Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Semangat Fransiskus dari Asisi - Hidup Katolik

Semangat Fransiskus dari Asisi

Minggu, 25 Oktober 2009 11:51 WIB
Semangat Fransiskus dari Asisi
[NN]
Fransiskus Asisi

HIDUPKATOLIK.com - “Jika ada sepuluh Fransiskus, maka tidak perlu ada sebuah revolusi,” ujar Illich Lenin, seorang tokoh besar komunis.

Seorang biksu India pun berkata, “Kirimlah seorang Fransiskus dari Assisi kepada kami, niscaya akan terdapat jutaan umat Kristen di India.” Fransiskus, itulah Orang Kudus Milenium II, gelar yang diberikan Majalah TIME lewat artikelnya The Most Important People of The Millenium, 31 Desember 1999.

Pada 29 November 1979, Paus Yohanes Paulus II juga menetapkan St Fransiskus Assisi sebagai Pelindung Pelestarian Lingkungan Hidup, sesuai permintaan Organisasi Internasional Planning Environmental and Ecological Institute for Quality of Life.

Paus Yohanes Paulus II juga menggelar pertemuan seluruh pemimpin agama di dunia di Assisi pada 24 Januari 2002.

Penobat dari Assisi
Assisi adalah sebuah kota kecil di daerah Umbria, kaki gunung Subasio. Fransiskus lahir pada tahun 1181 dari keluarga Pietro Bernardone dan Pika. Pada masa mudanya, ia hidup dalam kemewahan dan kelimpahan harta ayahnya. Namun, ia suka menolong orang susah. Ia berjanji tidak akan pernah menolak seseorang yang atas nama Tuhan minta tolong.

Pada umur 20 tahun, Fransiskus bergabung dengan pasukan Kota Assisi menyerang Kota Perugia. Mereka kalah dan dipenjara selama satu tahun. Tetapi, Fransiskus terus menyemangati kawan-kawannya dan mendamaikan mereka yang bertengkar.

Keluar dari penjara, ia sakit keras bahkan hampir mati. Perubahan drastis pun terjadi setelah kesembuhannya. Ia tidak lagi senang dengan cara hidupnya yang hura-hura. Ia mulai mencari-cari apa yang bisa mengisi kekosongan hidupnya.

Suatu malam, Fransiskus bermimpi dan merasa mendapat ilham harus menjadi ksatria. Ia pun siap bergabung dengan pasukan Paus pimpinan Walter dari Brienne yang mau berperang melawan pasukan kaisar Jerman. Ia membeli perlengkapan senjata dan berangkat menuju Italia.

Sesampai di Kota Spoleto, ia terserang malaria. Ia terpaksa harus beristirahat. Saat itulah, ia mendengar suara, “Siapa yang mengganjar lebih baik, majikan atau hamba? Mengapa engkau tinggalkan majikan untuk pergi kepada hamba?” Ia pun tidak melanjutkan perjalanan dan segera kembali ke Assisi.

Itulah Fransiskus, tidak pernah mundur kalau sudah berpendapat harus berbuat ini atau itu. Sesampai di Assisi, ia mulai rajin menjalankan perintah-perintah agama, senang berdoa dan bertapa di gua-gua.

Suatu hari ketika sedang berkuda, ia berjumpa dengan seorang penderita kusta. Biasanya Fransiskus selalu menghindar, meski suka memberi sedekah kepada orang-orang malang itu melalui orang lain.

Kejadian hari itu membuatnya berbeda. Ia turun dari kudanya, memeluk dan mencium orang kusta itu. Sejak itu, ia mulai mengunjungi, bersahabat, merawat, menghibur, memberi makan dan pakaian kepada orang-orang kusta.

Pada tahun 1206, Fransiskus membawa setumpuk kain wol untuk dijual ke Foligno. Ia singgah di gereja kecil San Damiano dan berlutut di depan salib bergaya Bisantin. Saat itu, ia mendengar suara, “Fransiskus, tidakkah kau lihat bahwa rumah-Ku hampir roboh? Pergilah dan perbaikilah!”

Ia bergegas pergi ke Foligno, menjual kain bawaannya dan segera kembali ke Gereja San Damiano. Ia memberikan seluruh uangnya kepada pastor untuk memperbaiki gereja yang sudah tua itu. Ia tidak mau pulang ke rumah. Ia tinggal di pastoran dan mulai meminta-minta bahan bangunan untuk memperbaiki gereja itu.

Ayah Fransiskus sangat marah dan menuntutnya ke pengadilan keuskupan. Ia diminta agar mengembalikan semua uang ayahnya. Tapi Fransiskus bukan hanya mengembalikan uang ayahnya, tetapi juga menanggalkan pakaiannya dan meletakkan pada kaki ayahnya.

Ia berkata: “Hingga sekarang aku menyebut Pietro Bernardone ayahku. Tetapi aku telah mengambil keputusan untuk mengabdi Tuhan. Aku kembalikan kepadanya uang yang menjadi alasan ia amat gusar; juga pakaian yang kupakai ini, menjadi miliknya. Mulai sekarang aku berkata, ‘Bapa kami yang ada di surga’ dan bukan, ‘Bapa Pietro Bernardone’.”

Pada 24 Februari 1209, seperti biasa Fransiskus mengikuti misa. Mendengar bacaan Injil hari itu (Matius bab 10), ia langsung berteriak: “Itulah yang kuingini dengan segenap hati untuk kulaksanakan”.

Ia mau melaksanakan Injil tanpa tawar-menawar atau tafsir-menafsir. Segera ia keluar dari gereja, mencopot sepatunya (dalam Injil dikatakan tidak boleh memakai sepatu), membuka ikat pinggang kulitnya dan menggantinya dengan seutas tali yang dipungut di jalan. Pakaian pertapanya pun ditukar dengan pakaian petani. Ia pun menjelajahi daerah Umbria berbicara tentang Allah, Yesus Kristus, pertobatan dan perdamaian.

Di mana orang bertikai, ia hadir sebagai pendamai dan penyubur kasih persaudaraan. Di Assisi sendiri ia berhasil mendamaikan dan mempersatukan dua golongan yang saling bermusuhan, yaitu bangsawan (mayores) dan warga kota pada umumnya (minores).

Cara hidup Fransiskus itu rupanya menarik beberapa orang dari berbagai lapisan untuk bergabung. Kelompok itu diberi nama Saudara-Saudara Dina (Fratres Minores), sesuai nasihat Yesus bahwa “tak seorang pun boleh menganggap diri besar atau bergelar rabi atau disebut bapa, tetapi kita semua adalah saudara.” Lalu pada 1210, dengan restu Paus Inosensius III, gerakan Fransiskus semakin berkembang.

Saat itu pecah Perang Salib pimpinan Paus melawan kaum Muslim. Fransiskus ingat wejangan Yesus untuk mewartakan Injil sampai ke ujung bumi kepada segala makhluk. Pendapatnya tentang kaum Muslim: “Kepada mereka Injil juga perlu diberikan, bukannya dengan senjata yang membunuh, tetapi dengan perbuatan dan perkataan yang dapat meyakinkan mereka bahwa keselamatan dikaruniakan oleh Yesus Tersalib”.

Maka, pada 1213, ia pergi ke Palestina dan Syria. Tetapi kapalnya karam, hingga terpaksa mendarat di Dalmatia dan kembali ke Italia.

Pada 1219 pasukan Perang Salib mengepung kota pelabuhan Damietta. Mereka terpecah-pecah dan saling berkelahi. Fransiskus datang ke Mesir mendamaikan mereka. Ia pun bertemu Sultan al Malik al-Kamil untuk memberitakan Injil.

Fransiskus mulai menderita sakit mata, perut, ginjal dan sebagainya. Ia menyerahkan kepemimpinan para saudara dina kepada Elias dari Kortona. Ditemani beberapa saudara, ia menyepi ke gunung La Verna di dekat kota Arezzo. Pada September 1224, ketika sedang berdoa, ia mendapat penglihatan dari Yesus yang mulia dalam rupa malaikat Serafin dan terpaku pada kayu salib.

Penglihatan itu mengakibatkan tangan dan lambungnya menampakkan luka-luka Yesus Tersalib. Ia memperoleh stigmata dan makin serupa dengan Yesus. Pada tahun itu juga ia merayakan Natal di Greccio. Ia mengumpulkan orang-orang sekitar, memasang sebuah palungan berjerami di dalam gua dan bayi Yesus diletakkan di atasnya. Inilah awal tradisi pembuatan kandang Natal lengkap dengan keledai dan lembu.

Ketika merasa ajalnya makin mendekat, pada 1226 ia minta diantar pulang ke Assisi dan tinggal di Portiunkula. Saat ajal itu hampir tiba, ia memanggil para saudara untuk mengadakan perjamuan perpisahan, seperti yang dilakukan Yesus menjelang hari wafat-Nya. Ia pun minta pakaiannya ditanggalkan dan dengan telanjang dibaringkan di tanah, seperti Yesus yang telanjang tergantung di salib. Ia memberkati seluruh saudaranya dan menyerahkan nyawanya kepada Tuhan. Seperti Yesus, mungkin ia pun berkata: “Selesailah sudah!”

Semangat Fransiskus
Fransiskus menjadi begitu serupa dengan Yesus. Ia bukan hanya pewarta Injil, tetapi Injil yang hidup. Lewat kata dan perbuatannya, nasihat-nasihat Injili menjadi nyata.

Ia adalah contoh bagi kita dalam menghidupi dan memberitakan Injil. Ia adalah sumber inspirasi bagi kita untuk dialog antaragama, untuk gerakan aksi damai, untuk penghargaan terhadap semua makhluk ciptaan, untuk cinta lingkungan hidup dan untuk bersikap rendah hati. Ia juga teladan bagi kita dalam mawas diri dan memperbarui diri: “Mari kita mulai sekali lagi, sebab sampai sekarang kita belum berbuat apa-apa?”

Surip Stanislaus OFMCap




Kunjungan: 859
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com