Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Tiada Henti Melayani Gereja - Hidup Katolik

Tiada Henti Melayani Gereja

Jumat, 25 Januari 2013 11:45 WIB
Tiada Henti Melayani Gereja
[NN]
Kepuasan iman: A. Tumeri Nainggolan (kiri) melayani umat di Paroki Palipi, Medan

HIDUPKATOLIK.com - Dengan kondisi kesehatan yang tak lagi prima, selayaknya ia sudah pensiun. Namun, pria berusia 73 tahun ini tetap bersemangat melayani Gereja.

”SAYA pernah ingin berhenti dari tugas menggereja. Tetapi, pastor mengatakan, ’Jika Amang (Bapak) tidak aktif lagi, Amang akan cepat mati’,” sitir A. Tumeri Nainggolan. Itulah A. Tumeri Nainggolan, Ketua Komisi Liturgi Paroki St Fransiskus Asisi, Palipi, Keuskupan Agung Medan (KAM). Meski rambutnya sudah memutih, kegiatannya menggereja tak kunjung kendor. ”Ada kegembiraan jika terlibat,” ujarnya.

Namun, usia tidak bisa berdusta. Kekuatan A. Tumeri saat ini tentu sudah berkurang. ”Pastor meminta saya melayani stasi-stasi yang dekat saja. Stasi- stasi yang lebih jauh diberikan kepada orang muda,” sambung kakek 34 cucu ini.

Ikatan batin A. Tumeri dengan Gereja Katolik telah begitu dalam. Baginya, berada di lingkungan Gereja adalah ”hidup itu sendiri”. Ia tidak pernah menolak menjalankan tugas pelayanan: mengunjungi stasi, memberi katekese,
melatih bernyanyi, dan sebagainya.

Kerja keras
A. Tumeri adalah satu dari sedikit tokoh Katolik yang tetap eksis di Paroki Palipi hingga masa senjanya. Inilah pencapaian yang tidak bisa dipandang enteng bagi sosok yang hanya tamat Sekolah Rakyat dan tidak memiliki akar keluarga Katolik.

Karena tidak mengerti apa-apa tentang Gereja Katolik, A. Tumeri pun belajar sungguh-sungguh dari nol. Dengan gigih, ia mengikuti berbagai kursus dan lokakarya yang diselenggarakan oleh Keuskupan Agung Medan. Di antaranya, lokakarya Panita Kateketik (Pankat), Kursus Kitab Suci (KKS), dan lokakarya Komisi Liturgi (Komlit).

”Kadang selama dua minggu saya mengikuti kursus di Pusat Pembinaan Umat (PPU) Pematang Siantar, kadang satu minggu. Begitulah saya tekuni kursus tanpa mengharapkan imbalan dari paroki. Karena istri selalu mendukung, saya makin bersemangat,” jelasnya.

Ketika KAM mengeluarkan Parhaladoon ni Hatani Debata (PHD) atau Tata Perayaan Ibadat dan Buku Ende dohot Tangiang Katolik (BETK) atau Buku Lagu dan Doa Katolik dalam bahasa Toba pada awal 1990, A. Tumeri dipilih menjadi Ketua Seksi Liturgi Paroki Palipi. Ia pun bekerja keras untuk menyosialisasikan tata ibadat yang benar kepada umat.

Langkah pertama yang ia lakukan adalah melatih vorhanger (ketua stasi) se-Paroki Palipi dalam membawakan PHD. Ia dibantu Komlit KAM. Ia juga harus mengunjungi seluruh stasi (30-an stasi), termasuk stasistasi di Paroki Onan Runggu, tetangga Paroki Palipi yang cukup lama tidak memiliki pastor paroki.

”Sampai sekarang, meski sudah tua saya masih mengurus liturgi di Paroki Palipi,” kata pria yang pernah mengenyam bangku SMP selama dua bulan ini. Karena menguasai not dan pernah menjadi peserta lokakarya Komlit KAM untuk menggubah lagu-lagu Gereja, ia menjadi pengurus liturgi di parokinya.

Dari Parmalim
Pengabdian itu luar biasa. A. Tumeri berasal dari keluarga Parmalim, yakni agama tradisional etnis Batak Toba di Sumatera Utara. Saat Stasi Siupar dibuka, tahun 1961, ayah 12 anak ini masih menganut Parmalin. Namun akhirnya, ia mantap menjadi anggota Gereja Katolik.

”Tahun 1965, dua pengurus Gereja Katolik J.H. Pandiangan dan J.I.A. Situmorang datang ke rumah kami. Mereka mengajak saya masuk Katolik. Saya tidak langsung menanggapinya. Setahun kemudian, saya
baru menjadi Katolik,” kenang A. Tumeri.

Proses berpikir yang cukup lama untuk masuk Katolik, bukan tanpa maksud. Baginya, komitmen amat dibutuhkan dalam menggereja. A. Tumeri telah membuktikannya. Ia menjadi warga Gereja Katolik yang taat dan rajin sejak ia memutuskan mengikuti Yesus Kristus.

Jatuh sakit

Kerajinan A. Tumeri berbuah tanggung jawab. Ia dipilih menjadi vorhanger (pemimpin) setelah Vorhanger Stasi Siupar mundur tanpa alasan pada awal 1976. ”Sebenarnya saya menolak. Saya belum mendalami kekatolikan dan Tata Perayaan Ibadat Sabda,” katanya.

Meski menolak, umat menghendakinya sebagai pemimpin. Mereka menyampaikan hal itu kepada Pastor Paroki Van Reeyn OFMCap. Tanpa banyak berpikir, Pastor Van Reeyn setuju dan melantiknya pada 2 Februari 1967. Sejak 1967 hingga 1992, A. Tumeri memimpin Stasi Siupar.

Perjalanan A. Tumeri sebagai umat Katolik dan pemimpin umat mendapat ujian berat. Ia terkena sakit paru-paru pada 1971. ”Kata orang, saya akan mati karena penyakit itu. Tapi, kepercayaan saya tidak berkurang. Saya tetap memimpin ibadat mingguan,” katanya yakin.

Dalam kondisi harus berobat secara intensif, A. Tumeri masih sanggup mendampingi Pastor Watterus Radboad OFMCap mengunjungi orang-orang sakit seraya membawa hosti di wilayah Paroki Palipi. Ia menjalani semua itu dengan penuh pengorbanan dan tanggung jawab.

Kesulitan ekonomi membuat pengobatan A. Tumeri tidak berjalan sempurna. Penyakitnya pun sempat kambuh. Ia baru dinyatakan sembuh total melalui hasil rongent, tahun 1984. Dua dekade kemudian, A. Tumeri menderita hernia karena kerap bekerja terlalu keras. Ia harus menjalani operasi.

Buah berlimpah
A. Tumeri melakukan semua itu demi pengabdian atau tanpa pamrih. Bahkan, ia tidak berkeberatan membawa sendiri bekal dari rumahnya bila ia harus mengikuti pertemuan di paroki. Kesulitan ekonomi keluarga pun tidak mampu membuatnya menarik diri dari tugas-tugas gerejani.

Tidak terlontar keluhan dari A. Tumeri. Baginya, kaya iman jauh lebih luhur daripada kaya harta. Iman menjadi sumber kebahagiaan yang tiada tara. Dengan iman pula, ia mendapat buah berlimpah dalam kehidupan keluarganya, dengan kemajuan putra dan putrinya.

”Dulu, kami merupakan keluarga paling miskin di wilayah ini. Ada orang tega menipu keluarga kami. Ditambah lagi saya sakit, orang semakin yakin kalau anak-anak kami tidak akan mungkin bersekolah. Tapi sekarang, kami dianggap paling kaya,” ceritanya.

Tentu yang dimaksud bukan kaya harta. A. Tumeri memiliki kebanggaan tersendiri. Satu putranya menjadi imam, yaitu Pastor Ambrosius Nainggolan OFMCap. Dua putrinya menjadi biarawati, yaitu Sr Yosefin Nainggolan OSF dan Sr Ambrosia Nainggolan KYM.

Memang tidak semua putra dan putri A. Tumeri dan L. br. Sinaga berhasil menggapai pendidikan tinggi. Hanya beberapa anak saja. Namun, semuanya ’si oloi poda’ (menerima nasihat). Merekalah buah-buah dari ketekunan A. Tumeri yang tak pernah lelah aktif di Gereja.

Sabda Bahagia
A. Tumeri mengatakan, buah-buah yang didapat selama 33 tahun menjadi aktivis Gereja bukan prestasinya. Janji Yesus melalui Sabda Bahagia dalam Injil Matius benar-benar menjadi kenyataan. Sabda Bahagia ini secara khusus menjadi pedoman hidup A. Tumeri.

”Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat 5:3). Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan (Mat 5:6),” sitirnya. Baginya, kepuasan iman adalah segalanya.

Marulam Ng.




Kunjungan: 1289
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com