Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


SMA Pangudi Luhur van Lith: Punya Standar Tertentu - Hidup Katolik

SMA Pangudi Luhur van Lith: Punya Standar Tertentu

Minggu, 26 Juli 2009 09:06 WIB
SMA Pangudi Luhur van Lith: Punya Standar Tertentu
[Dok SMA van Lith]
Mengurus sendiri: Siswa SMA van Lith sedang membersihkan WC

HIDUPKATOLIK.com - Meski masih libur panjang, sekitar 50 siswa SMA Pangudi Luhur van Lith Muntilan tetap melakukan aktivitas di sekolah.

Mereka adalah sebagian siswa yang baru saja naik kelas XI dan XII. Mereka harus menyiapkan segala sesuatu demi lancarnya pelaksanaan masa orientasi asrama sekolah (oase).

SMA Pangudi Luhur van Lith dibangun di atas tanah seluas 6.114 meter persegi, di Jl Kartini No 1 Muntilan. Letaknya berseberangan dengan makam Romo Sanjoyo, tempat ziarah umat Katolik. Kota Muntilan termasuk wilayah Kabupaten Magelang, sekitar 25 km arah utara Kota Yogyakarta. Udaranya masih terasa sejuk.

Sekolah sekaligus asrama ini didirikan Pastor Fransiskus Gregorius Yosephus Van Lith SJ pada 1904, untuk mendidik calon guru SD. Pada 1952, pengelolaan sekolah tersebut diserahkan kepada Kongregasi Bruder FIC. Dalam perkembangannya, sekolah itu menjadi SGB, kemudian SMP, dan SGA Xaverius. Pada 1966, SGA Xaverius berganti nama menjadi SPG Van Lith.

Pada 1991, pemerintah menutup SPG. SPG van Lith pun beralih fungsi menjadi SMA Pangudi Luhur van Lith. Siswanya wajib tinggal di asrama. Belakangan, SMA van Lith hanya menerima siswa beragama Katolik.

Tahun ajaran baru l999/2010, SMA van Lith menerima l54 siswa dari 500 yang mendaftar. Mereka terdiri dari 94 putra dan 60 putri. Selama lima hari, mulai Selasa, 7/7, para siswa baru mengikuti masa oase, sebelum resmi masuk asrama sekolah.

Seminari awam
Rektor/Kepala SMA van Lith, Br Albertus Suwarto FIC menyebutkan, siswa SMA van Lith saat ini berjumlah 480 siswa, terdiri dari 300 putra dan l80 putri.

Asrama putra sekaligus sekolah diasuh para bruder FIC, sedangkan asrama putri-sekitar 300 meter dari sekolah - diasuh Suster-Suster Carolus Borromeus (CB). Bruder Suwarto menyebut SMA van Lith bisa diibaratkan sebagai seminari awam. Lulusannya diharapkan punya karakter. “Kalau calon imam bisa dididik secara khusus, kenapa awam tidak? Hidup menggereja ‘kan tidak bisa terlepas dari awam,” katanya.

Sehari-hari, siswa harus bangun pukul 04.30 WIB, langsung mandi. Sebelum masuk sekolah, mereka wajib mengikuti Ekaristi atau belajar secara pribadi. Pulang sekolah pukul l3.30 WIB, kemudian istirahat sekitar satu jam, mereka berangkat lagi ke sekolah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sampai jam 5 sore. Kembali ke asrama, siswa langsung menyiapkan diri belajar malam. Selambatnya pukul 23.00 WIB, mereka sudah harus tidur.

Memang ada siswa SMA yang tidak naik kelas. Tapi, “Ada yang naik kelas terpaksa saya keluarkan. Ini sekolah seminari awam, jadi punya standar-standar tertentu. Kalau perilaku siswa kurang baik, ya... mereka saya keluarkan. Walaupun secara akademis nilainya bagus,” tuturnya.

Menurut pengamatan Sr Carina, siswa baru yang terbiasa mengikuti les, akan mudah frustrasi ketika masuk SMA van Lith. Di asrama, dia tidak bisa lagi bergantung pada orang lain. Bruder Suwarto menambahkan, mereka yang masuk SMA van Lith karena keinginan orangtuanya, biasanya gagal di tengah jalan. “Saat tes wawancara saja, kalau calon siswa mengaku masuk van Lith hanya karena disuruh orangtua, pasti akan langsung saya coret,” ucapnya.

Sekolah ini memiliki semboyan “Memardi Kartika Bangsa”. Artinya, dengan ketulusan membentuk dan mengembangkan diri menjadi tunas-tunas bangsa yang tangguh. Mengenai biaya, Bruder Suwarto menjelaskan, “Prinsipnya, tidak ada orangtua yang tidak bisa menyekolahkan anaknya di SMA van Lith.” Tetapi, dia sendiri mengaku heran, kenapa anak-anak orang berpunya tertarik masuk SMA van Lith. Padahal, di asrama, mereka harus bisa mengurus kepentingannya sendiri, seperti mencuci pakaian, menyetrika, membersihkan kamar tidur, menguras bak mandi, termasuk mengosek WC.

Dari pengakuan para orangtua siswa, tutur Br Suwarto, mereka tega melepaskan anaknya masuk asrama, karena kegiatan kepribadian di sekolah ini dinilai mampu membekali kepribadian anak didik. “Ini karena, kami memiliki kurikulum pengembangan diri yang tidak dimiliki SMA lain,” terangnya.

Markus Ivan




Kunjungan: 3006
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com