Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Kapitel Internasional - Hidup Katolik
Home » Tajuk

Kapitel Internasional

Minggu, 18 Oktober 2009 16:02 WIB
Kapitel Internasional
[HIDUP/RB Yoga Kuswandono]
Agustinus Rahmat Widiyanto OSC, Provinsial Ordo Salib Suci Indonesia

HIDUPKATOLIK.com - ’Keajaiban Asia Timur’ adalah ilustrasi yang kerap digunakan untuk mengungkapkan loncatan ekonomi negara-negara di Asia Timur (dan Asia Tenggara). Perkembangan data dan angka sepanjang setengah abad terakhir yang ada di kawasan itu memang mengejutkan. Negara-negara yang baru saja merdeka sekitar enam dekade lalu, ketika ditinggalkan para penjajahnya berada dalam kondisi sangat merana. Pemandangan orang kelaparan, tanpa sandang dan papan, terlihat di mana-mana. Kesejahteraan negara-negara tersebut tidak lebih baik dari negara-negara di Afrika pada masanya. Sekarang, negara-negara tersebut sekian kali lipat lebih makmur. Bahkan, kemakmuran beberapa negara semakin sebanding dengan negara-negara penjajahnya.

Apa kunci untuk menerangkan fenomena ini? Apa wisdom yang bisa ditarik untuk Gereja Katolik di Indonesia?

Tidak ada keterangan yang linear dan definitif untuk menjelaskannya. Coba renungkan ini. Pemerintahan yang otoriter dan korupsi juga berlangsung di
Asia. Tetapi, negara-negara tersebut tetap berkembang. Sementara beberapa negara di Afrika yang relatif demokratis dan bersih tetap berjuang menghadapi
ancaman kebangkrutan.

Beberapa ahli mencoba berfilsafat, kunci untuk menjelaskan semuanya itu adalah sikap masyarakatnya. Masyarakat yang berjiwa independen dan otonom, berkombinasi dengan keterbukaan terhadap pengetahuan baru, keluar dari zona nyaman, serta kehendak untuk berkontak dengan masyarakat luar adalah kondisi kuat untuk masuk ke dalam kancah globalisasi.

Gereja Katolik Indonesia memiliki kekuatan dan keunikan. Ini yang sebenarnya lama tidak disadari atau setidaknya kurang disadari. Gereja kita tidak merasakan independensi dan otonomi. Cara beriman dan praktik liturgi umat lebih mengacu pada Gereja asing. Atau pun kalau ada upaya untuk inkulturasi dilakukan dengan setengah hati.

Kemampuan pakar teologi Indonesia tidak usah diragukan. Namun, belum ada yang secara serius mengintegrasikan dengan tantangan lokal. Misalnya, adakah
pakar teologi kita yang membahas secara mendalam Kristologi dalam dialognya dengan Islam di Indonesia? Atau, adakah teolog kita yang menggeluti persoalan Indonesia atas dasar analisis sosial yang solid. Tentu ada cukup banyak upaya dari pakar teologi untuk melakukan kontekstualisasi. Tetapi, sudahkah ini dikerjakan secara serius? Dibuktikan dengan karya-
karya yang mendapat pengakuan komunitas teologi internasional?

Ini menjadi sebagian indikasi yang bisa menerangkan mengapa pemikiran-pemikiran teologi Indonesia tidak mampu berdiri di tengah-tengah khazanah pemikiran teologi dari berbagai negara. Kita memiliki sikap tertutup. Dengan demikian, kita semakin sempit dalam cara memandang realita Gereja Katolik Indonesia. Ketidakmampuan dalam mengekspresikan diri dalam bahasa-bahasa internasional (Inggris, khususnya) bukan pertama-tama ’sebab’, melainkan ’akibat’ ketertutupan kita dalam pergaulan Gereja Katolik Universal. Dimulai dengan sikap kita yang pasif untuk menjalin dialog dan diskusi dengan standar internasional. Meski harus diakui, ini menuntut suatu kapasitas yang harus dilatih sangat panjang dan dipertajam terus-menerus.

Baru saja berlangsung kapitel internasional sebuah kongregasi religius di sebuah kota di negara ini. Sudah barang tentu ini gejala yang positif. Ini sebuah
gejala keberanian dan keterbukaan yang penting.

Namun, yang lebih signifikan adalah mengetahui apa yang ditawarkan oleh pihak tuan rumah. Fasilitas dan akomodasi yang baik tentu saja sangat penting
untuk dipersiapkan. Tetapi, yang lebih penting lagi adalah ide-ide unik dan lokal apa yang hendak ditawarkan dalam forum penting ini.

Terjun ke dalam tuntutan globalisasi bukan sematamata perjuangan untuk mengikuti segala sesuatu yang dilakukan dunia asing. Tidak juga dengan menghadirkan praktik-praktik di negara lain, misalnya, menerapkan atau menjiplak sistem persekolahan di Singapura. Eksperimen ini, selain tidak akan berhasil, tidak ada gunanya, juga keliru serta pantas untuk ditertawakan.

Paradoksnya, globalisasi justru harus ditanggapi dengan lokalisasi secara mendalam. Globalisasi dimulai dengan menarik dan memunculkan segala praktik, kebijaksanaan, dan kecerdasan lokal. Dari sana landasan filosofi universal disatukan. Kompetisi dan perjuangan pada level global hanya akan menjadi kokoh jika dilakukan dengan mengangkat ’benda’ lokal yang diberi landasan standar internasional.

Dengan memahami secara cermat kaidah-kaidah itu, kita bisa menilai secara jernih sejauh manakah sebuah kapitel disebut internasional.

Redaksi




Kunjungan: 530
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com