakan untuk kaul kekal adalah pesta Gereja untuk bersyukur atas kekalnya kasih setia Allah yang membutuhkan jawaban kasih setia manusia yang kekal juga. Gereja bukan hanya bersyukur kepada Allah, tetapi juga berterima kasih kepada para pengkaul atas kerelaan mereka untuk membaktikan diri. Karena itu, semua anggota Gereja mempunyai tanggung jawab untuk berdoa dan menolong mereka memantapkan niat suci mereka.

Yoseph S. Balela Pr
Dosen di Seminari Tinggi St Petrus Pematangsiantar




Kunjungan: 1304
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com