Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Yesus Menikahi Maria Magdalena? - Hidup Katolik

Yesus Menikahi Maria Magdalena?

Kamis, 17 Januari 2013 14:15 WIB
Yesus Menikahi Maria Magdalena?
[ansadagroup.com]
Yesus bersama Maria Magdalena

HIDUPKATOLIK.com - Benarkah Yesus diam-diam menikah denganMaria Magdalena? Seorang sahabat mengatakan bahwa pernikahan Yesus itu ditulis dalam salah satu Injil apokrif. Bagaimana pandangan Romo?

Stefanus Jehaut, Sidoarjo

Pertama, memang ada sebuah Injil apokrif, yaitu Injil Filipus yang menulis bahwa Yesus menikah denganMaria Magdalena. Di samping itu, ada teks-teks Gnostik yang memuat hal yang sama. Menurut penelitian para sarjana, Injil Filipus dan tulisan-tulisan Gnostik itu berasal dari abad II dan III, tetapi dipaksakan seolah berasal dari abad I. Pemaksaan ini termasuk dalam usaha memberikan ”bukti” akan kebenaranyang dipaksakan itu (bdk Carl E. Olson-Sandra Miesel, The Da Vinci Hoax).

Kata kunci dari penafsiran ini ialah penafsiran ungkapan ”teman Tuhan” (Yun: koinonos). Frase ini ditafsirkan sebagai adanya hubungan suami-istri atau pasangan hidup. Penelitian yang lebih cermat menunjukkan bahwa penafsiran seperti itu tidaklah tepat, sebab kata koinonos mempunyai banyak sekali makna. Pada hakikatnya, makna utamanya ialah seseorang yang bersekutu dengan seseorang dalam sesuatu. Persekutuan ini bisa terjadi dalam hal hidup bersama (Mat 2:14), dalam iman (Flm 1:17), dalam kerja mewartakan Injil (2 Kor 8:23), juga dalam hal bisnis (Luk 5:10). Kata koinonos juga dipakai dalam Mat 23:30, Luk 5:10, 1 Kor 10:20, dan Ibr 10:33 yang menjelaskan relasi persekutuan yang sifatnya non-seksual. Jadi, tidak tepat kalau relasi Yesus dan Maria Magdalena langsung disempitkan pada tafsiran seksual.

Kedua, dalam hidup-Nya, ajaran-ajaran Yesus meenimbulkan banyak pertentangan dan juga iri hati. Karena itu, para ahli Taurat dan orang Farisi, para imam kepala, dan tua-tua bangsa selalu berusaha mencari kelemahan dan menemukan kesalahan Yesus (bdk Mat 21:23; 22:15.23; 34-35). Seandainya Yesus mempunyai ”relasi khusus” dengan Maria Magdalena, tentu para lawan Yesus yang selalu mencari-cari kesalahanYesus itu, tidak akan membiarkan hal itu berlalu begitu saja. Namun, dalam semua tuduhan yang dilontarkan kepada Yesus, tidak ada tuduhan pelanggaran seksual. Bungkamnya kitab-kitab Injil tentang hal ini haruslah ditafsirkan sebagai bukti bersihnya tingkah laku Yesus dalam hal pelanggaran seksual. Di lain pihak, seandainya ada celah ”kesalahan” sedikit saja dalam tindakan Yesus, tentu Yesus tidak akan pernah bisa mengecam dengan sangat keras para ahli Taurat dan orang Farisi (Mat 23:1-36). Kecaman terhadap kemunafikan para ahli Taurat dan orang Farisi menjadi pembuktian secara tidak langsung akan ”kebersihan moral” Yesus.

Ketiga, dalam memberikan ajaran-Nya kepada para murid, Yesus tidak pernah menyodor-nyodorkan diri-Nya sendiri, tetapi pada kenyataannya Dia memberikan diri sebagai teladan dari ajaran yang diberikan-Nya itu. Misalnya, Yesus mengajarkan untuk mengampuni secara sempurna (tujuh puluh kali tujuh kali). Yesus sendiri ketika tergantung di salib, memberikan teladan tindakan mengampuni ini, sekalipun Dia sudah disiksa sedemikian rupa sampai Dia berada di ambang kematian yang mengerikan (Luk 23:34). Maka, kalau Yesus mengajar para murid-Nya untuk memberikan diri secara penuh kepada Allah demi Kerajaan Allah (Mat 19:12), tentu Yesus sendiri akan memberikan teladan dengan pemberian diri-Nya yang penuh kepada Allah. Sikap Yesus yang konsisten dan konsekuen memberikan jaminan tentang hal ini.

Keempat, seandainya memang Yesus itu menikah, maka akan sulit untuk mengatakan bahwa Gereja adalah mempelai Yesus Kristus. Seandainya Maria Magdalena adalah istri Yesus, tentu para murid tidak bisa merujuk Gereja sebagai mempelai Yesus Kristus, sebab kata ”mempelai Yesus” akan lebih lengket dikaitkan dengan Maria Magdalena daripada dengan Gereja. Pada kenyataannya, istilah ”mempelai Yesus” secara cepat sekali sudah digunakan, bahkan oleh para murid Yesus sendiri. Yesus adalah mempelai laki-laki yang telah mengambil Gereja sebagai mempelai perempuan-Nya (bdk Why 19:7; 21:2.9). Hal ini tidak akan mungkin terjadi, seandainya memang benar Maria Magdalena menikah dengan Yesus.

Katekismus menyatakan dengan jelas, ”Bahwa Kristus adalah pengantin pria dari Gereja, telah dinyatakan oleh para nabi, dan Yohanes Pembaptis mengumumkannya. Tuhan sendiri menyebut diri sebagai ”pengantin pria” (Mrk 2:19). Sang Rasul melukiskan Gereja dan setiap umat beriman, yang adalah anggota Tubuh Kristus, sebagai seorang mempelai wanita, yang ia tempatkan sebagai ”tunangan” Kristus Tuhan, supaya menjadi satu roh dengan Dia. Ia adalah pengantin wanita tanpa cacat bagi Anak Domba yang tanpa cacat (KGK 796).

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM




Kunjungan: 4665
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com