Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


PELITA: Wadah Siswa Katolik SMA 3 Semarang - Hidup Katolik

PELITA: Wadah Siswa Katolik SMA 3 Semarang

Senin, 11 Februari 2013 13:57 WIB
PELITA: Wadah Siswa Katolik SMA 3 Semarang
[Alb. Goentoer Tjahjadi]
Belajar organisasi: Edo, Oka, dan Willy tengah berdiskusi merencanakan kegiatan PELITA

HIDUPKATOLIK.com - Tak ada yang menghendaki menjadi minoritas. Bila keadaan memaksa, itu mesti diterima dengan lapang dada. Minoritas tidak harus membuat minder. Minoritas justru menjadi tantangan untuk melakukan hal positif.

Keyakinan inilah yang coba dihidupi Pelajar Katolik SMA 3 Semarang (PELITA). Menurut F. Ning Sadmidatun, guru SMA 3 sejak 1978, PELITA lahir sekitar 1988. Awalnya, PELITA adalah sub seksi rohani Katolik yang menjadi bagian dari kegiatan OSIS.

Jumlah anggota PELITA tergantung jumlah siswa beragama Katolik yang diterima di SMA 3 Semarang. Mantan pendamping PELITA, Ning Sadmidatun, mengungkapkan, “Pernah hanya sembilan orang. Ini terjadi, karena sekolah Katolik di Semarang banyak. Saat ini, anggota PELITA berjumlah 57 orang.”

Rutinitas kegiatan PELITA setiap tahun meliputi retret, ziarah, natalan, paskahan, dan Misa tiap Jumat pertama. “Retret itu dulu ada, karena ada pesantren kilat. Saya diminta untuk bikin acara seperti pesantren kilat,” tutur Ning. Kemudian, kegiatan retret ini diteruskan menjadi retret tingkat kotamadya untuk sekolah negeri dan swasta non Katolik. Namun, karena siswa SMA 3 membutuhkan retret tersendiri, maka kegiatan ini dijadikan program tetap SMA 3.

Selain retret, PELITA juga mengadakan Natal bersama. Kegiatan ini selalu diselenggarakan bersama-sama dengan sub seksi rohani Kristen dan identik dengan perayaan. Karena itu, pembiayaan acara ini harus diupayakan sendiri. “Supaya tidak hanya krida lumahing asta (meminta-minta, Red),” tandas Ning. Maka sejak awal PELITA berupaya mencari uang sendiri dengan cara berjualan makanan dari kelas ke kelas. Sifat meriahnya acara ini, menurut Sadmidatun, bukan karena banyaknya hidangan atau mewahnya perayaan, tetapi dari hati yang mau bersyukur.

Berbeda dengan perayaan Natal, kegiatan Paskah bersama diwujudkan dalam bentuk bakti sosial untuk masyarakat sekitar. Berkunjung ke panti cacat ganda atau panti asuhan, menanam pohon, dan membagi nasi bungkus kepada tukang becak dan pekerja bangunan adalah beberapa contoh kegiatan yang pernah dilakukan PELITA.

Kegiatan lain ialah Misa Jumat Pertama, jika ada imam yang mau memimpin Misa. Karena itu, anggota PELITA dituntut aktif mencari imam. Mereka juga diberi tanggung jawab untuk mempersiapkan Misa secara bergantian. Peralatan Misa biasanya dipinjam dari Gereja St Perawan Maria Ratu Rosario Suci Katedral Semarang.

Tempat berkumpul
Sebagai minoritas, ada banyak tantangan yang dihadapi PELITA. Selain sulit mencari imam untuk memimpin Misa, izin dari sekolah juga relatif tidak mudah diperoleh. Tak jarang, kelas yang harusnya untuk kegiatan Katolik atau Kristen tidak bisa dipakai karena digunakan untuk kegiatan lain, sehingga mereka harus mencari kelas yang lain.

Membuat jadwal kegiatan juga bukan hal yang gampang. “Kita sudah merencanakan, tapi bila tiba-tiba sekolah ada kegiatan yang waktunya bersamaan, jadwal harus diubah,” ungkap ketua PELITA, Bonifasius Edo Sudigdo.

Meski minoritas, akses informasi Katolik dan segala sesuatu yang terkait dengan kehidupan menggereja bisa sampai dengan lancar dan menjadi wawasan baru bagi anggota PELITA. Hal ini karena banyak dari anggota yang aktif dalam Forum Komunikasi Pelajar Katolik (FKPK). Informasi juga didapat dari sosial media yang berkembang dewasa ini.

Berkaitan dengan akses mendapatkan pelajaran agama Katolik yang berkualitas dan bermutu, anggota PELITA tidak mengalami kesulitan. Mereka mendapat pelajaran agama Katolik dua kali seminggu dengan dua guru pengajar yang bukan guru tetap. Hal ini dirasa membantu bagi perkembangan iman mereka.

Mengenai kepengurusan, Bonifasius Edo Sudigdo, atau yang akrab disapa Edo, mengungkapkan bahwa kepengurusan berganti setiap tahun. Pemilihan dilakukan dalam retret yang diatur sendiri oleh PELITA. Mekanismenya, anggota mengajukan enam sampai tujuh nama, kemudian mereka ditanya satu per satu. Setelah itu, dari jumlah ini dipilih tiga orang untuk menyampaikan visi-misi dan program kegiatan. Proses selanjutnya adalah voting oleh anggota dan para alumni untuk menentukan siapa yang berhak menjadi ketua. Ketua terpilih akan membentuk kepengurusan baru. “Biasanya yang jadi pengurus adalah mereka yang sudah duduk di kelas XI,” terang Edo.

Mengenai pergaulan, Edo tidak menghadapi masalah. “Biasa saja. Teman-teman bisa menerima dan tidak ada pagar yang membatasi. Cuma kalau pas ada acara besar Islam di sini, kita bingung mau ngapain. Akhirnya ya hanya bisa ngumpul bareng teman-teman PELITA,” katanya.

Senada dengan Edo, Merkurius Oka yang menjabat sebagai Wakil Ketua I menegaskan bahwa mereka juga mendapatkan arahan terkait sikap yang harus mereka tunjukkan. “Intinya, jangan berbuat hal yang negatif di hadapan teman-teman, apalagi guru. “Saya percaya teman-teman memiliki iman yang kuat,” tegasnya sambil tersenyum.

Willybrordus B.S., yang saat ini dipercaya menjadi Wakil Ketua II mengamini pernyataan Oka. “Mayoritas teman-teman PELITA imannya kuat, karena sudah ada wadah sehingga bisa mengontrol dan saling mengingatkan. Yang penting adalah saling menghormati,” terangnya.

Edo, Oka, dan Willy sepakat bahwa bagi mereka PELITA sudah seperti keluarga sendiri. PELITA menjadi tempat mereka berkumpul bersama sebagai saudara seiman untuk saling melengkapi satu sama lain. PELITA juga menjadi tempat untuk belajar berorganisasi, terutama bidang kerohanian. Mereka yang awalnya kurang aktif di lingkungan dan Gereja, lama-kelamaan juga mau terlibat.

“Lewat PELITA, kita semakin mengerti bahwa ternyata tidak mudah mengurus organisasi. Kita pun berlatih untuk bertanggung jawab,” imbuh Willy. Mereka berharap, PELITA terus ada dan hidup sampai kapan pun. Selain itu, mereka berharap regenerasi juga bisa terus dilaksanakan dengan baik.

Ning Sadmidatun, meski sudah berhenti dari tugasnya mendampingi PELITA dan digantikan oleh Christiati Yuliana, tetap berharap PELITA bisa semakin baik. PELITA harus terus tumbuh dengan aktif melaksanakan semua program kegiatannya. Ia berharap agar PELITA turut memberi warna indah di antara mayoritas yang ada di SMA 3.

Alb. Goentoer Tjahjadi




Kunjungan: 1011
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com