Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Ekonomi Kerakyatan - Hidup Katolik

Ekonomi Kerakyatan

Minggu, 16 Agustus 2009 15:58 WIB
Ekonomi Kerakyatan

HIDUPKATOLIK.com - Memperbincangkan ekonomi kerakyatan memang menarik. Semenarik menghujat neoliberalisme atau neokapitalisme. Namun, ketika mempraktikkan ekonomi kerakyatan sebagai ’ideologi’ ekonomi negara, akhirnya hanya berhenti sebatas wacana dan menguap hilang seiring dengan senyapnya gegap gempita pemilu. Meski begitu, tujuan mulia dari ekonomi kerakyatan tetap harus dijaga cahayanya, karena memiliki tujuan mulia.

Memahami hakikat ekonomi kerakyatan menjadi tak terbantahkan jika ingin mempraktikkannya. Hal pertama yang harus dipahami adalah ekonomi kerakyatan tidak sebatas pada koperasi, UKM, dan sektor ekonomi ’ecek- ecek’ lainnya. Ekonomi kerakyatan juga tidak anti modal asing, konglomerasi, dan pemilik kapital nan besar. Ekonomi kerakyatan bisa menjadi besar, membentuk konglomerasi, dan bersaing di arena global. Koperasi di Belgia, Swedia, Denmark, dan Selandia Baru telah menjadi konglomerat tanpa harus kehilangan jatidirinya sebagai bangun ekonomi yang berorientasi profit dan sosial.

Membangun ekonomi kerakyatan nan kuat tentu tidak bisa melepaskan diri dari kaidah-kaidah bisnis modern seperti layaknya perusahaan lainnya. Instrumen yang membuat perusahaan bertumbuh ada tiga, yaitu strategi, finansial, dan manajemen. Tiga instrumen ini harus dikuasai dengan paripurna oleh pelaku ekonomi kerakyatan daripada dilindungi dengan segepok undang-
undang yang justru sering membuat lamban gerak ekonomi kerakyatan.

Menyoal instrumen pertama bernama strategi pada banyak kasus sudah diterapkan dengan baik oleh pelaku ekonomi kerakyatan. Ekonomi kerakyatan melakukan aliansi fungsional dengan pelaku ekonomi swasta besar (konglomerasi) dan BUMN dengan membentuk jaringan vertikal guna saling menghidupi dalam menghadapi persaingan global.

Menarik bila kita melihat contoh aliansi fungsional antara PT Garudafood atau PT Sidomuncul dengan ribuan petani di Lampung dan Jawa. Sebagian dari ribuan petani ini langsung menyetorkan kacangnya ke PT Garudafood atau PT Sidomuncul. Sebagian lagi membentuk semacam koperasi sebagai wadah yang berhubungan dengan pihak perusahaan.

Aliansi fungsional yang tercipta pada PT Garudafood dan PT Sidomuncul membawa akibat yang sungguh spektakuler. Individu petani atau industri kecil dan menengah yang menjadi pemasok bertumbuh pesat, sedang industri besar melanglang buana, mengepakkan sayap memasuki pasar global. Tanpa harus mempertentangkan industri besar versus industri kecil/menengah, dan tanpa harus terjebak pada retorika nan muluk-muluk, PT Garudafood dan PT Sidomuncul beserta pemasoknya sudah menjalankan ekonomi kerakyatan.

Membahas instrumen kedua, menyoal finansial ternyata menunjukkan hal yang menggembirakan. Lembaga-lembaga keuangan prestisius berlomba-lomba
mendirikan divisi mikro guna menjangkau para pelaku ekonomi kerakyatan sampai ke pelosok. Pada masa lalu, hanya BRI yang memproklamirkan diri sebagai bank penyalur kredit mikro. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Bank Danamon, Bank BTPN, dan Bank Mega merupakan tiga bank yang dalam waktu singkat mendirikan ribuan gerai mikro yang tersebar di seluruh
pelosok negeri.

Bertumbuhnya lembaga keuangan mikro yang dikelola perbankan dan lembaga keuangan modern membawa dampak positif bagi ekonomi kerakyatan. Di samping menyalurkan kredit, perbankan dan lembaga keuangan modern itu juga memberikan mentoring cara mengelola keuangan yang tepat sasaran.

Instrumen ketiga berjejuluk manajemen lebih bersifat internal. Intinya, apa pun jenis usaha dari ekonomi kerakyatan, menggunakan kaidah-kaidah manajemen modern akan menolong guna menjalankan bisnis secara efektif dan efisien. Mempraktikkan manajemen modern juga berbanding lurus dengan pengelolaan keuangan secara benar dan menjalankan strategi dengan tepat.

Credit Union
Mencermati Sajian Utama Majalah HIDUP bertajuk ”CU (Credit Union) Beraset Rp 20 Miliar” sungguh menggembirakan. Salah satu CU bernama Bina Seroja di Jakarta mampu menggaet 1.546 anggota dengan aset lebih dari Rp 20 miliar. Produknya pun inovatif, tidak sekadar tempat simpan pinjam belaka.

Sayang, CU belum mengakar di kalangan umat. Bahkan, umat masih belum percaya kepada CU, karena mereka masih melihatnya sebagai gerakan koperasi kecil-kecilan (Pastor A. Sumarwan SJ). Inilah tantangan utama bagi pengelola CU dan juga Gereja untuk semakin memasyarakatkan CU atau bentuk usaha ekonomi kerakyatan lainnya.

Bagaimana kiat agar masyarakat (umat) semakin percaya dan bergabung dengan CU atau usaha ekonomi kerakyatan lainnya yang dikelola Gereja atau
awam? Tak salah, secara internal CU atau usaha ekonomi kerakyatan lainnya harus memperkuat tiga instrumen, yaitu strategi, finansial, dan manajemen. Bila tiga instrumen tersebut dikuasai dan dipraktikkan, terbuka pintu lebar-lebar bagi umat atau masyarakat untuk bergabung di dalamnya. Selamat mengobarkan bara api ekonomi kerakyatan, sehingga mampu menerangi umat
dan masyarakat.

A.M. Lilik Agung




Kunjungan: 571
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com