Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Pastoral Tanjung Selor - Hidup Katolik
Home » Tajuk

Pastoral Tanjung Selor

Rabu, 13 Februari 2013 08:44 WIB
Pastoral Tanjung Selor

HIDUPKATOLIK.com - Pelayanan pastoral Keuskupan Tanjung Selor bisa dilakukan lewat darat, laut, udara, dan air. Artinya, kondisi wilayah keuskupan itu sungguh beragam. Ada yang bisa ditempuh dengan jalan darat, ada pula yang hanya bisa dijangkau dengan jalur sungai, dan ada yang bisa didatangi lewat udara. Beberapa pulau dan pantai harus ditempuh dengan angkutan laut.

Keuskupan yang dibentuk dengan keputusan Paus Yohanes Paulus II tanggal 22 Desember 2001 itu membawahi wilayah Kalimantan Timur bagian utara yang mencakup enam kabupaten, yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia. Lima dari enam kabupaten itu, sekarang merupakan wilayah Provinsi Kalimantan Utara, provinsi terbaru berdasarkan UU No 20 Tahun 2012. Keuskupan Tanjung Selor, yang digembalakan oleh uskup Mgr Yustinus
Harjosusanto MSF, memiliki 14 paroki.

Selain medan yang sulit, Keuskupan Tanjung Selor juga memiliki sejumlah persoalan yang nyaris tak ada padanannya di keuskupan lain. Umat di keuskupan itu boleh dibilang berfluktuasi sangat variatif. Maksudnya, gelombang TKI yang mau masuk maupun yang dideportasi Malaysia silih berganti dan sering terjadi. Mereka langsung menjadi tanggungjawab pelayanan pastoral paroki-paroki dan aktivis dari Keuskupan Tanjung Selor. Daerah perbatasan seperti Paroki Nunukan merupakan pintu gerbang pelintas batas asal Indonesia yang mencari pekerjaan di negeri jiran. Mereka tinggal di wilayah itu, baik menunggu masuk ke Malaysia atau sebelum pulang ke kampung halaman. Selain itu, mereka juga meninggalkan keluarganya di wilayah Indonesia selama TKI bekerja di seberang tapal batas. Maka, wajar bahwa Keuskupan Tanjung Selor memberikan pelayanan pastoral bagi kaum migran, baik pendidikan bagi anak-anak maupun keluarga yang mereka tinggalkan di perbatasan.

Pelayanan pastoral keuskupan juga memberikan perhatian bagi budaya masyarakat yang begitu khas. Adat suku Dayak sungguh berbeda dengan umat yang berdatangan dari NTT, Sulawesi, dan Jawa yang berniat mengadu nasib di negeri jiran. Perbedaan budaya tersebut membuat keuskupan mesti merumuskan fokus pelayanan pastoral tersendiri.

Selain itu, Keuskupan Tanjung Selor juga membawahi daerah-daerah yang kini
sedang diaduk-aduk oleh perusahaan pertambangan. Kalau ditengok dari udara, tampak kubangan raksasa dan aliran lumpur top soil yang digelontor banjir ke sungai-sungai besar. Ternyata, pertambangan bukan hanya merusak lingkungan hidup atau ekosistem wilayah itu. Pertambangan juga merusak tatanan sosial ekonomi rakyat. Yang menikmati kegiatan pertambangan hanya
para pemilik tanah yang mendapat sewa dan perusahaan yang memperoleh kuasa pertambangan. Warga lain, apalagi pendatang, hanya menjadi penonton mengalirnya hasil tambang keluar dari daerah itu.

Gerak pastoral tentu bukan hanya membantu umat yang menjadi korban kegiatan pertambangan. Sektor-sektor pelayanan pastoral seperti penyadaran lingkungan hidup yang rusak atau pemberdayaan ekonomi rakyat yang tak kecipratan berlimpahnya rupiah dari kegiatan pertambangan, mestinya segera dikedepankan. Kalau tidak, bencana kedua akan menimpa Kalimantan. Ketika
hutan dibabat, hanya segelintir elit negeri ini, yakni pemegang HPH yang menikmati. Orang setempat hanya jadi penonton. Kini, kalau kekayaan bumi habis dikuras oleh kuasa pertambangan, masyarakat – termasuk sekitar 33 ribu umat Katolik keuskupan itu – juga akan gigit jari untuk selama-lamanya.

Redaksi




Kunjungan: 1075
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com